home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Memberikan Edukasi Seks untuk Anak & Remaja, Bagaimana Caranya?

Memberikan Edukasi Seks untuk Anak & Remaja, Bagaimana Caranya?

Tidak sedikit orangtua yang menganggap sepele atau tabu untuk memberikan edukasi seks pada anak dan remaja. Padahal, edukasi seks atau pendidikan seksual sebaiknya dimulai sejak dini. Namun, bagaimana cara memberikan edukasi seks untuk anak dan remaja?

Edukasi seks untuk anak dan remaja

Sebenarnya, anak dan remaja sama-sama membutuhkan edukasi seks sejak dini. Dikutip dari Journal of The American Academy of Pediatrics, baik anak-anak maupun remaja perlu menerima pendidikan yang akurat tentang seksualitas.

Hal ini diperlukan agar mereka mengetahui bagaimana perilaku seksual yang sehat serta mencegah terjadinya pelecehan seksual.

Jangan sampai anak Anda telanjur mendapatkan informasi yang kurang tepat seputar seks dari sumber yang tidak dapat dipercaya, misalnya teman sebaya atau internet.

Anak juga perlu tahu bahwa sebagai orangtua, Anda bisa diajak berdiskusi seputar topik tersebut.

Ketika anak sudah diberikan edukasi seks atau pendidikan seksual sejak dini, di masa remaja ia pun tidak merasa canggung dan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Apalagi, ketika anak sekolah sudah memasuki tahap perkembangan remaja, biasanya ia mempunyai pertanyaan yang lebih spesifik mengenai seks.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara menyampaikan dengan tepat baik di usia dini maupun saat masuk usia pubertas.

Edukasi seks pada anak juga tidak hanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan organ seksual semata. Namun juga berhubungan dengan kepemilikan dan kenyamanan tubuh.

Berikut beberapa poin penting yang perlu disampaikan saat memberikan pendidikan seksual pada anak:

1. Bagian tubuh dan fungsinya

Studi yang ditunjukkan dalam Adolescent sexuality and the media menunjukkan, semakin sering anak terekspos dengan gambar seksual di media, akan lebih besar pula keterlibatan mereka dalam perilaku seksual sejak usia sangat muda.

Walaupun begitu, pendidikan seksual yang sebenarnya tidak akan menuntun anak menuju pergaulan bebas.

Rasa penasaran mengenai seks adalah langkah alami dari pertumbuhan anak untuk belajar tentang tubuhnya.

Edukasi seks membantu anak untuk lebih memahami tentang tubuh dan membantu mereka mencintai tubuh mereka sendiri.

Sebelum masuk usia remaja, berikan edukasi seks mengenai area tubuh. Sebagai contoh, Anda mungkin bisa mengenalkan fungsi vagina atau penis, payudara, dan berbagai bagian tubuh lainnya.

Di samping itu, sampaikan pada anak bahwa tidak ada yang boleh menyentuhnya tanpa izin, baik teman sebaya, guru, atau orang dewasa lainnya.

Tak lupa, beritahu anak bahwa bagian-bagian tubuh tertentu sebaiknya tidak disentuh oleh siapapun.

Contoh: “Kak, tubuh kakak itu cuma boleh kakak yang pegang. Apalagi bagian-bagian sensitif seperti vagina atau penis dan payudara.”

“Jadi, kalau ada yang memegang tubuh kakak, jangan diam saja ya, kakak harus menolak atau cari pertolongan kalau ternyata dipaksa.”

2. Pubertas yang akan dialami

Sebelum memasuki masa puber, tidak ada salahnya bagi Anda sebagai orangtua untuk menjelaskan apa saja perubahan pada tubuh nantinya. Biasanya, memasuki usia 9 atau 10 tahun pubertas akan dimulai.

Pada anak perempuan, sampaikan bahwa ia akan mengalami pertumbuhan payudara, juga menstruasi. Begitu juga pertumbuhan rambut pada beberapa bagian tubuh seperti ketiak dan area vagina.

Sementara pada anak laki-laki, selain pertumbuhan penis dan testis, ia juga akan mengalami perubahan suara, hingga mimpi basah. Lalu, pertumbuhan rambut di area wajah, ketiak, dan area penis.

Jelaskan padanya bahwa semua perubahan ini adalah hal yang normal dan tidak perlu malu atau takut jika fase ini terjadi.

3. Aktivitas seksual

Pada usia ini, anak Anda mungkin sudah mulai menaruh perhatian terhadap lawan jenis. Maka dari itu, sudah sepatutnya bagi Anda mulai mengajarkan kepada anak mengenai hubungan dengan lawan jenis.

Ya, materi ini juga penting untuk disampaikan pada pendidikan seksual anak dan remaja. Sampaikan kepadanya, bagaimana cara memperlakukan teman lawan jenis.

Hal ini juga berhubungan dengan edukasi seks mengenai aktivitas seksual. Sebagai contoh, beri tahu bahwa berciuman dan berpelukan sudah termasuk ke dalam aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa.

Selain itu, sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami aktivitas seksual apa saja yang akan dilakukan oleh orang dewasa saat berhubungan seks.

Sampaikan pada anak bahwa aktivitas tersebut hanya boleh dilakukan saat sudah menikah dan anak seusianya tidak sepatutnya melakukan aktivitas seksual seperti itu.

Sampaikan risiko yang mungkin dialami oleh anak seusianya jika melakukan aktivitas seks.

Bukan untuk menakut-nakuti, hal ini dilakukan dengan maksud anak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri saat sedang tidak dalam pengawasan orangtua.

4. Kekerasan dan pelecehan seksual

Edukasi seks atau pendidikan seksual tidak hanya memberikan pemahaman mengenai gambaran aktivitas seksual.

Sejak anak berada di sekolah dasar, berikan pemahaman mengenai pelecehan seksual dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Jelaskan bahwa anak sudah harus bisa melindungi diri sendiri. Misalkan, menyampaikan sesuatu atau berteriak ketika ada orang yang berniat jahat atau menggodanya.

Tidak hanya itu saja, hal ini juga berupa intimidasi penampilan atau bagian tubuh, hingga mencoba menyentuh bagian tubuh tertentu.

Jelaskan pula bahwa tidak ada seorang pun yang harus merasa diwajibkan untuk berhubungan seks atas dasar paksaan atau ketakutan.

Segala macam seks atas dasar paksaan adalah bentuk pemerkosaan, tidak peduli pelaku adalah orang asing maupun yang mereka kenal baik.

Bagaimana memberikan edukasi seks pada anak dengan autisme?

Anak dengan autisme punya tantangan yang berbeda. Tidak seperti remaja seusianya, mereka mungkin tidak banyak tahu soal seks dari lingkungan pergaulannya.

Apabila tidak dibekali dengan pendidikan seksual dari orangtua, anak bisa jadi tidak tahu apa-apa soal seksualitas. Hal ini membuatnya lebih rentan dimanfaatkan atau hal lainnya yang tidak diinginkan.

Hasrat seksual pada manusia adalah normal. Kepekaan dan perasaan untuk melakukan seks dimiliki oleh setiap orang, termasuk anak dengan autisme.

Namun, ada berbagai cara yang dilakukan untuk mengekspresikan hasrat tersebut. Anak remaja dengan autisme memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan hasrat mereka.

Adapun hal yang bisa dilakukan oleh orangtua, yaitu memberi penjelasan padanya bahwa kegiatan seksual adalah sesuatu yang berharga dan luar biasa.

Maka dari itu, aktivitas seksual hanya boleh dilakukan dengan pasangan sendiri yang sudah menikah.

Kemudian, buat anak Anda paham bahwa tidak semua orang ingin melakukan kegiatan seksual.

Melakukan hal tersebut dibutuhkan persetujuan dari kedua belah pihak. Misalnya, jika seseorang berkata tidak, maka kegiatan tersebut tidak boleh dilakukan.

Terakhir, ajari anak soal waktu dan tempat yang sesuai untuk melakukan kegiatan seksual. Misalnya, berikan pemahaman bahwa masturbasi tidak boleh dilakukan dihadapan orang lain.

Buatlah ia mengerti bahwa melakukan hal tersebut di depan orang lain tidak layak untuk dilakukan.

Meski sulit dan butuh waktu untuk anak bisa mencernanya, percayalah perlahan tapi pasti ia akan mengerti apa yang Anda sampaikan.

Tips memberikan pendidikan seksual

Ketika mendengar soal edukasi seks atau pendidikan seksual untuk anak dan remaja, hal pertama yang mungkin terlintas di benak Anda adalah rasa canggung.

Sebagai orangtua, pahamilah bahwa perkembangan diri, kesehatan, dan pertumbuhan anak jauh lebih penting dari rasa canggung yang muncul.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membantu Anda, seperti:

1. Membelikan buku

Jika Anda merasa kesulitan memberikan edukasi seks dengan bahasa sendiri, coba untuk menjelaskannya dengan bantuan buku. Belilah buku yang membahas soal pubertas dan seksualitas khusus untuk anak seusianya.

Saat ini sudah banyak tersedia di toko buku berbagai literatur bergambar seputar pendidikan seksual yang bisa dipahami anak dengan mudah. Letakkan buku-buku tersebut di kamar anak.

Lalu katakan, “Ayah/ Ibu punya buku bagus yang penting untuk kamu baca. Tolong dibaca baik-baik, nanti kalau ada pertanyaan langsung tanya pada Ayah/ Ibu, ya.”

Anda juga bisa membahas isi buku secara bersama-sama dengan anak di waktu santai.

2. Menciptakan suasana yang nyaman untuk berdiskusi

Sebagai orangtua, Anda adalah orang dewasa yang memiliki kewajiban sebagai teman diskusi anak mengenai berbagai hal, termasuk seks.

Maka dari itu, saat memberikan edukasi mengenai seks kepada anak atau remaja, ciptakan suasana yang nyaman.

Sebagai contoh, sampaikan pendidikan seksual saat suasana hatinya sedang baik. Pasalnya, saat suasana hati sedang kalut, anak justru sulit menangkap informasi yang Anda sampaikan.

Jika Anda merasa canggung untuk memulai, cobalah untuk memulai dengan pengantar yang baik.

Sebagai permulaan, tanyakan kepada anak, apa saja yang sudah dipelajari di sekolah mengenai edukasi seks. Dari pertanyaan tersebut, biarkan pembicaraan tentang topik ini mengalir dengan alami.

Lalu, usahakan untuk tidak berbelit-belit. Mengapa? Saat Anda sendiri kebingungan untuk menyampaikan informasi mengenai topik ini, anak mungkin kehilangan minat, bahkan salah tangkap.

Selain itu, jika anak Anda menceritakan pengalamannya terkait aktivitas seksual dengan teman sekolahnya, jangan langsung marah atau menghakimi.

Sebaliknya, tanyakan baik-baik dengan nada bicara seperti teman yang penuh antusiasme. Setelah itu, barulah beri nasihat dengan tidak menggurui.

3. Memberikan pendidikan seks secara berkala

Tak perlu menjejali anak dengan berbagai hal dalam sekali diskusi. Usahakan untuk membicarakan satu topik tertentu dalam setiap kesempatan. Dengan begitu, anak jadi punya kesempatan untuk menyerap dan mengingat informasi yang didapat.

Apabila suatu hari anak bertanya soal seks, jangan tunjukkan rasa kaget atau amarah pada anak. Anak akan merasa terancam dan segan untuk bertanya pada Anda di kesempatan berikutnya.

Tetap tenang dan tanyakan baik-baik dari mana anak mendengar hal tersebut, jangan gunakan nada yang menuduh atau menginterogasi.

Kemudian, berikan penjelasan yang memadai. Setelah itu pastikan bahwa anak sudah memahami jawaban Anda.

Risiko berhubungan seks di usia dini

Satu pertanyaan besar terpatri dengan jelas di dalam benak kebanyakan orangtua ketika remaja mulai asyik berkencan: Apakah mereka berhubungan seks?

Pada dasarnya, di Indonesia, usia minimal seseorang boleh terlibat dalam hubungan seksual adalah 16 tahun.

Maka dari itu, penting untuk orangtua serta sekolah memberikan pendidikan seksual yang tepat pada remaja.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa seks di usia terlalu muda bisa membawa efek negatif hingga dewasa. Kemungkinan besar karena aktivitas terjadi ketika sistem saraf masih berkembang.

Sejumlah hasil negatif bisa terjadi, terutama untuk anak perempuan. Mulai dari risiko tinggi kehamilan yang tidak diinginkan, tertular HIV atau penyakit menular seksual (PMS), kanker serviks, dan dampak psikologis negatif lainnya.

Oleh karenanya, pastikan untuk memberi tahu putra putri Anda tentang risiko yang akan dihadapinya jika melakukan aktivitas seksual terlalu dini dengan pacar atau teman lawan jenisnya.

Selain itu, jelaskan juga bahwa jika aktivitas seks yang dilakukan membuat ia hamil, risiko yang ditimbulkan akan semakin besar.

Jelaskan padanya bahwa kehamilan di usia remaja berisiko menyebabkan keguguran, kematian bayi, kematian ibu saat bersalin, kanker serviks (leher rahim), dan penularan penyakit kelamin.

Di samping berbagai risiko kesehatan tersebut, pernikahan usia remaja juga berdampak buruk bagi kesehatan mental kedua pasangan.

Intinya, memberikan edukasi seks untuk anak dan remaja perlu dilakukan perlahan dan beralasan. Artinya, Anda tidak sekadar melarang tetapi menjabarkan alasannya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Talking to primary school children about sex. (2020). Retrieved 8 July 2020, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/HealthyLiving/talking-to-primary-school-children-about-sex

Need help fielding questions about sex from your school-age child?. (2020). Retrieved 8 July 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/sexual-health/in-depth/sex-education/art-20046025

Talking to Your Tween about Sexuality. (2014). Retrieved 8 July 2020, from https://youngwomenshealth.org/parents/talking-to-your-tween-about-sexuality/

Sexual Harassment and Sexual Bullying (for Teens) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 8 July 2020, from https://kidshealth.org/en/teens/harassment.html

Have you had ‘the talk’ with your teen?. (2020). Retrieved 8 July 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/sexual-health/in-depth/sex-education/art-20044034

Need help fielding questions about sex from your school-age child?. (2020). Retrieved 8 July 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/sexual-health/in-depth/sex-education/art-20046025

Breuner, C., & Mattson, G. (2016). Sexuality Education for Children and Adolescents. Pediatrics, 138(2), e20161348. doi: 10.1542/peds.2016-1348

Talking to Your Child About Sex. (2020). Retrieved 8 July 2020, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/gradeschool/puberty/Pages/Talking-to-Your-Child-About-Sex.aspx

Social/Sexual Awareness | Autism Research Institute. (2020). Retrieved 8 July 2020, from https://www.autism.org/social-sexual-awareness/

Sexuality and Autism. (2020). Retrieved 8 July 2020, from http://autismuk.com/autism/sexuality-and-autism/sexuality-and-autism-danish-report/

Johnson, K. (2020). Harmful Effects of Early Sexual Activity and Multiple Sexual Partners Among Women: A Book of Charts. Retrieved 13 July 2020, from https://www.heritage.org/education/report/harmful-effects-early-sexual-activity-and-multiple-sexual-partners-among-women

Early Marriage Child Spouse. (2020). Retrieved 13 July 2020, from https://www.unicef-irc.org/publications/pdf/digest7e.pdf

Gruber, E. (2000). Adolescent sexuality and the media: a review of current knowledge and implications. Western Journal Of Medicine, 172(3), 210-214. doi: 10.1136/ewjm.172.3.210

Kugler, K., Vasilenko, S., Butera, N., & Coffman, D. (2016). Long-Term Consequences of Early Sexual Initiation on Young Adult Health. The Journal Of Early Adolescence, 37(5), 662-676. doi: 10.1177/0272431615620666

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Atifa Adlina
Tanggal diperbarui 13/01/2017
x