Meluruskan 5 Mitos Sesat Tentang Kekerasan Seksual yang Masih Dipercaya Khalayak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26/03/2020 . 5 mins read
Bagikan sekarang

Jika diperhatikan, kebanyakan kasus kekerasan seksual lebih sering dialami oleh perempuan ketimbang laki-laki. Memang, mengutip data Komnas Perempuan, rata-rata ada sekitar 35 perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual setiap hari di Indonesia. Namun, bukan berarti pria mustahil mengalaminya. Banyaknya mitos kekerasan seksual yang merajalela di masyarakat kita perlu diberantas habis karena sangat merugikan korbannya. Apa saja mitos kekerasan seksual yang perlu diluruskan?

Beragam mitos kekerasan seksual yang perlu diberantas

Hal inilah yang membuat korban merasa malu dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Akibatnya, korban mengalami trauma mendalam, depresi, hingga berkeinginan untuk bunuh diri.

Maka itu, yuk akhiri beragam mitos kekerasan seksual berikut ini dengan mengetahui fakta sebenarnya

1. Korban selalu berpakaian minim atau seksi

merendahkan perempuan

Pakaian yang dikenakan korban umum dijadikan alasan untuk melumrahkan kejadian nahas tersebut. “Ya pantas saja dia diperkosa, wong bajunya saja seksi begitu!” Pernah dengar, kan, komentar nyinyir seperti ini?

Tak jarang pula komentar memojokkan tentang pakaian korban dipergunakan oleh aparat penegak hukum saat memproses kasus kekerasan seksual.

Orang-orang masih berpikir bahwa pakaian seksi sama dengan undangan seks gratis, “Pakaiannya, sih, terbuka, ngundang nafsu saja!”. Argumen ini malah makin menegaskan asumsi kolot bahwa perempuanlah yang harusnya disalahkan untuk “nasib” mereka sendiri.

Padahal, segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual terjadi atas kebejatan pelaku itu sendiri. Pakaian bukanlah faktor penentu. Tindakan tersebut adalah salah si pelaku. Memakai pakaian yang nyaman dan tertutup tidak serta-merta menjamin bahwa Anda lebih aman dari tindak kekerasan seksual.

2. Pria tidak mungkin jadi korban

pelecehan seksual di jalan

Kekerasan seksual memang lebih banyak terjadi pada perempuan dan dilakukan oleh pria. Itu kenapa Anda mungkin menganggap bahwa tidak mungkin kedua peran ini ditukar. Namun kenyataannya ada pria-pria di luaran sana yang jadi korbannya.

Anggapan bahwa pria tidak mungkin dan tidak bisa menjadi korban kekerasan seksual itu bahaya, lho! Mitos ini bisa membuat mereka yang benar-benar pernah mengalaminya enggan mencari bantuan karena takut dikira lemah hingga akhirnya menjadi trauma permanen.

Perlu diluruskan lagi bahwa pria dan wanita sama-sama bisa menjadi pelaku atau korban. Wanita mungkin saja jadi pelaku kekerasan seksual yang menargetkan pria, atau terjadi antar pria.

Faktor yang mendorong seseorang untuk berbuat kejahatan tidaklah didasari oleh gender alias jenis kelamin.

3. Pemerkosaan tidak mungkin terjadi dalam perkawinan

pemerkosaan dalam perkawinan

Berhubungan intim antara suami istri merupakan hal yang wajar. Akibatnya banyak orang menganggap bahwa kalau sudah menikah, seks tentu dilakukan atas dasar suka sama suka.

Eits, tunggu dulu. Mitos kekerasan seksual yang satu ini perlu diluruskan. Meskipun masih asing di telinga, pemerkosaan dalam perkawinan mungkin saja terjadi. Berhubungan intim karena paksaan atau ancaman, meskipun dengan pasangan sendiri, sama saja dengan tindak perkosaan.

Pada dasarnya, seks harus disetujui oleh suami dan istri. Tidak seorang pun berhak memaksa atau mengancam untuk berhubungan seks jika ada salah satu yang menolaknya. Ingat, suami atau istri Anda bukanlah objek pemuasan seksual yang bisa Anda kuasai kapan pun.

4. Korban tidak melawan karena memang mau

masokis

Masyarakat menganggap bahwa sikap korban yang tidak melawan menunjukkan bahwa korban cenderung menikmati dan mau berhubungan intim dengan pelaku. Ya, pelaku dan korban dianggap melakukannya atas dasar suka sama suka.

Padahal, ini termasuk salah satu mitos kekerasan seksual yang harus Anda buang jauh-jauh mulai saat ini. Setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda saat menerima kekerasan seksual. Ada yang berani melawan, ada yang justru memilih diam karena takut disakiti pelaku.

Sikap korban yang tidak melawan bukan berarti mereka menginginkannya. Ini justru menandakan bahwa korban diliputi rasa takut. Apalagi kalau korban diancam dengan senjata tajam. Maka tidak heran kalau kebanyakan korban pemerkosaan tidak melawan dan lebih memilih untuk diam.

Kondisi ini disebut dengan inhibisi tonik, yaitu respon fisiologis tubuh yang membuat seseorang mengalami kelumpuhan fisik sementara sehingga tidak bisa bergerak atau melawan saat merasa takut atau terancam. Hal ini jugalah yang membuat korban kekerasan seksual rentan mengalami trauma PTSD dan depresi berat dalam beberapa bulan mendatang.

5. Pelakunya pasti orang asing

Waspadai 6 Trik yang Biasa Dilakukan Pelaku Pelecehan Seksual

Banyak orang yang menganggap bahwa pelaku perkosaan atau kekerasan seksual sudah pasti orang asing alias orang yang tidak dikenal sama sekali. Karena itulah, banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di jalan yang sepi dan biasanya saat malam hari.

Lagi-lagi, siapa pun bisa melakukan tindakan kekerasan seksual. Begitu juga dengan kerabat terdekat yang tidak pernah Anda duga sebelumnya.

Dilansir dari BBC Indonesia, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin mengungkapkan bahwa lebih dari 60 persen kasus kekerasan seksual terjadi di lingkungan rumah dengan pelaku ayah, paman, kakak, atau suami korban sendiri.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Tanda-Tanda Anda Tidak Cinta Lagi Dengan Pasangan

Sudah lama menjalin hubungan dengan dia dan kini merasakan tanda sudah tidak cinta lagi? Simak apa saja tanda cinta Anda ke dia mulai pudar.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 15/01/2020 . 4 mins read

Hal-hal yang Menjadi Penyebab Pria Memperkosa Pria Lainnya

Seorang pria asal Indonesia di Inggris memperkosa banyak pria dalam kurun dua tahun terakhir. Apa saja kemungkinan penyebab dia melakukan itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Berita Dalam Negeri, Berita 10/01/2020 . 5 mins read

4 Tips Memilih Lingerie yang Nyaman dan Menggoda untuk Bercinta

Persiapan bercinta malam ini bisa dilakukan dengan memilih lingerie. Adakah tips untuk memilih lingerie yang pas, nyaman, dan menggoda?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 25/12/2019 . 3 mins read

Cara Cepat Hilangkan Pegal Linu Sehabis Bercinta

Badan pegal linu sehabis berhubungan seks? Jangan sedih, simak 3 cara cepat berikut untuk mengatasi otot yang pegal linu sehabis bercinta.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 18/12/2019 . 3 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

air mani keluar saat puasa

4 Cara Mencegah Keluar Air Mani Saat Puasa

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020 . 5 mins read
tanda-tanda selingkuh

6 Tanda Pasangan Anda Selingkuh

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 17/02/2020 . 4 mins read
suami gay

Suami Tiba-tiba Mengaku Gay, Apa yang Harus Saya Lakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29/01/2020 . 3 mins read
mengatasi trauma setelah bercerai

Mengatasi Trauma Memulai Hubungan Baru Setelah Bercerai

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22/01/2020 . 4 mins read