Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Teori Kebocoran Laboratorium Masih Dicurigai Sebagai Asal Penyebaran COVID-19

Teori Kebocoran Laboratorium Masih Dicurigai Sebagai Asal Penyebaran COVID-19

Hipotesis asal muasal COVID-19 dari kebocoran laboratorium kembali mendapat banyak perhatian. Padahal beberapa minggu lalu tim investigasi yang terdiri dari peneliti WHO dan peneliti China menegaskan bahwa tidak mungkin virus SARS-CoV-2 berasal dari kebocoran laboratorium di Wuhan.

Belakangan beberapa ilmuwan terkemuka menyerukan opini teori kebocoran laboratorium sangat mungkin terjadi. Bahkan Direktur WHO Tedros Ghebreyesus mengatakan dugaan kebocoran laboratorium tetap membutuhkan investigasi lebih lanjut.

Laboratorium bisa saja bocor tak terduga karena beberapa penyebab, bukan berarti virus ini hasil rekayasa. Hipotesis ini bisa terjadi dengan beberapa kemungkinan skenario. Berikut opini dari beberapa ilmuwan mengenai teori ini.

Perdebatan asal muasal COVID-19 dan kemungkinan kebocoran laboratorium

Kebocoran Laboratorium Masih Dicurigai Sebagai Asal Muasal COVID-19

Sejak awal 2020 sebagian besar ilmuwan mengatakan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 paling mungkin berasal dari alam dan ditularkan dari hewan ke manusia. Hewan yang paling banyak diyakini menyebarkan virus adalah kelelawar dan trenggiling yang dijual bebas di pasar basah Wuhan, China.

Untuk lebih fokus meneliti asal usul COVID-19, WHO membentuk tim investigasi yang terdiri dari berbagai ilmuwan penyakit menular termasuk tim peneliti dari China yang sudah lebih dulu memulai investigasi.

Dalam laporan terakhirnya, tim investigasi melaporkan kemungkinan jalur penularan dari hewan ke manusia dan penularan melalui makanan beku. Mereka merekomendasikan untuk melakukan investigasi lebih lanjut di jalur ini.

Hasil investigasi tersebut mengesampingkan spekulasi adanya kebocoran laboratorium di Wuhan sebagai asal muasal penyebaran virus SARS-CoV-2. Merespons rekomendasi investigasi tersebut, banyak ilmuwan dari Amerika Serikat, Australia, Uni Eropa, dan Jepang yang menyerukan bahwa investigasi lebih dalam juga diperlukan untuk menguji hipotesis adanya kebocoran laboratorium terutama Wuhan Institute of Virology (WIV), kota tempat pertama kali COVID-19 ditemukan.

Dorongan untuk melakukan investigasi lebih lanjut terhadap kemungkinan kebocoran laboratorium juga disampaikan sekelompok ahli virologi dan ahli epidemiologi dalam sebuah surat pernyataan berjudul Investigate the origins of COVID-19 yang dipublikasi di Jurnal Science pada Jumat (14/5/2021).

Para ilmuwan ini juga menegaskan bahwa investigasi harus transparan, objektif, dan independen untuk meminimalkan dampak konflik kepentingan.

Setelah laporan hasil investigasi fase pertama, sampai saat ini WHO belum mengumumkan tahap penyelidikan selanjutnya. Namun China telah meminta agar melanjutkan investigasi asal muasal COVID-19 di negara lain.

Sikap China dan fakta bahwa mereka telah menahan beberapa informasi penting sebelumnya telah memicu kecurigaan akan kebenaran hipotesis kebocoran laboratorium.

Elemen kunci yang mendukung hipotesis kebocoran laboratorium

Kebocoran Laboratorium Masih Dicurigai Sebagai Asal Muasal COVID-19

Teori bahwa asal muasal penyebab COVID-19 bersifat alami didukung data bahwa sebagian besar penyakit menular muncul dari limpahan alam seperti pada HIV, influenza, wabah Ebola, virus corona SARS 2002, dan MERS 2012.

Para ilmuwan juga melihat bahwa genom virus corona SARS-CoV-2 mirip dengan RATG13 yakni virus corona yang pertama kali ditemukan pada kelelawar tapal kuda pada tahun 2013 di Provinsi Yunnan, China.

Tapi kemiripan itu hanya 96% identik, ini menunjukkan bahwa kerabat lebih dekat dari virus yang ditularkan ke manusia masih belum diketahui. Oleh karena itu, masih belum jelas apakah limpahan virus itu langsung ke manusia atau melalui spesies perantara.

“Analisis yang mengatakan bahwa virus berevolusi secara alami semacam itu sebenarnya tidak dapat membedakan antara penularan pertama terjadi di dalam atau di luar laboratorium,” kata Allen Rodrigo, profesor kepala School of Biological Sciences, University of Auckland dalam tulisannya di The Conversation.

Meskipun kebocoran laboratorium tidak pernah menyebabkan epidemi, tapi peristiwa ini beberapa kali terjadi dan menyebabkan wabah kecil.

