home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Setiap Orang Berisiko Kena Penyakit Menular Seksual, Bagaimana Mencegahnya?

Setiap Orang Berisiko Kena Penyakit Menular Seksual, Bagaimana Mencegahnya?

Beredarnya berbagai mitos dan kurangnya informasi mengenai infeksi menular seksual (IMS) alias penyakit kelamin masih menjadi masalah besar yang perlu diluruskan. Banyak orang yang menyangka bahwa IMS hanya terjadi pada golongan tertentu, seperti pada pekerja seks komersial (PSK). Padahal, faktanya tidak demikian. Untuk meluruskan hal ini, saya akan membahas berbagai hal penting seputar penyakit menular seksual sekaligus pencegahan yang bisa dilakukan.

Semua orang bisa kena penyakit menular seksual

Perlu Anda pahami bahwa penyakit menular seksual (PMS) bukan hanya menyerang pekerja seks komersial, melainkan siapapun yang aktif secara seksual.

Pasalnya, semua orang yang sudah aktif secara seksual memiliki risiko terkena PMS karena penularan terbesarnya terjadi melalui hubungan intim atau kontak seksual lainnya.

Ingat, penyakit menular seksual tak hanya menular lewat hubungan seks melalui vagina, tetapi juga bisa menyebar melalui seks anal dan juga oral.

Risiko seseorang terjangkit penyakit kelamin akan lebih tinggi jika memiliki lebih dari satu pasangan seksual. Namun, seseorang yang hanya memiliki satu pasangan seperti suami-istri pun masih memiliki risiko terkena penyakit kelamin.

Meskipun Anda dan pasangan tidak melakukan kegiatan seksual dengan orang lain, riwayat seksual di masa lampau juga dapat memengaruhi.

Jika salah satu pasangan ternyata sering berganti-ganti pasangan seksual, ia berisiko terkena penyakit menular seksual dari pasangan sebelumnya yang mungkin terinfeksi.

Bahkan, risiko penularan penyakit seksual juga bisa terjadi pada pasangannya di kemudian hari. Penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi, seperti infeksi jamur vagina, bahkan bisa terjadi meski tanpa berhubungan seksual sebelumnya.

Infeksi ini tumbuh dan berkembang pada orang-orang yang tidak menjaga kebersihan vagina atau punya penyakit yang melemahkan sistem imun, seperti diabetes.

Meskipun bukan termasuk ke dalam infeksi menular seksual, tetapi risiko mengalami infeksi jamur atau kandidiasis vagina bisa meningkat saat wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual.

Maka itu, sebaiknya lebih bijak dalam melakukan kontak seksual. Tanpa adanya upaya pencegahan, risiko penyakit kelamin yang menular (PMS), baik dari hubungan intim maupun tidak, bisa menyerang siapa saja yang aktif secara seksual.

Langkah tepat dalam pencegahan penyakit menular seksual

Untuk pencegahan infeksi menular seksual (IMS), secara umum ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan, yaitu:

1. Hindari seks sebelum menikah

pasangan berpegangan tangan

Kontak seksual baik melalui vagina, dubur, dan mulut sama-sama berisiko menularkan penyakit kelamin.

Oleh karena itu, hindari melakukan kontak seksual sebelum Anda menikah untuk pencegahan penyakit kelamin. Apalagi sampai berganti-ganti pasangan tanpa mengetahui dengan pasti riwayat seksual sebelumnya.

Begitu pun pada remaja yang melakukan hubungan seksual terlalu dini, risiko penularan IMS akan meningkat.

Pasalnya, jika organ intim remaja perempuan terluka, kemampuan jaringan organ untuk memperbaiki dirinya belum sempurna.

Selain bisa menyebabkan infeksi menular seksual, hal ini juga berisiko tinggi menimbulkan kanker serviks akibat virus HPV.

Kebanyakan remaja perempuan maupun laki-laki juga belum memahami cara melakukan hubungan seks yang aman dan bertanggung jawab. Alhasil, tanpa adanya pengetahuan yang cukup, remaja sangat berisiko tinggi terkena infeksi menular seksual.

Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk memberikan edukasi seksual sebagai upaya pencegahan IMS pada anak.

2. Setia pada satu pasangan

masalah rumah tangga

Meskipun hanya memiliki satu pasangan, seperti suami dan istri, tetap bisa tertular penyakit kelamin, setia pada satu pasangan dapat menurunkan risikonya.

Ini karena hobi gonta-ganti pasangan seksual berisiko tertular HIV dan penyakit kelamin lainnya, terlebih jika pasangan Anda positif memiliki penyakit menular.

Dalam pencegahan penyakit menular seksual, cobalah untuk tetap setia pada satu pasangan guna menurunkan risiko mengalaminya.

3. Mendapatkan vaksin HPV

vaksin hpv terkena kutil kelamin

Sebelum Anda aktif secara seksual, melakukan vaksinasi HPV dapat menjadi cara yang efektif untuk mencegah penularan penyakit seksual.

Vaksin ini dapat melindungi Anda dari berbagai virus HPV yang bisa menyebabkan kutil kelamin atau bahkan kanker serviks.

Jika Anda ternyata sudah memiliki virus HPV di dalam tubuh, vaksin ini juga dapat membantu mencegah virus jenis lainnya yang mungkin menular dari orang lain.

Selain HPV, terdapat juga jenis vaksin untuk pencegahan PMS lainnya, seperti vaksin hepatitis.

4. Gunakan kondom

Kondom untuk pencegahan penyakit menular seksual

Menggunakan alat kontrasepsi, seperti kondom, adalah salah satu cara untuk mencegah penyakit menular seksual.

Menurut CDC, kondom berbahan lateks dapat melindungi Anda dari virus dan bakteri yang menular melalui air mani, cairan vagina, dan darah.

Meskipun tidak 100% efektif, penggunaan kondom yang tepat sangat penting dalam pencegahan IMS. Apalagi jika Anda berhubungan seks dengan orang yang riwayat seksualnya belum diketahui secara pasti.

5. Teliti sebelum melakukan perawatan yang menggunakan jarum

manfaat donor darah

Penyakit menular seksual tidak melulu ditularkan lewat kontak seksual. Anda bisa terkena penyakit ini melalui berbagai perantara yang mungkin tidak Anda duga sebelumnya.

Asosiasi dokter kandungan dan kelamin di Amerika menjelaskan bahwa Anda perlu berhati-hati terhadap risiko penularan PMS.

Penyakit menular seksual dapat menginfeksi Anda dari berbagai cara, termasuk penggunaan jarum suntik berulang, transfusi darah saat hamil, atau pembuatan tato.

Untuk pencegahan penyakit menular seksual, selalu pastikan semua barang yang akan dimasukkan ke dalam tubuh, seperti jarum suntik, benar-benar steril dan belum pernah dipakai.

Perlukah tes sebagai pencegahan penyakit seksual?

tes penyakit kelamin

Menurut saya, Anda sangat perlu melakukan tes penyakit kelamin jika sudah aktif secara seksual. Anda perlu mewaspadai jika mengalami berbagai keluhan yang bisa menandakan gejala penyakit kelamin.

Gejala tersebut meliputi muncul benjolan di alat kelamin serta rasa panas dan gatal yang tidak kunjung hilang bahkan bisa semakin parah.

Jika mengalami kondisi tersebut, jangan ragu untuk segera mengunjungi dokter spesialis kulit dan kelamin terdekat.

Namun, tak hanya Anda, sebaiknya pasangan juga diminta untuk bersama-sama melakukan tes ini. Bagi Anda yang hendak menikah, melakukan tes penyakit kelamin dapat membantu pencegahan penularan penyakit seksual setelah menikah.

Hal ini dikarenakan tidak semua penyakit kelamin menunjukkan tanda-tanda yang jelas dan terlihat dengan mata telanjang. Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan penyakit menular seksual seperti HIV, hepatitis, dan juga sifilis.

Tidak perlu malu atau tersinggung untuk memeriksakannya karena hal ini dilakukan semata-mata demi kesehatan jangka panjang Anda dan pasangan.

Singkatnya, pastikan Anda menghindari penyakit menular seksual dengan melakukan berbagai cara pencegahan yang telah disebutkan sebelumnya.

Selain itu, carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai penyakit kelamin agar terhindar dari kekeliruan dan mitos yang menyesatkan.

Jika Anda punya keluhan atau pertanyaan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

WHO. (2019). Sexually transmitted infections (STIs). Retrieved 19 January 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sexually-transmitted-infections-(stis)

CDC. (2021). Prevention – STD Information. Retrieved 19 January 2021, from https://www.cdc.gov/std/prevention/default.htm

American College of Obstetricians and Gynecologists. (2021). How to Prevent Sexually Transmitted Infections (STIs). Retrieved 19 January 2021, from https://www.acog.org/womens-health/faqs/how-to-prevent-stis

Womenshealth.gov. (2017). Sexually transmitted infections. Retrieved 19 January 2021, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/sexually-transmitted-infections

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Dikky Prawiratama, M.Sc, Sp.KK
Ditulis oleh dr. Dikky Prawiratama, M.Sc, Sp.KK
Tanggal diperbarui 22/01/2021
x