backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

2

Tanya Dokter
Simpan

10 Penyakit yang Lebih Sering Menyerang Wanita Ketimbang Pria

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 02/08/2023

10 Penyakit yang Lebih Sering Menyerang Wanita Ketimbang Pria

Baik pria maupun wanita, keduanya memiliki risiko yang sama untuk terserang suatu penyakit. Namun, tahukah Anda kalau ada beberapa penyakit yang lebih sering terjadi pada wanita ketimbang pria? Lantas, apa saja penyakit yang lebih sering dialami oleh kaum hawa itu?

Berbagai penyakit yang sering terjadi pada wanita

Beberapa penyakit memang diketahui hanya terjadi pada pria, seperti penyakit prostat.

Sebaliknya, ada pula kondisi medis tertentu yang hanya terjadi pada wanita, seperti penyakit yang terkait dengan rahim.

Di luar penyakit-penyakit tersebut, sebagian besar kondisi medis bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin.

Meski begitu, beberapa di antara penyakit-penyakit ini diketahui lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.

Apa saja penyakit tersebut? Berikut beberapa penyakit yang lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

1. Lupus

penyakit lupus bisa sembuh

Lupus adalah penyakit autoimun yang dapat merusak bagian tubuh mana pun.

Ini terjadi karena tubuh tidak dapat membedakan antara kuman dan sel tubuh sehat sehingga sistem kekebalan menyerang sel-sel yang sehat.

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa kenal usia dan jenis kelamin. Meski begitu, 90% penderitanya ternyata adalah wanita usia subur, sebagaimana dilaporkan oleh Women’s Health.

Kadar hormon estrogen yang meningkat pada masa subur serta adanya faktor dari lingkungan merupakan pemicu penyakit lupus di kalangan wanita.

Gejala lupus biasanya bervariasi dan cukup sulit didiagnosis. Sebaiknya, konsultasikan kepada dokter bila mengalami nyeri otot atau sendi, ruam, atau kelelahan yang berlangsung cukup lama.

2. Osteoarthritis

Meskipun osteoarthritis bisa menyerang semua jenis kelamin, wanita memiliki risiko hingga dua kali lebih besar dibandingkan pria.

Ini terjadi karena wanita memiliki sendi yang lebih fleksibel dan tendon yang lebih elastis daripada pria. Tujuannya untuk mempermudah selama masa kehamilan dan kelahiran.

Namun, fleksibilitas dan elastisitas ini justru meningkatkan risiko cedera yang lebih tinggi. Pada akhirnya, penyakit osteoarthritis lebih mungkin terjadi pada wanita.

Tidak hanya itu, wanita usia lanjut pun lebih berisiko mengalami osteoarthritis karena kadar estrogen yang semakin menurun.

Padahal, estrogen memiliki peran untuk melindungi tulang rawan dan sendi dari peradangan.

3. Depresi

gejala depresi postpartum

Penyakit yang sering terjadi pada wanita selanjutnya adalah depresi.

Bahkan, Mayo Clinic menyebut, wanita berisiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami depresi ketimbang pria.

Hal ini terjadi karena perubahan hormon pada wanita setiap bulannya.

Perubahan hormon ini bisa menimbulkan premenstrual syndrome (PMS) atau yang lebih parah, yaitu premenstrual dysmorphic disorder (PMDD) dengan gejala depresi.

Bukan cuma itu, depresi juga bisa terjadi setelah melahirkan atau yang dikenal dengan baby blues serta sebelum dan selama masa menopause.

4. Stroke

Banyak faktor risiko stroke yang sama untuk pria dan wanita. Ini termasuk riwayat keluarga dengan stroke, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.

Namun, American Heart Association (AHA) menyebut, empat dari lima wanita pernah mengalami stroke.

Bahkan, stroke menempati posisi keempat sebagai penyebab kematian pada wanita.

Hal ini bisa terjadi karena ada beberapa faktor risiko yang hanya terjadi pada wanita.

Faktor risiko tersebut meliputi komplikasi kehamilan, konsumsi pil KB, serta melakukan terapi penggantian hormon untuk meredakan gejala menopause.

5. Penyakit menular seksual

gejala TBC genital

Banyak hal yang membuat wanita lebih berisiko terhadap penyakit kelamin, seperti klamidia atau gonore.

Salah satunya adalah karena lapisan organ intim wanita cenderung lebih lembut dan tipis dibandingkan dengan pria.

Akibatnya, bakteri dan virus akan lebih mudah untuk menembus masuk ke dalam vagina.

Selain itu, gejala kondisi medis ini pada wanita pun sering kali kurang jelas dibandingkan pria.

Gejala seperti keputihan yang disertai gatal sering dianggap sebagai infeksi jamur vagina.

6. Infeksi saluran kemih

Perbedaan anatomi tubuh wanita dan pria merupakan salah satu alasan mengapa ada beberapa penyakit yang lebih sering menyerang wanita.

Salah satu penyakit yang lebih sering dialami wanita adalah infeksi saluran kemih.

Ini bisa terjadi karena letak saluran kencing wanita dekat dengan vagina dan rektum di mana banyak bakteri hidup pada bagian tersebut.

Akibat hal tersebut, bakteri dari anus atau vagina lebih mudah untuk sampai ke saluran kemih wanita.

Itu sebabnya, wanita berisiko lebih tinggi untuk terkena infeksi saluran kemih ketimbang pria.

7. Tiroid

penyebab hipotiroidisme adalah

Menurut American Thyroid Association, wanita memiliki risiko hingga lima sampai delapan kali lebih besar untuk mengalami masalah tiroid daripada pria.

Bahkan, satu dari delapan wanita akan mengalami penyakit ini selama masa hidupnya.

Salah satu penyakit tiroid yang paling umum, yaitu hipotiroidisme.

Penyakit tiroid adalah kondisi ketika tiroid tidak mampu membuat hormon tiroid yang cukup sehingga memperlambat metabolisme.

Pada wanita, kondisi ini sering menyebabkan masalah pada menstruasi, membuat wanita sulit untuk hamil, atau munculnya masalah selama kehamilan.

8. Multiple Sclerosis

Selain lupus, penyakit autoimun lain yang juga lebih sering menyerang wanita daripada pria adalah multiple sclerosis (MS).

Pasalnya, jumlah lemak pada tubuh wanita lebih besar daripada pria.

Sementara lemak tubuh dapat memicu timbulnya berbagai macam peradangan yang berujung pada penyakit.

Selain itu, adanya perbedaan hormon pada wanita dan pria juga dapat berkontribusi pada penyakit MS ini.

9. Celiac

komplikasi penyakit celiac

Women’s Health menyebut, lebih dari setengah penderita penyakit celiac adalah wanita.

Ini yang menjadi alasan mengapa akhirnya celiac masuk ke dalam daftar penyakit wanita.

Celiac merupakan kondisi autoimun di mana tubuh menyerang sistem pencernaan.

Seseorang dengan penyakit ini tidak dapat menoleransi gluten, yaitu protein yang umum ada dalam gandum.

Jika penderitanya makan makanan mengandung gluten, sistem kekebalan tubuhnya menyerang lapisan usus kecil sehingga menyebabkan diare atau perut bergas dan sakit.

10. Eating disorder

Sebagian besar peneliti belum yakin sepenuhnya apa yang menjadi akar penyebab dari anoreksia, bulimia, dan gangguan makan lainnya.

Hal ini diduga karena kombinasi dari faktor tubuh dan lingkungan sosial yang umumnya lebih banyak memengaruhi wanita dibandingkan pria.

Bukan sekadar penjelasan tersebut, faktanya, American Psychiatric Association menyebut sebagian besar gangguan makan memang terjadi pada wanita, terutama yang berusia 12—35 tahun.

Kesimpulan

Mengingat banyaknya wanita yang mengalami berbagai penyakit di atas, tak ada salahnya Anda jadi lebih waspada terhadap gejala yang muncul. Selalu konsultasikan kepada dokter jika muncul gejala terkait penyakit di atas atau tanda-tanda lainnya yang mengkhawatirkan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 02/08/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan