Apa Perbedaan Novel Coronavirus dan SARS?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Wabah coronavirus yang melanda kota Wuhan, Tiongkok, kini lebih dikenal dengan sebutan Novel coronavirus atau 2019-nCoV. Awalnya, para ahli mengira bahwa novel coronavirus ini mirip dengan sindrom pernapasan akut berat (SARS).

Apakah jenis coronavirus baru ini benar-benar mirip atau memiliki perbedaan dengan SARS? Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui jawabannya.  

1. Asal Mula Kemunculan Virus

gejala novel coronavirus

Pada akhir 2019, novel coronavirus mulai menyerang warga di Wuhan, Tiongkok. Gejala yang muncul hampir mirip dengan pneumonia dan SARS. Misal, sesak napas, demam, dan batuk.

Menurut laporan dari World Health Organization (WHO), per tanggal 29 Januari 2020, terdapat lebih 6065 orang yang sudah dikonfirmasi mengidap novel coronavirus di beberapa negara, termasuk Tiongkok.

Jumlah pasien tertinggi tentu saja berada di negara Tiongkok, yaitu 5997 kasus. Jumlah tersebut sudah termasuk negara Hongkong, Macau, dan Taiwan.

Selanjutnya, negara kedua terbesar yang memiliki pasien novel coronavirus adalah Thailand, yakni sebanyak 14 kasus.

Dibandingkan dengan SARS, tentu jumlah kasus yang ditimbulkan oleh novel coronavirus masih belum terlalu banyak. Akan tetapi, mengingat angka kematiannya semakin bertambah, yaitu 132 orang, tentu masyarakat di seluruh dunia perlu mewaspadai wabah ini.

asma kambuh

Di sisi lain, SARS muncul di negara yang sama dengan novel coronavirus, yaitu Tiongkok. Akan tetapi, yang membedakan adalah kotanya.

SARS muncul di provinsi Guangdong, Tiongkok dan pemerintah setempat pun tidak langsung mengabari wabah coronavirus ini kepada WHO. Pemerintah Tiongkoksempat menunda informasi soal virus sebelum akhirnya melaporkan SARS kepada WHO dengan jumlah 305 korban terjangkit dan 5 di antaranya meninggal dunia. 

Wabah SARS kemudian menyebar secara global pada Juli 2003. Saat itu, SARS sudah menyebar ke 29 negara dan berdasarkan versi CDC, terdapat 8.096 terjangkit SARS dan 774 di antaranya meninggal dunia. 

Tahun 2004, wabah SARS mulai berkurang dan perlahan hilang. Sampai saat ini, kasus SARS tidak pernah lagi muncul ke masyarakat. Hal ini mungkin dikarenakan pemerintah dari negara-negara korban SARS saling membagikan informasi medis terkait mengendalikan dan memberantas virus satu ini.

2. Penyebaran novel coronavirus dan SARS

Perempuan di kantor batuk akibat penyebab batuk kering

Novel coronavirus dan SARS memiliki kesamaan, yaitu berasal dari binatang liar. Awalnya, novel coronavirus jenis baru ini merebak di pasar ikan dan SRS pun dilaporkan berasal dari musang sawit di Tiongkok bagian selatan.

Coronavirus normalnya ditemukan pada tubuh binatang liar saja. Akan tetapi, sejak terjadinya wabah SARS, coronavirus jenis baru ini juga disinyalir didapat dari kelelawar atau ular, mengingat tingkat konsumsi binatang liar tersebut cukup tinggi di Tiongkok.

Selanjutnya, penyebarannya pun mirip. Kedua virus ini, baik SARS dan novel coronavirus menyebar antar manusia. hingga menyebabkan ratusan kematian di Tiongkok.

Sumber: Business Insider Singapore

Selain itu, novel coronavirus dikonfirmasi dapat menular antar manusia dengan cepat. Hal tersebut dibuktikan melalui meningkatkan jumlah korban secara drastis dalam beberapa pekan ini meskipun hampir sebagian korban tidak pernah menyentuh atau mengonsumsi binatang liar di pasar ikan Wuhan.

Mirip dengan novel coronavirus, SARS juga sudah dipastikan menyebar melalui kedekatan antar-penderita. Entah melalui tetesan air liur yang keluar ketika batuk atau bersin atau berdekatan dengan korban.

Terlebih lagi, virus SARS juga dapat menyebar melalui permukaan atau benda yang disentuh oleh pasien SARS atau terkontaminasi dengan air liur mereka. 

Walaupun demikian, masih perlu penelitian lebih lanjut apakah penyebaran novel coronavirus sama dengan wabah SARS atau tidak.

3. Tingkat Risiko

penyakit tipes demam tifoid

Sejauh ini para tenaga medis dan ahli kesehatan menganggap bahwa novel coronavirus terbilang lebih ringan daripada SARS.

Jika dilihat dari gejalanya, menurut Department of Health di Australia, mendiagnosis penyakit novel coronavirus dapat diamati dan mirip dengan masalah pernapasan, seperti:

  • demam
  • batuk
  • sesak napas
  • irama pernapasan lebih cepat
  • sakit tenggorokan
  • pilek atau hidung meler

Selain itu, menurut data dari laman Statistaangka penularan novel coronavirus masih terbilang cukup rendah dibandingkan SARS. Bahkan, 25 dari 200 pasien awal novel coronavirus akhirnya dipulangkan setelah menjalani perawatan intensif.

rumah sakit coronavirus

WHO menjelaskan bahwa kemungkinan besar satu orang yang terkena coronavirus dapat menulari 1.4 hingga 2.5 orang. Jika dibandingkan SARS yang memiliki angka penularan 2 hingga 5 orang, angka novel coronavirus masih di bawah wabah yang sempat membuat seluruh dunia panik pada 2004.

Walaupun demikian, angka tersebut hanya bergantung pada beberapa faktor, seperti frekuensi penderita penyakit ini berinteraksi kepada orang lain.

Selanjutnya, gejala yang diakibatkan oleh virus SARS pun hampir mirip dengan novel coronavirus. Penderita SARS biasanya mengawali gejala dengan demam hingga lebih dari 38°C. Lalu muncul beberapa berikut:. 

  • batuk
  • kedinginan hingga menggigil
  • flu
  • sesak napas
  • sakit kepala
  • diare

Dalam waktu singkat, SARS telah menelan banyak korban jiwa dalam kurun waktu setahun terakhir. Akan tetapi, masih diperlukan informasi lebih lanjut apakah tingkat risiko novel coronavirus dan SARS dapat dibandingkan mengingat masih sedikit infromasi seputar wabah ini.

4. Cara mencegah virus menular

terlalu sering mencuci tangan

Pada dasarnya, kunci dari mencegah virus menular seperti novel coronavirus dan SARS adalah menjaga kebersihan tubuh, terutama tangan.

Sampai saat ini, vaksin untuk mencegah coronavirus, seperti SARS dan novel coronavirus masih belum ditemukan. Maka itu, CDC selalu merekomendasikan upaya pencegahan setiap hari agar tidak tertular virus yang menyerang sistem pernapasan Anda, seperti:

  • Mencuci tangan dengan sabun setiap sebelum dan menyentuh sesuatu
  • Menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor
  • Tidak terlalu dekat dengan orang yang sedang menderita penyakit menular
  • Tetap berada di rumah jika merasa sakit atau tidak enak badan
  • Menutup mulut dengan tisu ketika batuk dan bersin
  • Membersihkan permukaan barang yang sering dipakai atau disentuh dengan tisu

Sederhana bukan mencegah virus menular seperti novel coronavirus dan SARS? Ingat, kuncinya adalah tetap menjaga kebersihan diri dan menutupi hidung dan mulut dengan masker untuk mengurangi risiko penularan, ya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 23, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 30, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca