Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Menghindari Jabat Tangan dan Salim untuk Cegah Penyebaran COVID-19

Menghindari Jabat Tangan dan Salim untuk Cegah Penyebaran COVID-19

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pada 2 Maret, Presiden RI Joko Widodo mengonfirmasi bahwa COVID-19 telah masuk ke Indonesia dengan ditemukannya dua pasien yang positif. Masyarakat diminta untuk tidak panik dan terus melakukan upaya pencegahan.

Sebagai salah satu cara mencegah COVID-19, banyak ahli kesehatan menyarankan untuk menghindari sentuhan kontak secara langsung dengan orang lain termasuk jabat tangan atau salaman.

Menghindari jabat tangan untuk mencegah COVID-19

bentuk salaman

Seiring merebaknya COVID-19, berbagai langkah pencegahan yang tepat pun terus diperbarui. Semakin banyak pula informasi mengenai virus ini yang mulai terkuak satu persatu.

Salah satu imbauannya adalah tidak berjabat tangan dengan orang yang sedang sakit. Bahkan walaupun kedua pihak sedang sehat, Anda juga sebaiknya menghindari jabat tangan untuk sementara guna mencegah penyebaran COVID-19.

Tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang banyak bekerja dan kerap menyentuh berbagai permukaan. Apalagi jika Anda berjalan-jalan di tempat umum, tidak ada yang bisa memastikan bahwa pegangan tangga atau tombol lift bebas dari kuman, termasuk coronavirus.

Pencegahan ini pernah dijadikan sebuah eksperimen oleh Dr. Mark Sklansky, seorang profesor pediatrik di Sekolah Kedokteran David Geffen, University of California, Los Angeles.

Kebiasaan berjabat tangan yang dilakukan tenaga kesehatan rumah sakit dikhawatirkan dapat menularkan penyakit. Meski telah ada aturan ketat dalam menjaga kebersihan tangan, hanya 40% tenaga kesehatan yang benar-benar mematuhi aturan tersebut dengan baik.

Oleh karenanya, Dr. Slansky melakukan percobaan dengan membuat sebuah tanda bergambar jabatan kedua tangan pada lingkaran yang diberi garis di tengahnya.

Gambar tersebut ditempel di dinding rumah sakit. Area yang ditempeli gambar tersebut tidak memperbolehkan pengunjungnya untuk melakukan salam dengan berjabat tangan.

Meski tidak secara langsung menunjukkan penurunan jumlah orang yang terinfeksi, percobaan selama enam bulan ini setidaknya membuat banyak tenaga kesehatan dan pengunjung rumah sakit mulai menyadari pentingnya menghindari kontak tangan untuk mencegah penyebaran virus dan bakteri.

Hal yang sama juga perlu dilakukan selama menghadapi pandemi COVID-19. Setiap orang dapat berperan aktif mencegah penyebaran COVID-19 cukup dengan disiplin menghindari jabat tangan selama periode ini.

Skema penyebaran COVID-19

jenis batuk

SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 awalnya dianggap sebagai airborne virus yang bisa menyebar di udara. Namun, baru-baru ini WHO menyatakan bahwa penyebaran virus COVID-19 terjadi melalui tetesan cairan tubuh orang yang terinfeksi (droplet).

Umumnya, terdapat dua cara penyebaran, yaitu dari manusia ke manusia atau bisa juga dengan menyentuh benda yang telah terpapar virus di permukaannya.

Pada situasi antar-manusia, virus ditularkan ketika seseorang menghirup droplet dari pasien COVID-19 setelah mereka batuk, bersin atau bernapas. Penularan bisa terjadi ketika seseorang berada di dekat orang yang terinfeksi.

Terkadang, droplet tidak langsung terhirup oleh orang yang sehat, melainkan menempel pada tangan atau permukaan benda. Orang bisa tertular jika menyentuh benda atau berjabat tangan dengan pasien, lalu menyentuh wajah tanpa mencuci tangan lebih dulu.

tips donor darah aman

SARS-CoV-2 memang tidak dapat hidup tanpa sel inang. Akan tetapi, SARS-CoV-2 mampu bertahan pada barang selama beberapa jam hingga lima hari, tergantung jenis material yang ditempelinya. Benda-benda inilah yang sering kali disentuh tanpa sadar.

Pada beberapa kasus, COVID-19 ditularkan bahkan sebelum pasien mengalami gejala. Orang yang berjabat tangan dengan Anda mungkin tak sadar dirinya telah terinfeksi. Ini sebabnya Anda perlu menghindari jabat tangan untuk mencegah tertular COVID-19.

COVID-19 adalah penyakit yang sangat mudah ditularkan, terutama jika virus sudah disebarkan oleh superspreader. Superspreader adalah seseorang yang menginfeksi orang lain dengan jumlah yang banyak melalui kontak sekunder.

Jika biasanya seorang pasien COVID-19 menulari 1-2 orang yang sehat, superspreader bisa mengenai sampai belasan orang. Kini bayangkan apabila seseorang tidak sadar dirinya positif COVID-19, lalu berjabat tangan dengan puluhan orang.

Karena itulah, pemerintah pun akhirnya mengeluarkan imbauan pada masyarakat untuk tidak pergi ke tempat-tempat dengan kasus COVID-19 tinggi sampai wabah mereda. Masyarakat juga diminta menghindari jabat tangan untuk sementara demi mencegah penularan COVID-19.

Salam pengganti jabat tangan

Sumber: iHeartRADIO

Jabat tangan adalah salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang sudah menjadi tradisi sejak lama. Jabat tangan sering dilakukan sebagai penyambutan, sapaan dua orang kala bertemu, dan saat kedua pihak telah mencapai sebuah persetujuan.

Terutama di Indonesia, jabat tangan juga dianggap sebagai tanda hormat dari yang muda terhadap yang lebih tua. Jabat tangan ini diikuti dengan mengecup punggung telapak tangan, biasanya juga kerap disebut ‘salim’ atau ‘salam’.

Dengan adanya kasus pasien COVID-19 belakangan ini, banyak masyarakat yang jadi khawatir akan kemungkinan penularan dari jabat tangan. Di sisi lain, menolak jabatan tangan pun dianggap tidak sopan sehingga hal ini masih terus dilakukan.

Padahal, menghindari jabat tangan untuk mencegah COVID-19 justru bukanlah sesuatu yang buruk. Lagi-lagi, virus dan bakteri bisa tersebar di mana saja, kita tidak pernah tahu pasti risiko apa yang mengintai.

Masih ada cara lain yang bisa dilakukan untuk memberi salam. Saat menyapa orang yang lebih tua ataupun dihormati, Anda dapat membungkukkan tubuh atau melakukan namaste, yaitu mengatupkan kedua tangan di depan dada.

Hal-Hal yang Harus Dilakukan Ketika Merasakan Gejala COVID-19

Sementara saat bertemu dengan teman sebaya, Anda bisa menyapa dengan lambaian tangan. Setelah membungkuk, namaste, atau melambaikan tangan, jangan lupa jaga jarak aman sejauh dua meter selama berinteraksi.

Salam pengganti jabat tangan dan ‘salim’ kini sudah banyak diterapkan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa belum semua orang menyadari pentingnya upaya pencegahan ini.

Jika Anda berada pada situasi di mana tidak mungkin untuk menghindari jabat tangan, pastikan Anda mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah melakukannya untuk mencegah penularan COVID-19. Hindari juga menyentuh area mata, hidung, dan mulut.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). (2020). Center for Disease Control and Prevention. Retrieved 3 March 2020, from https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/about/transmission.html

Handshake Free Zones Target Spread of Germs in The Hospital. (2020). NRP.org. Retrieved 3 March 2020, from https://www.npr.org/sections/health-shots/2017/05/29/529878742/handshake-free-zones-target-spread-of-germs-in-the-hospital

Q&A on coronaviruses (COVID-19). (2020). World Health Organization. Retrieved 3 March 2020, from https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x