WHO Mengonfirmasi Virus COVID-19 Bertahan di Udara (Airborne)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

COVID-19 menular melalui droplet atau tetesan air liur. Biasanya terjadi ketika pasien positif bersin atau batuk dan memercikan cairan yang mengandung virus. Penyebaran COVID-19 tidak terjadi melalui airborne (udara), tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa percikan air liur pasien positif bisa bertahan di udara dalam beberapa kondisi. 

Pada Kamis (9/7), organisasi kesehatan dunia (WHO) resmi mengakui bukti-bukti penelitian yang menunjukkan penularan virus corona  penyebab COVID-19 bisa terjadi melalui udara. 

Pengakuan ini merupakan respons dari surat terbuka yang disampaikan oleh 239 ilmuwan dari 30 negara. Para ilmuwan mendesak WHO meninjau penelitian dan merevisi rekomendasi protokol pencegahan penularan COVID-19 di masyarakat sesuai bukti baru tersebut.

Bukti droplet pasien COVID-19 bisa bertahan di udara dan menular

COVID-19 bertahan di udara

Diskusi tentang potensi penularan COVID-19 melalui udara telah berlangsung berbulan-bulan. Salah satu bukti dipublikasi di jurnal preprint medRxiv, menunjukkan COVID-19 bisa bertahan di udara selama tiga jam dalam bentuk aerosol. Virus dalam bentuk aerosol tersebut bisa terhirup dan membuat seseorang tertular.

Aerosol adalah partikel halus dan bisa melayang di udara. Contoh cairan yang berbentuk aerosol adalah kabut. Ia bisa bertahan melayang di udara berjam-jam dan bisa terhirup

Sebelumnya diketahui, COVID-19 menular melalui percikan air liur atau droplet yang keluar saat orang yang telah terinfeksi batuk, bersin, atau bicara. Karena percikan air liur itu berat maka ia hanya bisa mengudara beberapa detik sebelum jatuh ke permukaan karena tertarik gaya gravitasi. Makanya salah satu protokol pencegahannya adalah untuk menjaga jarak aman sekitar 2 meter.

Namun aerosol adalah keadaan fisik yang berbeda dengan droplet. Virus dalam bentuk aerosol bisa bertahan di udara dalam waktu lama dan berpotensi bergerak melintasi jarak jauh. Misalnya menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Bagaimana droplet bisa menyebar secara aerosol atau airborne?

COVID-19 bertahan di udara

Droplet pasien COVID-19 bisa berubah bentuk menjadi aerosol salah satunya saat dokter melakukan pemasangan alat bantu pernapasan (ventilator) pada pasien gagal napas.

Dalam proses pemasangan alat tersebut cairan pernafasan pasien bisa berubah bentuk menjadi aerosol dan mengudara.

“Ketika melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol, ada kemungkinan untuk terjadinya aerosolisasi atau pembentukan aerosol dari droplet pasien,” kata dr. Maria Van Kerkhove, kepala unit penyakit dan zoonosis WHO.

Pada tahap ini peringatan WHO hanya tertuju pada petugas medis, terutama mereka yang menangani pasien COVID-19 secara langsung.

Teori terbaru mengatakan virus dalam bentuk aerosol ini juga bisa terbentuk saat menguap, bicara, dan bernafas normal. Namun WHO masih mencari tahu seberapa besar kemungkinan aerosolisasi yang dikeluarkan melalui cara ini.

Dengan pengakuan dari organisasi kesehatan dunia terhadap bukti baru ini, protokol pencegahan penularan COVID-19 melalui transmisi udara harus diaplikasikan juga di kalangan masyarakat umum.

Di lingkungan masyarakat, penularan COVID-19 melalui udara ditakutkan bisa terjadi di ruangan dengan sirkulasi udara yang buruk, ruangan padat dan sesak seperti dalam kendaraan umum.

WHO melakukan sedikit revisi dalam rekomendasi pencegahan yang dituliskan WHO di website resminya. Dalam pedoman barunya, WHO menyebut beberapa area yang rentan terjadi penularan melalui udara yakni, kelab malam, tempat ibadah, tempat kerja yang banyak orang berbicara atau teriak, tempat latihan paduan suara, dan tempat fitnes.

Protokol pencegahannya masih sama yakni seperti jaga jarak, menggunakan masker, dan sering mencuci tangan.

coronavirus dan perokok

Studi awal yang menunjukkan virus corona bisa bertahan di udara

fakta novel coronavirus

Sebelum dipublikasinya bukti droplet bisa berubah bentuk menjadi aerosol. Penelitian lainya juga dilakukan peneliti di National Centre for Infectious Diseases (NCID) dan DSO National Laboratories.

Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of the American Medical Association (JAMA), para ahli ini meneliti ruangan isolasi tempat merawat pasien positif COVID-19. 

Penelitian ini sebetulnya lebih berfokus pada pengetesan peralatan-peralatan yang digunakan oleh pasien. Tapi mereka juga melakukan tes udara dan mengambil sampel dari permukaan saluran udara.

Pada semua sampel udara yang diambil hasilnya negatif. Namun, tes sampel usapan yang diambil dari ventilasi udara menunjukkan hasil positif. Ini menunjukkan bahwa mikro-droplet atau tetesan air liur yang sangat kecil dapat dibawa oleh udara dan menempel di benda-benda seperti ventilasi.

Para ilmuwan saat ini secara khusus sedang mencari tahu bagaimana kelembaban, suhu, dan cahaya matahari dapat mempengaruhi lama virus bisa bertahan di permukaan benda.

Robert Redfield direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), bulan lalu mengatakan lembaganya sedang melakukan studi untuk mengetahui berapa lama COVID-19 bisa bertahan. Khususnya berapa lama virus tersebut bisa bertahan di permukaan benda.

Mata Merah dan Berair: Gejala Coronavirus COVID-19 yang Jarang Diketahui

Menurutnya, pada tembaga dan baja virus ini kira-kira bertahan dalam waktu dua jam. Pada permukaan lain seperti kardus atau plastik akan relatif lebih lama. Namun mereka belum mengetahui bagaimana dengan yang tertahan di udara. 

Redfield menambahkan infeksi dari kontak dengan permukaan benda memiliki potensi lebih besar dari pada droplet yang berada di udara.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit