Bagaimana COVID-19 Memicu Risiko Stroke pada Orang yang Lebih Muda?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Umumnya, virus corona (COVID-19) menyerang saluran pernapasan hingga menyebabkan gejala berupa batuk, demam, dan sesak napas. Namun, pada kasus tertentu ternyata COVID-19 dapat meningkatkan risiko stroke, terutama pada orang yang lebih muda. Apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi?

COVID-19 picu risiko stroke pada orang lebih muda

Laki-laki mengalami serangan stroke ringan

Sebenarnya, sampai saat ini penyebab mengapa beberapa pasien yang terkena COVID-19 dapat memicu risiko stroke belum diketahui pasti. Sebuah studi yang dimuat di jurnal Neurosurgery pun mencoba meneliti hal tersebut, terutama pada pasien muda yang tidak memiliki faktor risiko stroke.

Para peneliti berpendapat fenomena ini perlu dianalisis karena pasien berusia antara 30-50 tahun mengalami stroke yang biasa dialami pasien berusia lebih dari 70 tahun.

Walaupun cukup terbatas dalam beberapa hal, setidaknya penelitian ini bertujuan agar masyarakat semakin waspada. Pasalnya, banyak orang dewasa dan anak muda yang mungkin tidak menyadari telah terinfeksi COVID-19 dan mengembangkan risiko stroke lebih tinggi.

Studi tersebut mengikutsertakan 14 pasien yang diperiksa terkait masalah stroke. Delapan pasien laki-laki, enam lainnya perempuan. Setengah dari mereka tidak tahu telah terkena COVID-19. Sisanya sedang menjalani perawatan untuk gejala penyakit lain ketika terserang stroke. 

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Hasilnya menunjukkan bahwa pasien bergejala stroke menunda memeriksakan diri ke rumah sakit karena takut terkena virus corona. Akibatnya, peluang stroke dapat diobati pun semakin kecil dan penundaannya juga meningkatkan risiko yang lebih besar. 

Terlebih lagi, 42% dari pasien stroke positif COVID-19 yang mengikuti penelitian ini berusia di bawah 50 tahun. Selain itu, mereka juga mengalami stroke pada pembuluh darah besar, di kedua belahan otak, dan kedua arteri dan vena otak. 

Fenomena ini ternyata cukup langka, terutama pada pasien yang memiliki faktor risiko stroke. Maka dari itu, masyarakat perlu mewaspadai gejala COVID-19 yang dialami agar mendapatkan penanganan yang cepat. 

Penyebab COVID-19 memicu risiko stroke

efek coronavirus covid-19

Risiko stroke yang dialami pasien COVID-19, terutama pada mereka yang masih cukup muda, memerlukan perhatian khusus. Mulai dari apa yang menyebabkan virus penyakit pernapasan ini menimbulkan stroke hingga penanganannya. 

Menurut para peneliti, virus COVID-19 masuk ke tubuh manusia melalui sel protein yang disebut ACE2. Virus corona ini kemudian menempel pada protein tersebut dan menggunakannya sebagai jalur masuk ke dalam sel tempat virus mereplikasi. 

Tidak semua sel memiliki jumlah protein ACE2 yang sama dan protein ini juga menyebar ke sel-sel yang melapisi pembuluh darah, jantung, dan paru-paru. Para peneliti menduga bahwa coronavirus ini mungkin juga mengganggu fungsi normal reseptor, yaitu sel yang berfungsi mengontrol aliran di otak.

Selain gangguan pada reseptor, penyebab paling mungkin lain adalah adanya peradangan pembuluh darah. Ini dapat menyebabkan cedera pada sel yang melapisi lumen tubuh atau endotelium. Akibatnya, penyumbatan pembuluh kecil pun dapat terjadi. 

droplet covid-19

Bagi mereka yang termasuk kelompok berisiko stroke, seperti mengalami hipertensi dan diabetes, sangat mungkin mengalami pembekuan darah secara berlebihan.

Kondisi tersebut dapat muncul karena adanya peradangan yang disebabkan oleh COVID-19. Apabila ini terjadi, risiko serangan stroke ringan atau stroke iskemik pun meningkat.

Penelitian yang dilakukan oleh tim ahli bedah di Thomas Jefferson University tersebut bertujuan mengingatkan tenaga kesehatan dan masyarakat agar lebih berhati-hati. Pasalnya, risiko stroke amat mungkin terjadi pada yang tidak menyadari sudah terkena COVID-19 atau merasa sakit akibat infeksi virus tersebut.

Apa saja yang perlu diperhatikan?

Risiko stroke yang diakibatkan oleh COVID-19 tentu membuat masyarakat semakin khawatir. Maka dari itu, sangat penting untuk menjalani upaya mencegah penularan COVID-19. Mulai dari menggunakan masker hingga mengikuti pedoman social distancing dan menjaga kebersihan tangan. 

Selain itu, rutin berolahraga ketika menjalani karantina di rumah pun juga penting dilakukan. Pola makan sehat, olahraga teratur, dan teratur minum obat tetap menjadi upaya mengurangi risiko stroke terutama di masa pandemi COVID-19.

Terlebih lagi, Anda juga perlu memperhatikan gejala COVID-19 yang berhubungan dengan stroke. Pasien COVID-19 sangat mungkin mengalami gejala yang berkaitan dengan masalah otak dan gejala stroke, seperti:

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Apabila Anda atau anggota rumah merasakan gejala tersebut, sebaiknya segera hubungi ambulans. Terlepas dari COVID-19 dapat memicu risiko stroke, terutama pada anak muda, mereka yang mengalami gejala terkait perlu mendapatkan penanganan yang cepat.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit