Bahaya dan Risiko Jika Terlalu Sering Gonta-ganti Warna Rambut

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 14/03/2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Berganti-ganti warna rambut memang bisa membuat tampilan selalu baru dan segar. Namun, jangan abaikan efek sampingnya ya. Pasalnya, pewarna rambut mengandung banyak sekali bahan kimia yang bisa membahayakan kesehatan jika digunakan terlalu sering. Sebelum Anda mewarnai rambut terlalu sering, yuk, ketahui dahulu efek serta bahayanya.

Daftar kandungan pewarna rambut beserta efeknya

perbedaan-warna-rambut

Bahan kimia di dalam pewarna rambut tak hanya meresap ke dalam rambutnya saja, tetapi juga ke kulit kepala Anda. Bahkan, partikel pewarna rambut bisa dengan mudah terhirup saat proses pewarnaan di salon. Berikut berbagai bahan kimia yang biasanya terkandung di dalam pewarna rambut beserta efek sampingnya untuk kesehatan:

  • Para-phenylenediamine (PPD), memicu reaksi alergi dan sebagai karsinogen (zat penyebab kanker).
  • Tar batubara, menimbulkan reaksi alergi.
  • Formaldehid, karsinogen dan memicu kerusakan janin di dalam rahim.
  • Hidrogen peroksida, membuat mata perih seperti tersengat.
  • Timbal asetat, memicu masalah saraf serius dan sebagai karsinogen (zat penyebab kanker).
  • DMDM hydantoin, memicu masalah pada sistem kekebalan tubuh.
  • Amonia, bersifat racun, korosif, dan menyebabkan masalah pernapasan.
  • Resorsinol, mengacaukan hormon tubuh dan berpotensi sebagai karsinogen.

Bahaya terlalu sering mewarnai rambut

mewarnai rambut menyebabkan kanker

Mewarnai rambut terlalu sering ternyata bisa meningkatkan risiko kanker. Menurut sebuah penelitian tahun 2001 yang diterbitkan di International Journal of Cancer, wanita yang mewarnai rambutnya dengan pewarna permanen sebulan sekali selama setahun dua kali lebih berisiko terkena kanker kandung kemih. Risiko ini bahkan meningkat tiga kali lipat jika Anda menggunakan pewarna permanen selama 15 tahun atau lebih.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemology juga menunjukkan bukti serupa. Wanita yang mewarnai rambut delapan kali dalam setahun atau lebih selama 25 tahun berisiko dua kali lipat terkena kanker limfoma non-Hodgkin (LNH). Kanker ini berkembang dari sel darah putih yang bisa ditemukan di kelenjar getah bening, limpa, dan organ lain dalam sistem kekebalan tubuh.

Meski beberapa penelitian telah memberikan buktinya, tetap dibutuhkan penelitian lanjutan untuk membantu memperjelas efek terlalu sering mewarnai rambut. Namun, untuk menghindari berbagai risikonya sebaiknya jangan melakukannya terlalu sering. Semakin sering Anda mewarnai rambut, akan semakin banyak pula paparan racun pada tubuh Anda.

Coba gunakan pewarna alami

pewarna rambut

Menurut Sonya Lunder, MPH., seorang analis senior di Environmental Working Group, berbagai pewarna rambut alami seperti henna lebih aman dan disarankan jika Anda memang ingin mewarnai rambut. Selain itu, ada banyak bahan pewarna rambut yang terbuat dari bahan alami dan organik. Berbagai bahan alami ini umumnya tidak mengandung racun seperti yang terdapat pada produk berbahan kimia.

Selain itu, jika Anda mewarnai rambut sendiri di rumah, pastikan untuk mengikuti petunjuk penggunaannya. Gunakan sarung tangan saat mengoleskannya dan jangan mendiamkan pewarna di rambut lebih lama dari yang seharusnya.

Pastikan juga untuk tidak mencampur produk pewarna rambut yang berbeda karena berisiko tinggi menimbulkan masalah pada rambut dan kulit kepala. Anda juga tidak disarankan menggunakan pewarna rambut untuk mewarnai alis atau bulu mata karena bisa saja menimbulkan efek kebutaan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Faktor Risiko Kanker Ovarium yang Mesti Diwaspadai Para Wanita

Penyebab kanker ovarium belum diketahui dengan pasti, namun ada beberapa hal yang bisa menjadi faktor risiko kanker ovarium. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Fakta Unik 03/11/2018 . Waktu baca 3 menit

Waspada, Sering Makan Terlalu Malam Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Hati-hati kalau Anda sering makan terlalu malam. Menurut penelitian, kebiasaan itu bisa membuat Anda rentan kena penyakit kanker. Kenapa bisa begitu, ya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Fakta Unik 17/09/2018 . Waktu baca 4 menit

Pramugari Lebih Berisiko Tinggi Kena Kanker Payudara, Ungkap Studi Harvard (Kenapa?)

Pramugari adalah salah satu profesi yang cukup diminati banyak wanita muda. Namun, profesi prestise ini menyimpan risiko kanker yang lebih tinggi. Kenapa?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kanker Payudara, Health Centers 10/09/2018 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Minum Teh Panas Meningkatkan Risiko Kanker Kerongkongan?

Kita semua tahu minum teh panas dapat membuat tubuh terasa lebih rileks. Namun, benarkah kalau ini juga bisa meningkatkan risiko kanker kerongkongan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Fakta Unik 30/06/2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala alergi cat rambut

Ingin Warnai Rambut? Hati-hati, Kenali Dulu Gejala Alergi Cat Rambut

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020 . Waktu baca 5 menit
pewarna rambut kanker payudara

Pewarna Rambut Permanen Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 04/04/2020 . Waktu baca 5 menit
risiko kanker

5 Hal Tak Terduga yang Ternyata Bisa Meningkatkan Risiko Kanker

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 05/02/2019 . Waktu baca 4 menit
setelah operasi angkat rahim

Masih Mungkinkah Terserang Kanker Ovarium Meski Sudah Operasi Angkat Rahim?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 17/12/2018 . Waktu baca 4 menit