Anda mungkin pernah mengalami hal ini. Dokter meresepkan antibiotik untuk mengobati penyakit Anda, dengan pesan, “Harus dihabiskan!” Namun, baru 1-2 hari minum antibiotik, Anda sudah langsung merasa sehat. Padahal, antibiotik yang sudah diresepkan oleh dokter Anda belum habis.

Anda mungkin pernah mendengar anjuran bahwa minum antibiotik harus sampai habis. Bahkan jika Anda sudah sehat kembali, antibiotik yang tersisa tetap harus diminum terus sampai habis. Memangnya, apa yang akan terjadi kalau antibiotik tidak dihabiskan?

Apa bedanya obat antibiotik dengan obat lainnya?

Antibiotik berfungsi untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Cara kerja antibiotik adalah dengan membunuh atau menghambat proses pertumbuhan organisme kecil yang berbahaya dalam tubuh, seperti parasit, jamur, dan bakteri.

Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti seperti tuberkulosis (TBC), sipilis, sinusitis, dan radang tenggorokan biasanya bisa dilawan dengan antibiotik. Namun, antibiotik akan kurang manjur dalam mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus seperti influenza, herpes, atau hepatitis.

Oleh sebab itu, jika Anda menderita penyakit tertentu, penting untuk mencari tahu apakah penyebabnya infeksi bakteri atau infeksi virus. Karena, Anda hanya boleh minum antibiotik jika penyakit Anda disebabkan oleh bakteri.

Hanya dokter yang bisa menentukan hal ini. Itulah sebabnya obat-obatan antibiotik hanya bisa Anda peroleh berdasarkan resep dokter.

Kalau sudah sembuh, apakah antibiotik tetap harus dihabiskan?

Penggunaan antibiotik yang tepat akan efektif menghentikan infeksi dan mempercepat penyembuhan. Jadi, Anda harus benar-benar memerhatikan pesan dokter ketika Anda diberi obat antibiotik. Tergantung pada gejala dan tanda-tanda yang muncul, antibiotik biasanya diresepkan untuk penggunaan 5-14 hari.

Jika Anda berhenti minum antibiotik sebelum waktu yang ditetapkan oleh dokter, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungapkan bahwa Anda berisiko mengalami resistensi antibiotik.

Hal ini bisa terjadi karena meskipun gejala penyakit yang Anda alami sudah berkurang atau hilang, mungkin saja bakteri yang bersarang dalam tubuh belum mati seluruhnya. Bakteri yang masih tersisa dalam tubuh dan akan mengalami mutasi.

Mutasi ini akan mengakibatkan bakteri tersebut kebal terhadap antibiotik tertentu (bisa obat antibiotik yang Anda konsumsi terakhir kali, atau antibiotik yang sejenis). Maka ketika Anda diserang infeksi bakteri lagi di kemudian hari, obat antibiotik yang diresepkan dokter mungkin tak akan mempan lagi untuk mengobati penyakit Anda.  

Resistensi antibiotik, efek berbahaya akibat antibiotik yang tak dihabiskan

Seperti sudah dijelaskan di atas, resistensi antibiotik bisa terjadi jika obat antibiotik Anda tidak diminum sampai habis sesuai aturan dokter. Apa itu resistensi antibiotik?

Resistensi antibiotik adalah kondisi saat bakteri yang menyerang tubuh Anda menjadi kebal terhadap antibiotik. Orang-orang yang mengalami resistensi antibiotik akan sulit disembuhkan dari infeksi bakteri yang menyerangnya. Hal ini berisiko menyebabkan kematian. Data yang dilaporkan oleh Republika mencatat bahwa di seluruh dunia, diperkirakan ada 700 ribu kematian yang disebabkan oleh resistensi bakteri.

Kenapa resistensi antibiotik bisa berakibat fatal?

Resistensi antibiotik bukanlah hal sepele. Ini karena, jika Anda sudah kebal terhadap antibiotik tertentu, tidak banyak jenis antibiotik yang tersedia sebagai pengganti untuk menyembuhkan penyakit Anda. Antibiotik terbaru yang berhasil dikembangkan oleh para ahli terakhir kali muncul pada 2005 silam. Itu berarti, pilihan seseorang yang terjangkit infeksi bakteri sangat terbatas.

Namun, beberapa penelitian terbaru seperti yang diterbitkan dalam Australian Medical Journal menyebutkan bahwa risiko ini tidak bersifat mutlak dialami oleh setiap orang. Menurut penelitian tersebut, resistensi antibiotik akibat tidak menghabiskan obat antibiotik tidak terjadi pada beberapa orang dan penyakit tertentu.

Sayangnya, sangat sulit untuk menentukan apakah Anda termasuk orang yang berisiko tinggi mengalami resistensi antibiotik atau tidak. Maka, untuk menghindari risiko ini sebaiknya Anda tetap minum antibiotik sampai habis, sesuai anjuran dokter Anda.

Bagaimana kalau dokter meminta Anda berhenti minum antibiotik padahal belum habis?

Anda hanya bisa menghentikan pengobatan antibiotik lebih cepat jika hal tersebut memang diperbolehkan atau disarankan oleh dokter. Biasanya dokter akan memberi tahu Anda untuk berhenti minum antibiotik yang diresepkan setelah Anda merasa baikan untuk beberapa penyakit, misalnya nyeri dada atau infeksi saluran kencing.

Apabila dokter tidak memberi informasi apakah Anda perlu minum antibiotik sampai habis, sebaiknya tanyakan dulu pendapat dokter sebelum Anda memutuskan berhenti minum obat.

Dokter juga mungkin hanya meresepkan antibiotik selama tiga hari. Meskipun relatif singkat, bisa jadi dokter tersebut sudah mempertimbangkan hasil penelitian terbaru yang mengungkapkan bahwa penyakit tertentu sudah bisa diatasi dengan konsumsi antibiotik lebih cepat.

Maka, selalu dengarkan anjuran dokter Anda dan selalu tanyakan lebih lanjut bila Anda belum yakin.

Kemudian, WHO juga berpesan bahwa jika penyakit yang diderita masih bisa disembuhkan tanpa antibiotik, sebaiknya hindari konsumsi obat antibiotik. Selain itu, selalu patuhi anjuran dokter saat minum antibiotik agar Anda terhindar dari risiko-risiko yang tidak diinginkan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca