Apakah Alzheimer Dapat Disebabkan Oleh Infeksi Bakteri di Otak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 16/12/2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Semakin tua, Anda semakin berisiko mengalami penyakit Alzheimer atau yang lebih akrab disebut “pikun”. Alzheimer umumnya rentan dialami oleh lansia di atas 65 tahun, tapi gejalanya bisa mulai muncul sedikit-sedikit sejak usia 40-an. Hingga kini penyebab penyakit Alzheimer sebenarnya masih jadi misteri. Namun, sejumlah peneliti medis dan pakar kesehatan menduga bahwa kuman yang hidup di otak mungkin bisa menjadi penyebab Alzheimer. Simak penjelasannya pada ulasan berikut ini.

Sekilas tentang penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer pertama kali ditemukan tahun 1906 oleh seorang dokter bernama Alois Alzheimer setelah mengamati sel-sel saraf otak pasiennya yang mengerut sehingga menyebabkan hilang ingatan secara bertahap.

Alzhimer adalah penyakit yang menyerang fungsi kognitif otak sehingga membuat seseorang sulit mengingat, berpikir, berbicara, bahkan berbahasa. Penyakit degeneratif ini juga menyebabkan perubahan perilaku pengidapnya dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sampai sejauh ini, dunia medis belum dapat menunjuk apa pastinya penyebab Alzheimer. Mereka berpendapat bahwa kemungkinan besar penyakit ini muncul sebagai hasil dari kombinasi dari gejala penuaan alami dan penumpukan plak beta-amyloid di otak.

Demikian pula dengan obat penyembuhnya yang belum dapat ditemukan. Namun, peneliti terus menggali lebih dalam mengenai penyakit ini.

Infeksi kuman di otak bisa jadi penyebab penyakit Alzheimer?

Sebuah studi oleh University of Bristol yang diterbitkan dalam jurnal daring Frontiers in Aging Neuroscience menemukan bahwa otak pengidap Alzheimer cenderung memiliki jumlah dan jenis bakteri hingga 7 kali lipat lebih banyak ketimbang otak orang yang sehat. Peneliti menyimpulkan temuan ini mengamati DNA bakteri yang ada pada otak masing-masing sampel penelitian lewat metode yang disebut DNA sequencing.

Otak orang yang sehat mengandung sangat sedikit bakteri. Pasalnya, otak memiliki segel khusus di belakang pembuluh darah utamanya yang sangat sulit ditembus masuk oleh bakteri.

Itu artinya jika otak mengalami peningkatan jenis dan populasi bakteri, kemungkinan besar segel tersebut sudah tidak lagi berfungsi seperti semestinya untuk menghalangi masuknya bakteri. Hal ini ditemukan lebih mungkin terjadi pada orang yang berisiko Alzheimer karena faktor keturunan (genetik).

“Pada pasien Alzheimer, saraf-saraf di otaknya mengalami peradangan sehingga akan terus mengerut. Peradangan ini kemungkinan adalah reaksi dari infeksi bakteri,” jelas David Emery, salah satu anggota penelitian.

Meski begitu, perlu dipahami bahwa lingkup penelitian ini terbilang sempit. Tim peneliti hanya membandingkan 8 sampel otak jenazah pengidap Alzheimer dan 6 otak dari jenazah yang sudah terbukti tidak berisiko atau mengidap Alzheimer semasa hidupnya). Masih dibutuhkan lebih banyak penelitian lagi untuk dapat memastikan benar apakah infeksi bakteri di otak benar-benar bisa menjadi penyebab Alzheimer.

gejala penyakit alzheimer

Kemungkinan penyebab penyakit Alzheimer lainnya

Ini bukan yang pertama kalinya buat para ilmuwan menduga infeksi bakteri dapat menjadi penyebab Alzheimer. Penelitian-penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa penyandang Alzheimer pada semasa hidupnya pernah terinfeksi dengan kuman tertentu selain bakteri, seperti jamur dan virus.

Namun, teori penyebab Alzheimer yang paling populer sampai saat ini adalah penumpukan protein beta-amiloid di otak. Pada orang sehat, kelebihan beta-amyloid yang ada di otak akan dipecah dan disebarkan ke seluruh bagian otak. Namun pada pasien Alzheimer, protein ini mengeras menjadi plak sehingga mencegah sel-sel saraf di otak bekerja secara normal.

Ada juga teori yang menyebutkan bahwa ada kelainan tertentu dalam otak yang dapat menyebabkan  penyakit Alzheimer. Pada pasien Alzheimer, tau, serat-serat protein di otak yang berfungsi mengangkut nutrisi ke antar sel dicurigai tidak bisa bekerja semestinya. Kelainan ini sering kali terjadi pada orang yang memiliki satu bentuk gen apolipoporotein E (APOE) pada kromosom 19. Gen ini disepakati oleh para peneliti memiliki risiko terkena penyakit Alzheimer lebih tinggi dibanding gen lainnya.

Selain faktor gen, gaya hidup seseorang juga bisa memengaruhi risiko penyakit Alzheimer. Ini melibatkan pola makan, aktivitas fisik, dan keterlibatan sosialnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Potensi Obat Asma Sebagai Pengobatan Baru untuk Alzheimer

Sebuah studi menunjukkan bahwa obat penyakit asma memiliki potensi untuk mengatasi penyakit Alzheimer. Penasaran? Simak lebih lanjut ulasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Asma, Health Centers 14/11/2018 . Waktu baca 4 menit

Tak Cuma Pikun, Ini 10 Tanda Penyakit Alzheimer yang Perlu Anda Cermati

Penyakit Alzheimer membuat seseorang jadi mudah lupa. Namun, selain itu masih banyak ciri-ciri Alzheimer yang juga harus diwaspadai. Cari tahu di sini, ya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Hidup Sehat, Fakta Unik 07/11/2018 . Waktu baca 5 menit

Pentingnya Asupan Vitamin B-12 Bagi Kesehatan Lansia

Di antara semua jenis vitamin yang ada, lansia perlu lebih memerhatikan kebutuhan vitamin B12 hariannya. Memang apa manfaat vitamin B12 untuk lansia?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Nutrisi, Hidup Sehat 07/11/2018 . Waktu baca 4 menit

Meluruskan 7 Mitos Penyakit Alzheimer yang Patut Dibantah

Penyakit Alzheimer bukan penyakit langka di Indonesia, sekitar 1 juta orang hidup dengan penyakit ini. Sayangnya, banyak orang keliru memahami penyakit ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Tips Sehat 26/10/2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

buah untuk alzheimer

Rutin Makan Buah Bermanfaat Menurunkan Risiko Penyakit Alzheimer

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020 . Waktu baca 4 menit
penyebab pikun

Pikun Tidak Selalu Gejala Alzheimer: 3 Hal Ini Mungkin Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 13/02/2019 . Waktu baca 4 menit
penyakit akibat gula

5 Masalah Kesehatan Akibat Konsumsi Gula Berlebih (Selain Diabetes)

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 09/12/2018 . Waktu baca 5 menit
tahap penyakit alzheimer

Tahap Penyakit Alzheimer, dari Stadium Awal Hingga Lanjut

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Dipublikasikan tanggal: 04/12/2018 . Waktu baca 4 menit