Alasan Psikologis Mengapa Orang Berbohong Tak Cukup Sekali

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017
Bagikan sekarang

Sekali Anda berbohong, maka Anda harus mempersiapkan kebohongan berikutnya. Pernyataan tersebut ternyata tidak hanya sekadar nasihat atau ajaran dari orangtua Anda saja, tetapi juga dapat dijelaskan dalam ilmu sains. Ketika orang berbohong maka ia seperti kecanduan akan kebohongannya. Mungkin tidak hanya satu atau dua kebohongan saja yang terlontar dari mulutnya, tetapi lebih dari itu.

Lalu apa sih yang menyebabkan orang berbohong jika dilihat dari ilmu psikologi? Dan apa yang membuat kebohongan tersebut menjadi candu tersendiri?

Apa alasan orang berbohong?

Saat berada dalam keadaan yang terpepet, biasanya orang mulai berbohong demi mendapatkan keuntungan atau sekadar menyelamatkan dirinya dari kondisi yang terburuk. Ketika terpikir untuk berbohong, maka dalam pikiran orang tersebut langsung terlintas berbagai pertanyaan, seperti “apa yang akan saya dapatkan dari kebohongan? Ataukah kebohongan ini berdampak negatif pada saya? Dan seberapa banyak masalah atau keuntungan yang bisa saya dapatkan”. Berbagai pemikiran tersebut adalah pemicu mengapa seseorang berbohong.

Sebenarnya banyak alasan lainnya yang diakui oleh sebagian besar orang sebagai alasannya untuk berbohong, seperti tidak mau menyakiti orang yang disayangi, ingin mengendalikan situasi, hingga mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Padahal, semua alasan tersebut tidak lah perlu mereka lakukan. Apapun alasannya, kebenaran adalah fakta yang paling baik untuk didengar. Lagi pula, Anda harus berhati-hati jika sudah pernah berbohong, pasti Anda akan kecanduan untuk berbohong lagi. Kenapa?

Lalu mengapa orang berbohong berkali-kali?

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Neuroscience membuktikan sendiri bagaimana orang berbohong tak hanya cukup sekali saja. dalam penelitian ini, para ahli melihat dan menganalisis otak seseorang yang sedang berbohong. Penelitian yang hanya mengajak 80 relawan ini membuat beberapa skenario dan mengetes tingkat kebohongan dari masing-masing peserta. Kemudian, apa yang ditemukan dari penelitian tersebut?

Para ahli menyatakan bahwa kebiasaan berbohong tergantung dengan respon otak seorang individu. Jadi begini, saat seseorang berbohong maka bagian otak yang paling aktif dan bekerja ketika itu adalah amigdala. Amigdala merupakan area otak yang berperan penting dalam mengatur emosi, perilaku, serta motivasi seseorang.

Pada saat orang berbohong pertama kalinya, maka amigdala akan menolak perilaku yang Anda lakukan dengan menimbulkan respon emosi. Respon emosi ini dapat berupa rasa takut yang muncul ketika berkata bohong. Namun saat tidak terjadi hal yang buruk – padahal sudah berkata bohong – maka amigdala akan menerima perilaku itu dan kemudian tidak lagi mengeluarkan respon emosi, yang sebenarnya dapat mencegah Anda berbohong untuk ketiga kalinya.

Sebenarnya, otak Anda melawan ketika berbohong, tetapi kemudian mulai beradaptasi

Bisa dibilang jika semua orang pasti pernah berbohong, termasuk Anda. kebohongan sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh manusia. Tetapi sayangnya, Anda tidak memiliki kemampuan tersebut – pada awalnya. Ya, ketika Anda berbohong, pasti berbagai fungsi tubuh Anda berubah, seperti detak jantung lebih cepat, berkeringat lebih banyak, bahkan hingga gemetaran.

Ini artinya otak Anda merespon kebohongan yang Anda ucapkan sebelumnya. Anda merasa takut ketahuan dan akhirnya menjadi buruk bagi Anda. hal tersebut membuat otak Anda melawan dan akhirnya muncul lah berbagai perubahan fungsi tubuh itu. Namun jika Anda melakukannya berkali-kali – apalagi ketika kebohongan pertama berhasil – maka otak justru beradaptasi dengan kebohongan yang Anda lakukan.

Otak mengira bahwa tidak masalah jika berbohong satu kali, sehingga otak akan beradaptasi dan lama kelamaan tidak ada lagi perubahan fungsi tubuh ketika Anda bohong. Selain itu, hal tersebut menandakan bahwa respon emosional Anda terhadap kebohongan kian berkurang, sehingga ada akhirnya, Anda akan terus memberi tahu kebohongan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Penyebab mulut terasa pahit saat puasa biasanya tidak berbahaya. Bisa jadi, mulut terasa pahit karena Anda lalai melakukan hal yang satu ini! Apa ya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 19/05/2020

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Kurma bukan satu-satunya buah yang baik dimakan saat berbuka puasa. Lihat berbagai pilihan lainnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Monika Nanda
Hari Raya, Ramadan 14/05/2020

5 Fungsi Antiseptik Cair Selain untuk Mandi

Antiseptik mampu memusnahkan atau menghambat perkembangan bakteri pada jaringan hidup. Yuk, baca 5 fungsi antiseptik cair untuk kesehatan Anda dan keluarga.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro

Direkomendasikan untuk Anda

resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan diet sehat untuk menurunkan berat badan, cara diet sehat, menu diet sehat, makanan diet sehat, diet sehat alami

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020