Tak Selalu Lewat Seks, HIV Juga Bisa Menular Lewat Hal-hal Tak Terduga Berikut

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Cara penularan HIV sampai saat ini masih sering dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang, perilaku seks bebas, serta hubungan seksual sesama jenis. Padahal, HIV/AIDS bisa ditularkan pada siapa saja. Termasuk orang yang tidak pernah menggunakan narkoba, tidak pernah menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK), dan tidak pernah berhubungan seks sesama jenis. Tahukah Anda kalau ternyata ibu rumah tangga, yang notabene tak masuk ke golongan di atas, termasuk kelompok orang-orang yang sangat rentan terkena HIV?

Penularan HIV pada orang-orang tak terduga ini sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa aktivitas sehari-hari yang sebenarnya dapat menularkan HIV, tapi tak pernah terpikirkan sebelumnya. Apa saja itu?

Berbagai cara penularan HIV selain lewat seks bebas dan jarum suntik narkoba

1. Pakai mainan seks (sex toys)

Penetrasi seks, entah itu lewat vaginal (penis ke vagina), oral (alat kelamin dan mulut), atau anal (penis ke dubur) dengan pasangan yang mengidap HIV bisa membuat Anda tertular virus. Apalagi kalau Anda berhubungan seks tanpa kondom. Ini adalah cara penularan HIV yang paling utama.

Namun, mainan seks yang dipakai bergantian juga dapat menjadi penyebab penyebaran virus dari satu orang ke yang lainnya. Bila Anda atau pasangan Anda mengidap HIV, jangan menggunakan mainan seks secara bergantian dalam satu sesi bercinta. Virus HIV memang umumnya tidak bisa hidup lama-lama di permukaan benda mati. Namun, mainan seks yang masih basah oleh sperma, darah, atau cairan vagina mungkin saja menjadi perantara virus untuk berpindah ke pasangan.

Oleh karena itu, selalu hindari menggunakan mainan seks bekas orang lain. Selain HIV, vibrator atau cincin anal milik Anda juga dapat berisiko menularkan berbagai penyakit menular seksual seperti gonore, sifilis, herpes genital, dan sebagainya. 

Juga, tenaga kesehatan menekankan setiap pasangan untuk rutin menjalani tes penyakit kelamin tahunan, sekalipun status Anda dan pasangan sudah resmi menikah. Pasalnya, banyak orang-orang yang tidak mengetahui atau bahkan menyadari bahwa dirinya telah terjangkit HIV. Gejala HIV pun pada umumnya muncul bertahun-tahun setelah infeksi pertama, yang membuatnya sulit untuk didiagnosis.

2. Bekerja di rumah sakit

Mungkin sekilas Anda berpikir bahwa petugas kesehatan adalah orang yang paling sehat karena memiliki akses dan pengetahuan yang mumpuni dalam bidang kesehatan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Petugas kesehatan di rumah sakit, Puskesmas, atau klinik malah masuk kelompok orang yang rentan terkena berbagai macam penyakit, mulai dari hepatitis sampai HIV.

Orang-orang ini dapat mengalami kontak langsung dengan darah dari pasien yang positif HIV melalui luka terbuka. Misalnya, suster perawat yang sedang mengambil darah pasien yang positif HIV. Bukannya tidak mungkin jika jarum suntik yang telah dipakai oleh pasien positif HIV tidak sengaja tertancap ke kulit petugas kesehatan (disebut juga needle-stick injury); jika darah yang terkontaminasi HIV mengenai membran mukosa seperti misalnya mata, hidung, dan mulut; atau jika darah yang terkontaminasi HIV mengenai luka terbuka di kulit. Namun begitu, peluang kecelakaan kulit tertancap jarum suntik bekas tergolong kecil, kurang dari satu persen.

Risiko petugas layanan kesehatan tertular HIV akan sangat rendah terutama jika mereka selalu memakai alat pelindung diri (seperti masker, scrub/jubah rumah sakit, penutup kepala, kacamata khusus, hingga sarung tangan) dengan lengkap dan benar ketika bertugas, juga selalu berhati-hati dalam menangani benda-benda tajam dan bekas darah yang berceceran.

cara tertular hiv

3. Sulam alis, tato alis, sulam bibir

Sebenarnya melakukan sulam alis, tato alis, dan sulam bibir cukup aman untuk kesehatan. Tapi tren kecantikan yang sedang naik daun ini dapat menjadi cara penularan HIV jika dilakukan oleh pegawai yang tidak berpengalaman atau berlisensi, juga yang tidak menggunakan peralatan steril. Pasalnya, prosedur sulam atau tato wajah ini melibatkan pengirisan kulit terbuka.

Oleh karena itu, sebelum Anda duduk dan disulam alis atau bibirnya, pastikan bahwa semua peralatan yang digunakannya steril. Khususnya, pastikan bahwa mata pisau bedah jarum yang digunakan adalah yang sekali pakai.

Minta petugas untuk membuka segel jarum baru di depan Anda sebelum memulai prosedur, dan minta ia langsung membuangnya di tempat sampah begitu selesai. Kewaspadaan seperti ini penting untuk menghindari penularan dan penyebaran infeksi melalui darah.

4. Donor darah dan cangkok organ

Salah satu syarat yang wajib dipenuhi sebelum donor adalah bahwa Anda tidak memiliki penyakit terkait infeksi yang menular lewat darah, seperti HIV. Namun, tak semua orang menyadari betul bahwa dirinya terjangkit HIV dan memutuskan untuk ikut donor darah atau organ tubuhnya untuk menolong sesama.

Jika seseorang yang positif HIV menyumbangkan darah, termasuk organ tubuh atau jaringan (seperti sumsum tulang), orang yang menerima donor kemungkinan akan terkena infeksi HIV juga.

Maka dari itu, untuk mencegah penularan HIV dan infeksi darah lainnya, petugas donor biasanya akan menguji setiap sumbangan produk darah untuk virus seperti HIV sebelum diberikan pada orang yang membutuhkan.

Sayangnya, beberapa negara berkembang mungkin tidak memiliki peralatan terkait untuk menguji semua darah. Jadi mungkin ada beberapa sampel sumbangan produk darah yang telah diterima ternyata mengandung HIV. Untungnya, kejadian ini terhitung langka.

Dalam kebanyakan kasus, produk darah yang Anda terima sebenarnya aman. Orang yang akan menyumbang darah atau organ biasanya akan diberikan pertanyaan yang akan membantu petugas donor menentukan apakah Anda memiliki risiko terjangkit HIV atau tidak.

Jika Anda khawatir, Anda memiliki hak untuk bertanya kepada petugas kesehatan mengenai hal tersebut. Anda juga tidak perlu khawatir untuk jarum yang akan digunakan, karena sama halnya dengan sulam alis maupun sulam bibir, jarum medis yang dipakai adalah jarum steril dan sekali pakai. Kalau Anda tidak yakin, mintalah petugas kesehatan untuk mengganti jarum di depan Anda sebelum melakukan transfusi atau donor.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca