7 Penyebab Vagina Bengkak yang Tak Boleh Disepelekan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 1 Februari 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Hampir semua bagian tubuh bisa mengalami pembengkakan, termasuk vagina. Dikarenakan letaknya yang cukup tertutup oleh bagian tubuh lainnya, banyak wanita tak menyadari saat vaginanya membengkak. Ketika vagina bengkak, mungkin Anda hanya menyadari dari rasa nyeri yang muncul saja. Barulah setelah itu sadar bahwa ada perubahan bentuk pada vagina Anda. Lantas, apa saja penyebab vagina bengkak?

Berbagai penyebab vagina bengkak

1. Alergi

crystal X

Tanpa disadari, berbagai produk perawatan pribadi ternyata bisa menjadi salah satu penyebab mengapa vagina Anda membengkak. Hal ini sangat mungkin terjadi karena vagina merupakan bagian tubuh yang cukup sensitif.

Biasanya beberapa bahan yang bisa membuat vagina bengkak seperti sabun, pelumas, sabun vagina, pembalut, kondom, hingga alat kontrasepsi. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa berkonsultasi ke dokter untuk memastikan penyebab alergi.

2. Infeksi jamur

bau vagina

Salah satu gejala infeksi jamur vagina adalah pembengkakan. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh jamur Candida albicans. Menurut dr. Prudence Hall, infeksi jamur vagina bisa terjadi saat Anda terlalu lama menggunakan celana atau legging yang lembap setelah berolahraga.

Selain pembengkakan, infeksi jamur vagina biasanya menimbulkan berbagai gejala seperti:

  • Rasa perih
  • Sakit saat buang air kecil
  • Sakit saat seks
  • Kemerahan pada vagina
  • Keputihan yang menggumpal dan berbau tak sedap

Jika hal ini merupakan kali pertama Anda mengalami infeksi jamur, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Dokter biasanya akan meresepkan berbagai obat termasuk antijamur.

3. Seks yang terlalu kasar

5 Kebiasaan Saat Seks yang Ternyata Membahayakan Vagina

Faktanya, hubungan seks dengan pasangan ternyata bisa membuat vagina membengkak. Biasanya kondisi ini terjadi saat vagina terlalu kering atau kurang pelumas. Gesekan yang keras dan dilakukan cukup lama bisa membuat vagina mengalami pembengkakan.

Tak hanya itu, seks yang terlalu kasar juga bisa membuat kulit bagian dalam vagina robek. Jika dibiarkan, robekan ini bisa menjadi pintu masuk penyakit kelamin. Selain bengkak, kondisi ini juga biasanya ditandai dengan demam dan keputihan yang lebih banyak dari biasanya.

4. Kehamilan

kesehatan vagina, vagina saat hamil

Jika Anda sedang hamil dan menyadari vagina mulai membengkak, jangan khawatir. Pasalnya, tekanan pada panggul karena keberadaan janin di perut memang meningkatkan aliran darah ke bagian bawah tubuh termasuk vagina. Kondisi inilah yang membuat ibu hamil rentan mengalami bengkak di vaginanya.

Tenang saja, kondisi ini akan hilang dengan sendirinya saat Anda melahirkan. Namun, untuk meringankannya, Anda bisa berbaring dengan meninggikan kaki sehingga cairan dan darah tak berkumpul di bagian bawah tubuh termasuk vagina.

5. Bacterial vaginosis

mengatasi benjolan di vagina

Pertumbuhan bakteri jahat yang berlebih di vagina bisa menyebabkan bacterial vaginosis alias infeksi bakteri vagina. Kondisi ini biasanya menyebabkan pembengkakan, rasa gatal, terbakar, dan cairan berwarna keabuan dengan bau busuk yang menyengat.

Beberapa kasus bacterial vaginosis bisa sembuh dengan sendirinya. Namun untuk membantu memulihkan kondisi, dokter umumnya meresepkan antibiotik dan obat-obatan antibakteri. Selain obat dari dokter Anda juga perlu menjaga kebersihan vagina secara teratur, salah satunya rutin mengganti celana dalam.

6. Servisitis

infeksi vagina saat menstruasi

Servisitis adalah kondisi saat leher rahim mengalami peradangan. Biasanya servisitis muncul sebagai akibat dari penyakit menular seksual. Klamidia, gonore, dan trikomoniasis umumnya menjadi penyakit kelamin yang paling sering menyebabkan servisitis.

Selain pembengakakan pada vagina, kondisi ini juga biasanya menyebabkan nyeri panggul, keputihan yang tidak normal, dan rasa sakit saat berhubungan seks. Untuk itu, jika Anda merasakan berbagai gejala tersebut belakangan ini, segera konsultasikan ke dokter.

7. Kista

dideteksi lewat pap smear

Kista bartholin dan saluran Gartner bisa membuat vagina bengkak. Kista Bartholin muncul pada kelenjar Bartholin yang terletak di kedua sisi bawah lubang vagina. Terkadang, kelenjar ini juga bisa mengalami infeksi yang berisi nanah dan membentuk abses.

Selain itu, kista juga bisa tumbuh di saluran Gartner, yaitu saluran yang terbentuk pada janin ketika organ kemih dan seksualnya berkembang. Jaringan sisa yang menempel dan tidak hilang setelah melahirkan di dinding vagina inilah yang kemudian berkembang menjadi kista. Meski tidak berbahaya, kista ini bisa menimbulkan masalah ketika tumbuh dan mengalami infeksi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Selain makanan dan debu, alergi obat antibiotik juga perlu diperhatikan. Apa itu alergi antibiotik? Cari tahu penjelasan lengkapnya di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Alergi sperma bukan sekadar mitos. Menurut penelitian ada 12% wanita di dunia ini yang mengalami kondisi ini. Apakah bisa disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Mengenal Alergi Lateks, Termasuk Karet Gelang dan Kondom

Orang yang mengidap alergi lateks bisa mengalami mulai dari gatal-gatal hingga sesak napas setiap terpapar bahan karet lateks. Bagaimana cara mencegahnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

Kulit mendadak memerah, hidung meler, dan bersin-bersin di ruangan ber-AC? Ini mungkin pertanda gejala alergi dingin. Simak ciri-ciri alergi dingin lainnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alergi binatang kucing dan anjing

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
ngompol saat seks

Sering Merasa Kebelet Pipis Saat Berhubungan Seks, Normalkah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
menghadapi anak masturbasi

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit