Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Dapatkah Pasien Menularkan COVID-19 Setelah Sembuh?

Dapatkah Pasien Menularkan COVID-19 Setelah Sembuh?

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 100 ribu orang di 119 negara di dunia (11/3), dari jumlah tersebut lebih dari 50 persennya sudah dinyatakan pulih. Tapi apakah setelah sembuh mereka masih bisa menularkan COVID-19 ke orang lain? Simak penjelasan berikut.

Dapatkah pasien menularkan COVID-19 setelah mereka sembuh?

Menularkan COVID-19 Setelah Sembuh

Jurnal JAMA menerbitkan sebuah studi terbaru berjudul Positive RT-PCR Test Results in Patients Recovered From COVID-19. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa COVID-19 bisa bertahan dalam tubuh setidaknya dua minggu setelah pasien positif telah pulih.

Studi ini dilakukan dengan mengikuti beberapa pasien positif COVID-19 yang dirawat di Rumah Sakit Zhongnan University di Wuhan dari 1 Januari hingga 15 Februari 2020.

Para pasien dinyatakan pulih setelah gejala mereka sembuh dan setelah dua kali tes (dilakukan secara berturut-turut) menyatakan hasil negatif COVID-19.

Setelah pulih dan selesai menjalani masa karantina rumah sakit, pasien diminta menjalani masa karantina tambahan di rumah selama 5 hari. Mereka juga terus melakukan tes swab throat selama 5 hingga 13 hari di masa pemulihan. Pada tes antara hari ke-5 dan ke-13 ternyata menunjukkan hasil masih positif COVID-19.

“Temuan ini menunjukkan bahwa setidaknya sebagian dari pasien yang pulih masih menjadi pembawa virus (COVID-19),” tulis penelitian itu.

Kasus serupa seperti temuan ini pertama kali dilaporkan terjadi di Jepang. Perempuan berusia 40-an kembali sakit dan positif COVID-19 untuk kedua kalinya. Belum diketahui secara pasti apakah perempuan ini tertular lagi atau tubuh pasien belum sepenuhnya melawan virus dan menimbulkan gejala kembali.

Dikutip Japan Times, ahli virologi dan epidemiologi Rinku General Medical Center Masaya Yamato mengatakan terlalu dini untuk mengambil kesimpulan mengenai infeksi SARS-CoV-2 ini. Ia juga belum bisa mengetahui apakah pasien ini bisa menularkan COVID-19 setelah sembuh.

Hanya saja, Yamato berasumsi bahwa kemungkinan itu adalah virus yang belum sepenuhnya hilang.

“Saya percaya virusnya telah diaktifkan kembali,” kata Yamato. Skenario seperti itu, kata Yamato, kemungkinan terjadi pada pasien yang belum menghasilkan antibodi yang dapat melindungi tubuh terhadap virus.

Pada pasien yang sepenuhnya sehat maka akan tumbuh antibodi dan reaktivasi agaknya tidak mungkin terjadi. Menurut Yamato pasien COVID-19 membutuhkan setidaknya 14 hari untuk menghasilkan antibodiatau lebih lama untuk pasien usia lanjut.

“Pemulihan tidak berarti virusnya hilangitu hanya tidak aktif,” tegasnya.

virus corona di permukaan

Virus tingkatan ringan

Menularkan COVID-19 Setelah Sembuh

Penelitian ini kemungkinan bisa menjadi kabar baik. Dilansir Live Science Krys Johnson Ahli Epidemiologi Temple Public Health University mengatakan kemungkinan besar setelah pasien sembuh tidak terlalu berpotensi menularkan COVID-19. Karena virus yang masih berkeliaran di dalam sistem tubuh ini cenderung merupakan virus yang menjadi respons kekebalan tubuh.

“Jika virus tetap berada di sistem tubuh manusia, maka mereka mungkin tidak dapat terinfeksi ulang,” kata Johnson.

Virolog di Michigan Tech University Ebenezer Tumban mengatakan virus bertahan dalam tubuh seseorang yang positif terpapar adalah kasus yang sering terjadi, bahkan setelah orang tersebut dinyatakan sembuh.

Sebagai contoh, virus Zika dan Ebola diketahui bertahan selama berbulan-bulan setelah pasien pulih.

“Obat yang mereka pakai bisa saja menekan jumlah salinan virus di tubuh pasien. Pada saat itu, tes tidak akan cukup sensitif untuk mendeteksi keberadaan virus,” kata Tumban.

Lebih lanjut Tumban menjelaskan, setelah pengobatan antivirus berakhir, virus mungkin sudah mulai mereplikasi lagi pada tingkatan yang lebih rendah. Tidak akan ada cukup virus untuk menyebabkan kerusakan jaringan, sehingga pasien tidak merasakan gejala. Tapi jumlah virus masih cukup tinggi sehingga tes laboratorium masih bisa menangkap keberadaannya.

Pada tingkatan ini kemungkinan pasien tidak terlalu berpotensi untuk menularkan COVID-19 setelah sembuh. Perlu kontak yang lebih intim untuk menyebarkan virus. Walau begini ahli virus ini mengingatkan untuk tetap berhati-hati terhadap kemungkinan penularannya.

“Mereka harus berhati-hati dalam pengaturan rumah tangga untuk tidak berbagi minuman dan memastikan mereka sering mencuci tangan,” katanya.

Benarkah Coronavirus (COVID-19) Dapat Bertahan di Sepatu dan Pakaian?

Implikasi kekebalan

vaksin novel coronavirus

Saat studi ini dipublikasi, tidak ada satupun dari keluarga pasien yang dinyatakan positif COVID-19. Tapi para peneliti, menekankan bahwa tidak tertularnya keluarga pasien adalah karena semua sampel adalah petugas medis yang paham betul bagaimana pencegahan penularan. Jadi, potensi penularan masih sangat mungkin.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemantauan jangka panjang pasien yang pulih dan kontak mereka adalah penting.

Virus yang bertahan dalam tubuh bisa memperoleh respons imun cukup baik, sehingga bisa memberikan perlindungan terhadap potensi terinfeksi COVID-19 lagi.

Tapi kekebalan itu tidak bertahan secara permanen. Ada kemungkinan COVID-19 bermutasi. Perubahan menjadi versi baru dari virus tersebut bisa saja tidak dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh dan memungkinkan terjadinya paparan.

Ilmuwan belum benar-benar mengenal COVID-19 namun penelitian soal virus ini masih terus berkembang.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Rodrigues Guedes, T., Dantas de Oliveira, N., Martins Holanda, A., Albuquerque Reis, M., Patrocínio da Silva, C., Rocha e Silva, B., de Camargo Cancela, M. and Bezerra de Souza, D., 2018. Body Image of Women Submitted to Breast Cancer Treatment. Asian pacific journal of cancer prevention, [online] Available at: <http://journal.waocp.org> [Accessed 9 March 2020].
  • https://www.japantimes.co.jp/news/2020/02/28/national/coronavirus-reinfection/#.XmiXrKgzY2w
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 30/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x