Jurnal The Nature menuliskan beberapa elemen kunci yang mendukung kecurigaan terhadap hipotesis bahwa COVID-19 berawal dari kebocoran laboratorium.

Beberapa kemungkinan jalur penularan dari laboratorium

WHO Beri Nama Setiap Varian corona virus untuk Cegah Stigma virus untuk Cegah Stigma

Jurnal Nature menyebut, secara teori COVID-19 berasal dari kebocoran laboratorium dalam beberapa cara.

Pertama, para peneliti mungkin telah mengumpulkan sejumlah sampel virus SARS-CoV-2 dari seekor hewan dan menyimpannya di laboratorium untuk dipelajari. Mungkin juga mereka menciptakannya dari hasil rekayasa virus corona.

Dalam skenario ini, seseorang di lab mungkin secara sengaja atau tidak telah terinfeksi virus ini dan kemudian menularkannya ke orang lain di luar lab. Meski belum ada bukti untuk mendukung hipotesis ini, namun juga belum ada bukti yang mematahkan kemungkinan tersebut terjadi.

Beberapa peneliti yang mendukung hipotesis kebocoran laboratorium berpendapat, virus penyebab COVID-19 mengandung fitur yang tidak biasa serta urutan genetik yang dicurigai bahwa virus itu direkayasa oleh manusia.

Argumen lain menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 mungkin berasal dari virus corona yang ditemukan di tambang. Hal itu berdasar pada informasi bahwa pada 2012 dan 2015, peneliti WIV pernah mengumpulkan ratusan sampel virus dari kelelawar di pertambangan yang sudah tak terpakai. Mereka mengumpulkan sampel tersebut setelah beberapa penambang yang bekerja di sana jatuh sakit karena penyakit pernapasan yang belum diketahui.

Peneliti WIV mendeteksi hampir 300 virus corona pada kelelawar dan mendapatkan kurang dari selusin ekstrak genom virus. Namun tidak satu pun dari genom virus tersebut yang dilaporkan sebagai SARS-CoV-2. Selain itu, tahun lalu para peneliti WIV juga melaporkan bahwa sampel darah yang mereka ambil dari para penambang tersebut negatif SARS-CoV-2.

Selama investigasi asal muasal COVID-19 yang dipimpin WHO, para peneliti WIV mengatakan mereka hanya membiakkan tiga virus corona di laboratorium dan tidak terkait dengan virus SARS-CoV-2.

Mencari asal-muasal memang merupakan jalan panjang yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun. Untuk menemukan asal muasal penyebab SARS dari virus pada kelelewar hingga menyebar ke manusia melalui musang saja membutuhkan waktu 14 tahun.

Relokasi laboratorium

covid-19 kebocoran lab

Panel WHO menganggap infeksi yang didapat di laboratorium sangat tidak mungkin karena protokol keamanan hayati yang ketat dari laboratorium Wuhan. Tetapi database The American Biological Safety Association (ABSA) mencantumkan infeksi tidak disengaja bahkan pernah terjadi bahkan di laboratorium dengan akreditasi biosafety tertinggi.

Contoh yang relevan terjadi pada tahun 2004, ketika dua peneliti secara independen terinfeksi oleh virus corona penyebab SARS di laboratorium virologi di Beijing yang mempelajari penyakit tersebut. Mereka menyebarkan virus ke tujuh orang lain sebelum wabah itu kembali terkendali.

Tim investigasi WHO berargumen, tidak ada gangguan atau insiden ketika laboratorium Wuhan pindah ke lokasi baru dekat pasar Huanan pada Desember 2019 dari pemindahan tersebut.

“Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai kesimpulan WHO, tetapi memang benar relokasi lab menghadirkan peluang untuk kesalahan,” kata Allen Rodrigo. “Hipotesis kebocoran laboratorium setidaknya masuk akal, oleh karena itu penting untuk menyelidikinya.”

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Nature. The COVID lab-leak hypothesis: what scientists do and don’t know. Retrieved on 15 June 2021 from: https://www.nature.com/articles/d41586-021-01529-3
  • The Conversation. Allen Rodrigo: The COVID-19 lab-leak hypothesis is plausible because accidents happen. I should know. Retrieved on 15 June 2021 from: https://theconversation.com/the-covid-19-lab-leak-hypothesis-is-plausible-because-accidents-happen-i-should-know-162430
  • Chavarria-Miró, G. et al. Preprint at medRxiv https://doi.org/10.1101/2020.06.13.20129627 (2020).
  • WHO. WHO experts to travel to China. Retrieved November 2020 from: https://www.who.int/news/item/07-07-2020-who-experts-to-travel-to-china
  • Ismail, S., Saliba, V., Lopez Bernal, J., Ramsay, M., & Ladhani, S. (2020). SARS-CoV-2 infection and transmission in educational settings: cross-sectional analysis of clusters and outbreaks in England. doi: 10.1101/2020.08.21.20178574

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 21/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan