3 Jenis Obat Sesak Napas yang Paling Umum, Berdasarkan Penyebabnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Banyak yang mengira kalau sesak napas itu sudah pasti asma. Padahal belum tentu. Sulit bernapas bisa disebabkan oleh masalah medis atau penyakit tertentu, seperti pneumonia, penyakit jantung, obesitas, hingga serangan panik. Olahraga terlalu berat, cuaca yang sangat panas, dan berada di ketinggian semuanya dapat menyebabkan sesak napas pada orang yang sehat. Oleh karena itu, obat sesak napas untuk setiap orang tidak sama — tergantung penyebabnya.

Beragam pilihan obat sesak napas

Perlu ditekankan bahwa sebelum mengonsumsi obat sesak napas apapun, Anda perlu berkonsultasi dulu dengan dokter demi mendapatkan diagnosis yang tepat mengenai kondisi kesehatan Anda. Pasalnya, jenis dan dosis obat sesak napas harus disesuaikan dengan penyebab pastinya.

Berikut jenis obat-obatan sesak napas yang paling umum tersedia, di apotek dan dengan resep dokter.

Bronkodilator

Bronkodilator adalah kelompok obat yang digunakan untuk memperlancar pernapasan dengan memperlebar kapasitas paru-paru menghirup oksigen. Bronkodilator tersedia dalam bentuk inhaler, tablet/pil, sirup, suntikan, hingga nebulizer.

Ada tiga jenis obat bronkodilator yang umum digunakan, antara lain:

Berdasarkan waktu kerjanya, bronkodilator dibagi menjadi dua: reaksi cepat dan reaksi lambat. Bronkodilator reaksi cepat biasanya diberikan untuk seseorang yang mengalami sesak napas akut (tiba-tiba) akibat peradangan dan penyempitan saluran napas, seperti pada serangan asma akut. Sedangkan bronkodilator reaksi lambat lebih ditujukan untuk mengontrol gejala sesak napas pada penyakit paru-paru kronis (PPOK) atau asma kronis.

Efek samping umum yang dapat muncul dari penggunaan obat ini biasanya menggigil, batuk, sakit kepala, hingga diare.

Antibiotik dan antivirus

Pada kasus sesak napas yang disebabkan oleh infeksi pneumonia, obat sesak napas yang diresepkan akan bergantung pada mikroba penyebabnya — bakteri atau virus. Antibiotik akan diresepkan dokter untuk mengatasi pneumonia yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Salah satu contohnya adalah Xorim (cefuroxime). Apabila pneumonia Anda disebabkan oleh virus, maka dokter dapat meresepkan obat antivirus, seperti oseltamivir (Tamiflu) atau zanamivir (relenza).

Jangan menghentikan atau meningkatkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter.

Diuretik

Jenis obat ini diberikan untuk mengatasi sesak napas yang terjadi akibat gagal jantung. Secara umum, obat ini menghambat reabsorpsi elektrolit dari lumen nefron, meningkatkan osmolaritas dan meningkatkan ekskresi air.

Efek samping dari penggunaan diuretik adalah Anda akan terus buang air kecil karena diuretik meningkatkan ekskresi urin dari air dan elektrolit. Oleh karena itu, obat ini disebut “tablet air”.

Apa boleh menggunakan obat sesak napas herbal?

Untuk penggunaan obat herbal, Anda harus melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter. Sebab, penggunaan obat secara bersamaan tanpa diketahui lebih lanjut efeknya akan berisiko memperburuk kesehatan tubuh Anda. Untuk itu, dokter perlu mengecek kandungan obat herbal dan melihat bagaimana kondisi ginjal dan hati Anda.

Berbagai cara lainnya untuk mengobati sesak napas

Selain dengan obat, Anda perlu memerhatikan kondisi lingkungan Anda jika memiliki penyakit gangguan pernapasan. Jaga kebersihan rumah Anda dari debu, kotoran, dan bulu hewan. Kemudian, perhatikan bila Anda sedang berada di luar rumah. Udara di lingkungan sudah tercampur berbagai polutan, seperti asap rokok maupun asap kendaraan. Jadi, gunakan masker dan jauhi asap rokok. Berhentilah merokok sesegera mungkin apaila Anda seorang perokok.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca