Studi: Pasien Bisa Positif COVID-19 Meski Tak Ada Gejala dan Lolos Karantina

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Peneliti Jerman mengungkap screening berbasis tanda dan gejala tidak efektif dalam mendeteksi infeksi COVID-19. Ada beberapa pasien yang positif Covid-19 meski tak  menunjukkan ada gejala. 

Dalam penelitian New England Journal of Medicine, para peneliti Jerman membeberkan satu fakta bahwa bisa saja orang yang tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi COVID-19 seperti batuk dan demam tetap positif terinfeksi. 

Laporan tersebut berdasarkan pengecekan pada 126 orang warga negara Jerman yang saat itu baru saja dievakuasi dari Wuhan ke Frankfurt, Jerman.

Dua warga Jerman positif COVID-19 meski tak menunjukkan ada gejala

positif covid-19 meski tak ada gejalaPada awal Februari, Sabtu (1/2) pemerintah Jerman menjemput 126 warganya dari Wuhan, Tiongkok. Mereka dievakuasi dan diterbangkan ke Frankfurt setelah lolos melewati rangkaian screening atau pemeriksaan.

Dari 126 orang tersebut, dua orang yang tampak sehat dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 setelah melewati masa karantina selama dua minggu dan tak menunjukkan ada gejala apapun. 

Dua orang ini diketahui positif terinfeksi COVID-19 meski tak menunjukkan ada gejala setelah semua orang yang dievakuasi melakukan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan laboratorium ini dilakukan dengan metode Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Semua menjalani tes, tak terkecuali mereka yang bebas dari gejala sakit seperti demam, kelelahan, sakit tenggorokan, batuk, pilek, sakit otot, dan diare. 

RT-PCR adalah pemeriksaan untuk menganalisis ada tidaknya virus dalam sampel yang diteliti, seperti analisis ekspresi gen, penentuan jumlah virus, deteksi organisme yang mengalami mutasi genetik. Pemeriksaan ini diketahui memerlukan peralatan dan reagen yang mahal serta pemahaman teknik yang benar untuk hasil yang akurat.

Untuk diketahui, pemeriksaan sampel dengan metode RT-PCR ini tidak dilakukan pada 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan. 238 Orang ini hanya melewati masa inkubasi dikarantina selama 14 hari. 

Selama masa karantina di Natuna itu, secara berkala dilakukan pengecekan tanda dan gejala pada 238 orang ini dan kemudian dinyatakan bersih dari COVID-19.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,012,350

Confirmed

820,356

Recovered

28,468

Death
Distribution Map

Bagaimana dua orang terdeteksi positif COVID-19?

wni terinfeksi coronavirus singapura

Selama penerbangan itu, ada 10 penumpang yang diisolasi. Mereka diisolasi di tiga ruangan berbeda, rinciannya sebagai berikut :

  • Enam orang diisolasi karena menunjukkan gejala infeksi COVID-19, yakni batuk, demam, dan sesak nafas. 
  • Dua orang merupakan kerabat dari enam suspect di atas.
  • Dua orang diisolasi karena diketahui telah melakukan kontak dengan pasien positif COVID-19 selama berada di Tiongkok, meski tak menunjukkan ada gejala.

Sesampainya di Frankfurt, 10 penumpang itu langsung dikirim ke Rumah Sakit Universitas Frankfurt. Mereka melakukan serangkaian pemeriksaan dengan swab throat (mengambil sampel mukosa tenggorokan) dan sputum (dahak). Kemudian dilakukan uji lab RT-PCR dari sampel tersebut dan seluruh hasilnya dinyatakan negatif COVID-19.

Sedangkan 116 penumpang lainnya dibawa ke lokasi evaluasi kesehatan di Bandara Frankfurt. Mereka juga melakukan rangkaian pemeriksaan yakni pengukuran suhu tubuh, termasuk wawancara kesehatan seputar gejala diare, batuk, nyeri otot, dan kelelahan.

Satu orang mengalami demam tinggi hingga 39 derajat celcius, dia langsung dipisahkan dari rombongan dan dibawa ke rumah sakit. Tapi kemudian hasil pengecekan sampel mukosa tenggorokan dan dahak menunjukkan negatif COVID-19.

115 Orang yang tersisa dipindahkan ke markas militer untuk melalui masa karantina selama 14 hari. 

mencegah tertular coronavirus

Setelah melewati beberapa tahap pengecekan kesehatan dalam masa karantina, mereka tetap ditawari untuk melakukan pengecekan sampel mukosa tenggorokan untuk diuji laboratorium (RT-PCR). Semua setuju kecuali satu orang.

Dari hasil pengecekan, dua orang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 meski tak menunjukkan ada gejala. Terhadap dua orang ini dilakukan pengecekan ulang dan hasil yang keluar tetap menandakan positif terpapar.

Padahal dua orang ini dalam keadaan sehat dan telah melewati satu minggu masa karantina. Dua orang pasien positif COVID-19 tersebut adalah perempuan berusia 44 tahun dan laki-laki berusia 58 tahun. Berita baiknya adalah kedua orang ini tidak menjadi sakit, setelah dibawa ke rumah sakit dan dilakukan pengobatan, salah satu dari mereka hanya mengalami ruam-ruam samar. 

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Berpotensi menginfeksi orang lain

Fakta lainnya adalah sampel mukosa tenggorokan yang diteliti juga tumbuh di piringan laboratorium menunjukkan potensi untuk menginfeksi orang lain.

Dari hasil tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Sebastian Hoehl dari Rumah Sakit Universitas Frankfurt menekankan bahwa proses screening berbasis tanda dan gejala tidak efektif dan mendeteksi COVID-19.

“Kami menemukan bahwa pelepasan virus yang berpotensi menular bisa terjadi pada orang yang tidak demam dan tidak menunjukkan gejala, atau hanya tanda-tanda kecil infeksi,” tulis laporan tersebut.

Dalam laporan tersebut, dr. Sebastian dan kawan-kawan mengingatkan para ahli tetap waspada terhadap penularan asimptomatik COVID-19.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit