Apakah Alzheimer Dapat Disebabkan Oleh Infeksi Bakteri di Otak?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Semakin tua, Anda semakin berisiko mengalami penyakit Alzheimer atau yang lebih akrab disebut “pikun”. Alzheimer umumnya rentan dialami oleh lansia di atas 65 tahun, tapi gejalanya bisa mulai muncul sedikit-sedikit sejak usia 40-an. Hingga kini penyebab penyakit Alzheimer sebenarnya masih jadi misteri. Namun, sejumlah peneliti medis dan pakar kesehatan menduga bahwa kuman yang hidup di otak mungkin bisa menjadi penyebab Alzheimer. Simak penjelasannya pada ulasan berikut ini.

Sekilas tentang penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer pertama kali ditemukan tahun 1906 oleh seorang dokter bernama Alois Alzheimer setelah mengamati sel-sel saraf otak pasiennya yang mengerut sehingga menyebabkan hilang ingatan secara bertahap.

Alzhimer adalah penyakit yang menyerang fungsi kognitif otak sehingga membuat seseorang sulit mengingat, berpikir, berbicara, bahkan berbahasa. Penyakit degeneratif ini juga menyebabkan perubahan perilaku pengidapnya dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sampai sejauh ini, dunia medis belum dapat menunjuk apa pastinya penyebab Alzheimer. Mereka berpendapat bahwa kemungkinan besar penyakit ini muncul sebagai hasil dari kombinasi dari gejala penuaan alami dan penumpukan plak beta-amyloid di otak.

Demikian pula dengan obat penyembuhnya yang belum dapat ditemukan. Namun, peneliti terus menggali lebih dalam mengenai penyakit ini.

Infeksi kuman di otak bisa jadi penyebab penyakit Alzheimer?

Sebuah studi oleh University of Bristol yang diterbitkan dalam jurnal daring Frontiers in Aging Neuroscience menemukan bahwa otak pengidap Alzheimer cenderung memiliki jumlah dan jenis bakteri hingga 7 kali lipat lebih banyak ketimbang otak orang yang sehat. Peneliti menyimpulkan temuan ini mengamati DNA bakteri yang ada pada otak masing-masing sampel penelitian lewat metode yang disebut DNA sequencing.

Otak orang yang sehat mengandung sangat sedikit bakteri. Pasalnya, otak memiliki segel khusus di belakang pembuluh darah utamanya yang sangat sulit ditembus masuk oleh bakteri.

Itu artinya jika otak mengalami peningkatan jenis dan populasi bakteri, kemungkinan besar segel tersebut sudah tidak lagi berfungsi seperti semestinya untuk menghalangi masuknya bakteri. Hal ini ditemukan lebih mungkin terjadi pada orang yang berisiko Alzheimer karena faktor keturunan (genetik).

“Pada pasien Alzheimer, saraf-saraf di otaknya mengalami peradangan sehingga akan terus mengerut. Peradangan ini kemungkinan adalah reaksi dari infeksi bakteri,” jelas David Emery, salah satu anggota penelitian.

Meski begitu, perlu dipahami bahwa lingkup penelitian ini terbilang sempit. Tim peneliti hanya membandingkan 8 sampel otak jenazah pengidap Alzheimer dan 6 otak dari jenazah yang sudah terbukti tidak berisiko atau mengidap Alzheimer semasa hidupnya). Masih dibutuhkan lebih banyak penelitian lagi untuk dapat memastikan benar apakah infeksi bakteri di otak benar-benar bisa menjadi penyebab Alzheimer.

gejala penyakit alzheimer

Kemungkinan penyebab penyakit Alzheimer lainnya

Ini bukan yang pertama kalinya buat para ilmuwan menduga infeksi bakteri dapat menjadi penyebab Alzheimer. Penelitian-penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa penyandang Alzheimer pada semasa hidupnya pernah terinfeksi dengan kuman tertentu selain bakteri, seperti jamur dan virus.

Namun, teori penyebab Alzheimer yang paling populer sampai saat ini adalah penumpukan protein beta-amiloid di otak. Pada orang sehat, kelebihan beta-amyloid yang ada di otak akan dipecah dan disebarkan ke seluruh bagian otak. Namun pada pasien Alzheimer, protein ini mengeras menjadi plak sehingga mencegah sel-sel saraf di otak bekerja secara normal.

Ada juga teori yang menyebutkan bahwa ada kelainan tertentu dalam otak yang dapat menyebabkan  penyakit Alzheimer. Pada pasien Alzheimer, tau, serat-serat protein di otak yang berfungsi mengangkut nutrisi ke antar sel dicurigai tidak bisa bekerja semestinya. Kelainan ini sering kali terjadi pada orang yang memiliki satu bentuk gen apolipoporotein E (APOE) pada kromosom 19. Gen ini disepakati oleh para peneliti memiliki risiko terkena penyakit Alzheimer lebih tinggi dibanding gen lainnya.

Selain faktor gen, gaya hidup seseorang juga bisa memengaruhi risiko penyakit Alzheimer. Ini melibatkan pola makan, aktivitas fisik, dan keterlibatan sosialnya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca