Ternyata Setiap Orang Berisiko Kena Penyakit Menular Seksual. Bagaimana Mencegahnya?

Mitos-mitos dan kurangnya informasi mengenai infeksi menular seksual (IMS) alias penyakit kelamin masih menjadi masalah besar yang perlu diluruskan. Buktinya angka kejadian penyakit menular seksual di seluruh dunia, termasuk Indonesia masih cukup tinggi.

Banyak orang yang menyangka bahwa IMS hanya terjadi pada golongan tertentu, seperti pada pekerja seks komersial (PSK). Padahal, faktanya tidak begitu. Untuk meluruskan hal ini, saya akan membahas berbagai hal penting seputar penyakit menular seksual sekaligus pencegahan terbaiknya.

Semua orang bisa kena penyakit menular seksual

tes kesuburan pria

Perlu Anda pahami, penyakit menular seksual bukan hanya menyerang pekerja seks komersial, tetapi bisa mengenai siapa saja, termasuk Anda jika aktif secara seksual. Pasalnya, semua orang yang sudah aktif secara seksual memiliki risiko terkena penyakit yang satu ini karena penularan terbesarnya melalui kontak seksual.

Ingat, penyakit menular seksual tak hanya menular lewat hubungan seks melalui vagina tetapi juga bisa menular melalui seks anal dan juga oral.

Pasangan monogami atau yang hanya memiliki satu pasangan seperti suami istri pun masih memiliki risiko terkena penyakit ini. Pasalnya, meskipun Anda dan pasangan tidak melakukan kegiatan seksual dengan orang lain, riwayat seksual di masa lampau juga perlu ditelusuri. Jika salah satu pasangan ternyata dulunya sering berganti-ganti pasangan seksual, maka ia berisiko terkena penyakit menular seksual dari pasangan sebelumnya yang mungkin terinfeksi.

Penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi seperti infeksi jamur vagina bahkan bisa menyerang tanpa berhubungan seksual sebelumnya. Infeksi ini tumbuh dan berkembang pada orang-orang yang tidak menjaga kebersihan vagina atau punya penyakit yang melemahkan sistem imun seperti diabetes. Meskipun bukan termasuk ke dalam infeksi menular seksual, tetapi angka kejadian kandidiasis vagina meningkat sejak wanita mulai aktif melakukan aktivitas seksual.

Untuk itu, jangan sembarangan melakukan kontak seksual. Pasalnya, penyakit kelamin bisa menyerang siapa saja yang aktif secara seksual tanpa Anda sadari sepenuhnya.

Perlukah saya melakukan tes penyakit kelamin?

tes penyakit kelamin

Menurut saya, Anda sangat perlu melakukan tes penyakit kelamin jika sudah aktif secara seksual. Apalagi jika Anda mengalami berbagai keluhan di area genital seperti muncul benjolan, rasa panas dan gatal yang tidak kunjung hilang, atau nyeri yang tidak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Jangan ragu untuk segera mengunjungi dokter Sp.KK terdekat.

Namun tak hanya Anda, sebaiknya pasangan juga diminta untuk bersama-sama melakukan tes ini. Bagi Anda yang hendak menikah, melakukan tes penyakit kelamin membantu mencegah penularan infeksi melalui seks setelah menikah. Pasalnya, tidak semua penyakit kelamin menunjukkan tanda-tanda yang jelas dan terlihat dengan mata telanjang.

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan penyakit menular seksual seperti HIV, hepatitis, dan juga sipilis. Tidak perlu malu atau tersinggung untuk memeriksakannya karena hal ini dilakukan semata-mata demi kesehatan jangka panjang Anda dan pasangan.

Langkah tepat mencegah penularan penyakit kelamin

Untuk mencegah penyakit menular seksual, secara umum ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan, yaitu:

1. Hindari seks sebelum menikah

pasangan berpegangan tangan

Kontak seksual baik melalui vagina, dubur, dan juga mulut sama-sama berisiko menularkan penyakit kelamin. Oleh karena itu, untuk meminimalisir angka penularan ada baiknya untuk tidak melakukan kontak seksual sama sekali sebelum Anda menikah. Apalagi sampai berganti-ganti pasangan tanpa mengetahui dengan pasti riwayat seksual pasangan.

Apalagi pada remaja yang melakukan hubungan seksual terlalu dini, risiko penyakit kelamin pun akan meningkat. Pasalnya, jika organ intim remaja perempuan terluka, kemampuan jaringan organ untuk memperbaiki dirinya belum sempurna. Hal ini selain meningkatkan risiko infeksi menular seksual juga berisiko tinggi menyebabkan kanker serviks akibat virus HPV.

Selain itu, remaja perempuan maupun laki-laki kebanyakan kurang paham mengenai prosedur seks yang aman dan bertanggung jawab sehingga sangat berisiko tinggi terkena infeksi menular seksual.

2. Setia pada satu pasangan

masalah rumah tangga

Meskipun pasangan monogami seperti pasangan suami istri tetap bisa tertular penyakit kelamin, setia pada satu pasangan Anda dapat menurunkan risikonya.

Pasalnya, gonta-ganti pasangan seksual sangat berisiko membuat Anda tertular. Terlebih jika tiap pasangan Anda ternyata sudah terinfeksi. Maka dari itu, cobalah untuk tetap setia pada satu pasangan untuk menurunkan risiko penyakit menular seksual.

3. Vaksin HPV

vaksin bivalen

Sebelum Anda aktif secara seksual, ada baiknya untuk mendapatkan vaksin HPV. Vaksin ini dapat melindungi Anda dari berbagai virus HPV yang bisa menyebabkan kutil kelamin atau bahkan kanker serviks.

Jika Anda ternyata sudah memiliki virus HPV di tubuh, maka vaksin ini juga dapat melindungi Anda dari virus jenis lainnya yang mungkin menular dari orang lain.

4. Gunakan kondom

Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang bisa mencegah penyakit menular seksual. Kondom melindungi Anda dari penyakit yang mungkin menginfeksi melalui air mani, cairan vagina, dan juga darah.

Meskipun tidak 100 persen efektif, penggunaan kondom sangat penting. Apalagi jika Anda berhubungan seks dengan orang yang mungkin tidak Anda ketahui riwayat seksualnya seperti apa.

5. Teliti sebelum melakukan perawatan yang menggunakan jarum

manfaat donor darah

Penyakit menular seksual tidak melulu ditularkan lewat kontak seksual. Anda bisa terkena penyakit ini melalui berbagai perantara yang mungkin tidak Anda duga sebelumnya. Misalnya dari penggunaan jarum suntik berulang, transfusi darah, atau pembuatan tato.

Oleh karena itu, selalu pastikan semua barang yang akan dimasukkan ke dalam tubuh seperti jarum benar-benar steril dan belum pernah dipakai.

Hindari ancaman penyakit kelamin dengan mempraktikkan berbagai cara pencegahan yang telah disebutkan. Selain itu, carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai penyakit kelamin agar terhindar dari kekeliruan dan mitos yang menyesatkan. Kalau Anda punya keluhan atau pertanyaan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Baca Juga:

dr. Dikky Prawiratama, M.Sc, Sp.KK Kulit & Kelamin
Saya adalah seorang spesialis kulit dan kelamin lulusan Universitas Gadjah Mada pada 2016. Selain berpraktik di Erha Derma Center Yogyakarta dan Klinik ...
Selengkapnya
dr. Dikky Prawiratama, M.Sc, Sp.KK Kulit & Kelamin

Saya adalah seorang spesialis kulit dan kelamin lulusan Universitas Gadjah Mada pada 2016. Selain berpraktik di Erha Derma Center Yogyakarta dan Klinik Ergia Yogyakarta, saya juga merupakan pelatih nasional untuk dermal filler Neauvia Organic dan thread lift Ultra-V yang merupakan bagian dari Regenesis Indonesia.

Berbagai ajang pelatihan dan simposium nasional dan internasional sudah saya hadiri. Yang terbaru adalah International Master Course on Aging Science 2018 yang diadakan di Paris, Prancis. Saya telah mendapat sertifikasi dermal filler dari Neauvia Academy Switzerland, Allergan Medical Institue, dan juga Perfectha Paris. Sedangkan untuk thread lift, saya telah tersertifikasi dari Ultra-V Korea.

Tidak hanya dermal filler dan thread lift, ketertarikan saya di bidang dermatologi juga meliputi permasalahan jerawat (akne), flek wajah (melasma), serta alergi dan imunologi kulit. Selain itu, passion saya di bidang penyakit menular seksual juga menuntun saya untuk meneliti faktor risiko kandidiasis vagina pada pekerja seks di Banyumas di tahun 2016.

Prinsip saya adalah, memberikan pelayanan dan perawatan paripurna terhadapan kesehatan kulit serta kelamin pasien, tidak hanya dari segi estetik, melainkan lebih holistik untuk mencapai hasil yang memuaskan.

 

Selengkapnya
Artikel Terbaru