Cara Membedakan Keputihan Normal dan Tak Normal

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 1 Agustus 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Keputihan alias vaginal discharge adalah keluarnya cairan tubuh dari vagina. Keputihan secara alami memang terjadi pada saat seorang wanita yang mengalami perubahan sesuai dengan siklus menstruasi. Biasanya cairan yang keluar berupa cairan kental dan lengket pada seluruh siklus, namun lebih cair dan bening ketika terjadi ovulasi.

Keputihan normal vs keputihan tidak normal

Ada beberapa faktor yang masih dianggap wajar dan aman bila seorang wanita mengalami keputihan. Keputihan lebih banyak terjadi pada saat stres, kehamilan, atau aktivitas seksual.

Namun, hati-hatilah jika keputihan yang terjadi adalah keputihan patologis atau tidak normal. Tandanya cukup mudah, keputihan patologis dapat dilihat dari warna, konsistensi, volume, dan bau yang tidak seperti biasanya. Selain itu, ada gejala lain yang dialami, sebelum/bersamaan/setelah keluarnya keputihan.

Keputihan patologis biasanya disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyebab non-infeksi biasanya berkaitan dengan adanya benda asing (seperti alat kontrasepsi spiral) atau penyakit lain, seperti kanker serviks. Sedangkan penyebab infeksi meliputi infeksi bakteri, jamur dan parasit. Tiga penyebab inilah yang sering dialami oleh wanita, terutama wanita usia produktif yang masih aktif secara seksual. Bagaimana membedakannya? Yuk, kita ikuti penjelasan berikut ini.

3 penyebab utama keputihan tak normal pada wanita

Keputihan adalah salah satu masalah kesehatan yang biasanya membuat para wanita khawatir. Tapi yang harus diingat, keputihan bukanlah penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit. Keputihan patologis yang disebabkan infeksi biasanya berasal dari peradangan pada vagina, yang disebut vaginitis. Penyebab infeksi bermacam-macam, mulai dari golongan bakteri, virus, jamur sampai parasit. Berikut ini adalah penyebab radang vagina tersering dari masing-masing kelompok, yang akhirnya menyebabkan keputihan.

1. Golongan bakteri

Gardnerella vaginalis adalah jenis bakteri anaerob yang tidak membutuhkan oksigen untuk hidup. Jumlah kasus akibat infeksi bakteri ini mencapai 23.6%.

2. Golongan jamur

Candida albicans adalah jamur yang biasanya menyerang organ tubuh yang dilapisi kulit dan dinding (mukosa). Jumlah kasus keputihan akibat infeksi jamur ini paling tinggi di antara jenis infeksi lain, yaitu sekitar 15 – 42%. Keputihan jenis ini meningkat kasusnya pada wanita hamil.

3. Golongan parasit

Trikomonas vaginalis adalah parasit yang menyebabkan keputihan sekitar 5,1 – 20%.

Bagaimana mengetahui apakah keputihan saya normal atau tidak?

Keputihan patologis akan menunjukkan beberapa perubahan warna, bau, dan kekentalan untuk menunjukkan mikroorganisme penyebabnya. Begitupun dengan keluhan seperti gatal, nyeri berkemih, nyeri panggul, nyeri saat behubungan intim dan panas pada vagina, biasa menyertai keluhan keputihan.

1. Perhatikan kondisi keputihan

Kondisi cairan vagina menjadi kunci penting membedakan penyebab. Pada infeksi bakteri, cairan biasanya berwarna putih sampai keabu-abuan dan homogen. Jumlahnya sangat banyak dan lengket, sehingga mudah menempel pada pakaian dalam. Dinding vagina juga dipenuhi oleh lapisan keputihan. Sedangkan infeksi jamur menunjukkan kekentalan seperti keju atau gumpalan susu. Berwarna putih kekuningan, awalnya sedikit, bila bertambah parah, keputihan semakin banyak jumlahnya. Pada infeksi parasit, keputihan agak beda. Warnanya kuning kehijauan, lengket, dan jumlah bertambah sedikit demi sedikit per harinya. Kadangkala terlihat buih pada keputihannya.

2. Perhatikan bau keputihan

Keputihan yang normal tidak berbau, sedangkan keputihan patologis akan menimbulkan bau yang khas. Keputihan akibat infeksi bakteri biasanya berbau amis, sedangkan keputihan akibat infeksi jamur kadangkala tidak berbau. Bau yang paling khas adalah pada keputihan akibat infeksi parasit. Keputihan berbau busuk dan semakin parah ketika berhubungan seksual. Biasanya partner seksual pasien juga mengeluhkan bau tersebut.

3. Gejala penyerta keputihan

Gejala penyerta keputihan juga dapat memberikan petunjuk tentang penyebab keputihan yang dialami. Pada infeksi bakteri, gejala penyerta yang paling sering dikeluhkan adalah rasa gatal. Pasien cenderung menggaruk, sehingga vagina bisa kemerahan sampai lecet. Pada infeksi akibat jamur, rasa panas pada vagina mendominasi. Hal ini lebih parah dialami wanita hamil, karena biasanya kondisi organ kewanitaan lebih lembap, sehingga pertumbuhan jamur semakin banyak. Keputihan akibat parasit biasanya tidak menunjukkan gejala penyerta pada fase awal. Namun, bila sudah fase lanjut, gejala penyertanya lebih banyak, yaitu gatal pada vagina, nyeri saat buang air, bahkan nyeri saat berhubungan seksual.

Yang terjadi jika keputihan patologis tidak diobati

Keputihan dapat menyebabkan berbagai komplikasi jika tidak diobati dengan baik. Oleh sebab itu, segera periksakan kondisi Anda jika mengalami keputihan dengan ciri-ciri di atas. Komplikasi keputihan terutama yang disebabkan infeksi, antara lain:

  1. Radang panggul (Pelvic Inflamatory Disease = PID) dapat terjadi bila infeksi dari vagina merambat ke atas. Penyakit ini ditandai dengan nyeri tekan, nyeri panggul kronis, atau nyeri perut bawah yang tidak sembuh dengan obat anti nyeri. Biasanya pasien juga mengalami demam.
  2. Infertilitas alias kemandulan merupakan komplikasi lebih lanjut dari PID.
  3. Kehamilan ektopik yaitu kehamilan dengan janin di luar rahim, misalnya di saluran telur bahkan di rongga perut.

BACA JUGA:

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Impotensi (Disfungsi Ereksi)

    Impotensi atau impoten adalah kondisi ketika penis tidak bisa ereksi optimal saat berhubungan seks. Berikut gejala, penyebab, dan cara mengatasi impotensi.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Kesehatan Pria, Impotensi 20 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

    4 Penyebab Buah Zakar Anda Gatal dan Ingin Terus Digaruk

    Menggaruk alat kelamin terkadang sudah menjadi kebiasaan, tapi bisa juga karena memang terasa gatal. Apa saja penyebab buah zakar gatal? Apakah berbahaya?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Kesehatan Pria, Penyakit pada Pria 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Berbagai Cara Agar Pria Tahan Lama Saat Berhubungan Seks

    Pria kadang suka "keluar" duluan. Adakah cara agar seks menjadi lebih lama? Yuk simak berbagai cara tahan lama pria saat berhubungan seks di bawah ini.

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Kesehatan Seksual, Tips Seks 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

    Mengapa Wanita Lebih Sering Mendesah di Ranjang Dibanding Pria?

    Menurut penelitian, desahan wanita belum jadi jaminan kalau ia merasa cukup terangsang. Lalu apa artinya? Ini dia jawaban dari para ahli!

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Seksual, Tips Seks 18 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    obat klamidia

    Apakah Infeksi Klamidia Bisa Benar-Benar Sembuh? Begini Jawabannya

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
    Seks setelah haid

    Berhubungan Seks Sehari Setelah Haid, Apakah Bisa Hamil?

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 2 menit
    menguji keperawanan wanita

    Bisakah Mengetahui Keperawanan Wanita Lewat Ciri Fisiknya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
    tanda hamil ciri hamil

    20 Tanda-Tanda Hamil yang Harus Anda Tahu

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit