Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Meludah Sembarangan Berbahaya untuk Orang Sekitar Anda, Hindari!

Meludah Sembarangan Berbahaya untuk Orang Sekitar Anda, Hindari!

Melihat orang yang meludah sembarangan di jalanan memang bukan pemandangan yang menyenangkan begitu Anda menginjakkan kaki ke luar rumah. Dari sudut pandang medis, meludah bukan hanya sekedar masalah sosial, tapi juga berpotensi menimbulkan bahaya bagi lingkungan.

Banyak penyakit menular bisa berpindah antarmanusia melalui kontak dengan percikan air liur (droplet) dan dahak, seperti saat batuk atau bersin. Saking besarnya risiko penularan penyakit melalui droplet, negara-negara tertentu bahkan memberikan denda yang tidak main-main bagi mereka yang berani sembarangan meludah di tempat umum.

Penyakit yang bisa menyebar akibat meludah sembarangan

menelan dahak

Dilansir dari Mayo Clinic, pada dasarnya air liur bermanfaat bagi tubuh untuk menetralkan asam yang diproduksi bakteri di dalam mulut. Dengan begitu, bakteri pun tidak berkembang biak dan menyebabkan timbulnya penyakit mulut.

Akan tetapi, air liur juga dapat menjadi perantara penularan penyakit baru. Risiko penularannya memang termasuk kecil, seperti dilansir dari laman Cleveland Clinic. Ini karena air liur mengandung antibodi dan enzim yang dapat menurunkan risiko penularan penyakit.

Namun, kuman dan bakteri yang hadir dalam liur bisa tetap hidup dalam waktu lama, bahkan setelah diludahkan. Hal inilah yang bisa meningkatkan risiko penularan infeksi.

Sejumlah virus dan bakteri dapat bertahan hingga enam jam di udara dan lebih dari 24 jam jika berada di lingkungan yang optimal. Belum lagi jika mempertimbangkan ketahanan tubuh orang-orang di sekitar yang tentu beragam.

Kebiasaan sering meludah sembarangan harus tetap dipertimbangkan sebagai salah satu faktor risiko penyebaran penyakit, terutama di wilayah-wilayah yang masih rentan akan penyakit menular yang mematikan.

Menurut para ahli kesehatan, dahak dari pasien yang terinfeksi dapat menyebarkan penyakit pernapasan yang ditularkan lewat udara seperti:

  • tuberkulosis,
  • pilek akibat infeksi rhinovirus,
  • mononukleosis akibat infeksi virus Epstein Barr,
  • herpes tipe 1,
  • hepatitis B dan C, serta
  • cytomegalovirus (berrisiko untuk janin).

Kuman-kuman ini bisa saja berpindah dari ludah di jalanan dan masuk ke hidung, tenggorokan, atau paru-paru orang di sekitarnya.

Tuberkulosis bisa menular lewat kebiasaan meludah sembarangan

tbc

Sampai saat ini, Indonesia masih menjadi negara penyumbang tuberkulosis (TBC/TB) terbesar ketiga di Asia setelah Tiongkok dan India.

Sebanyak 0,24% penduduk Indonesia menderita penyakit ini. TBC bahkan menjadi penyakit infeksi penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Tuberkulosis ditularkan melalui droplet dari batuk atau dahak yang diludahkan penderita. Droplet yang mengandung kuman ini kemudian dihirup oleh orang lain.

Bakteri penyebab TBC dapat bertahan dalam udara bebas selama 1–2 jam, tergantung dari ada-tidaknya paparan sinar matahari, kelembapan, dan ventilasi. Pada kondisi gelap dan lembap, bakteri TB dapat bertahan berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan.

Faktanya, banyak orang sebenarnya sudah pernah terpapar kuman TB selama hidupnya. Namun, hanya 10% orang yang terinfeksi TB akan menderita penyakit ini. Infeksi TB yang tidak menimbulkan gejala disebut TB laten.

Pada kebanyakan orang dengan sistem imun yang kuat, infeksi TB dapat sembuh sendiri tanpa meninggalkan sisa. Namun, tak jarang pula infeksi ini bisa sembuh dengan masih meninggalkan jejak.

Setidaknya sebanyak 10% mantan pasien TB bisa kembali kambuh karena kuman yang tadinya “tertidur” di dalam tubuh kembali menjadi aktif.

Selain TB dan beragam jenis flu, kebiasaan meludah sembarangan juga dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit lainnya, termasuk penyakit-penyakit yang tidak berkaitan dengan sistem pernapasan.

Berbagai penyakit tersebut dapat menyebar lewat kontak dengan air liur dan dahak milik pengidapnya.

Cara meludah yang lebih baik

cara meludah yang benar

Mungkin Anda sudah sering menemukan orang-orang yang meludah langsung ke tanah, terutama di tempat umum. Sekalipun bukan di tempat umum, Anda tetap tidak boleh meludah dengan cara demikian.

Ini karena setelah meludah, secara tidak sadar Anda mungkin akan menyeka mulut dengan tangan. Kemudian, Anda mungkin lupa mencuci tangan dan tidak sengaja menyentuh sesuatu atau berjabat tangan dengan orang lain.

Oleh sebab itu, pilihan terbaiknya yakni meludah ke tisu, lalu membuangnya ke tempat sampah yang benar-benar ditutup rapat. Setelah itu, lanjutkan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air.

Untuk mencegah penyebaran penyebaran penyakit menular, Anda juga bisa memberikan edukasi ini kepada orang lain agar tidak meludah sembarangan. Di samping itu, beritahu juga bahaya dari meludah tidak pada tempatnya.


Ingin mendapatkan berat badan ideal?

Yuk konsultasikan masalahmu dengan ahli gizi atau berbagi tips bersama di Komunitas Berat Badan Ideal!


Verifying...
health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Communicable Diseases That Are Spread Through Saliva http://www.livestrong.com/article/168769-communicable-diseases-that-are-spread-through-saliva/

Corstjens, P., Abrams, W., & Malamud, D. (2015). Saliva and viral infections. Periodontology 200070(1), 93-110. https://doi.org/10.1111/prd.12112

Does Saliva Have Health Risks? 3 Ways Germs Can Spread. (2020). Retrieved 26 March 2022, from https://health.clevelandclinic.org/does-saliva-have-health-risks-3-ways-germs-can-spread/

Epidemic Control for Volunteers. (2022). Retrieved 26 March 2022, from https://ifrcgo.org/ecv-toolkit/action/spitting-etiquette/

Oral health: A window to your overall health. (2022). Retrieved 26 March 2022, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/dental/art-20047475

Spitting to blame for spread of disease. (2022). Retrieved 26 March 2022, from https://www.dnaindia.com/health/report-spitting-to-blame-for-spread-of-disease-2052005

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ocha Tri Rosanti Diperbarui Apr 20
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.