home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Stroke pada Remaja: Kenali Penyebab, Gejala dan Kapan Harus ke Dokter

Stroke pada Remaja: Kenali Penyebab, Gejala dan Kapan Harus ke Dokter

Stroke menjadi salah satu penyakit yang umum menyerang orang pada usia tua. Risikonya akan semakin meningkat pada orang yang berusia 55 tahun ke atas. Namun, tidak menutup kemungkinan jika penyakit ini juga bisa menyerang orang yang usianya lebih muda, contohnya remaja. Kenapa stroke bisa terjadi pada anak remaja? Yuk, cari tahu penyebab dan kenali gejalanya berikut ini.

Penyebab utama stroke pada remaja

pusing karena darah rendah

Usia tua menjadi salah satu faktor risiko dari penyakit stroke. Meskipun begitu, beberapa kasus kecil dari penyakit ini terjadi pada anak dan remaja.

Penyebab utama dari penyakit stroke adalah pembuluh darah arteri yang tersumbat atau kebocoran dan pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan adanya gangguan sementara aliran darah ke otak sehingga menimbulkan gejala pada tubuh.

Nah, pada remaja, penyakit stroke mungkin saja terjadi jika ia memiliki satu dari kondisi kesehatan berikut ini.

1. Anemia sel sabit

Anemia sel sabit adalah kondisi darah turunan dan menyebabkan penggumpalan darah yang disebabkan oleh proses disebut ‘sickling,’ atau perubahan karakteristik dalam bentuk sel-sel darah merah dalam menanggapi stres fisik seperti infeksi.

Gumpalan darah ini dapat terbentuk di mana saja pada bagian tubuh, dan jika gumpalan darah terbentuk pada otak atau dalam perjalanan ke otak, maka akan menyebabkan stroke.

2. Kelainan pembuluh darah bawaan

Kelainan pada pembuluh darah bawaan lahir menjadi salah satu penyebab tingginya risiko stroke pada remaja.

Sebagai contoh, aneurisma otak dan malformasi arteri mungkin bisa menyebabkan gumpalan, berdampak pada stroke iskemik, tetapi lebih cenderung akan pecah, menyebabkan stroke hemoragik.

3. Masalah pada jantung

Penyakit jantung dan kelainannya bisa mengakibatkan detak jantung yang tidak teratur, masalah fungsi jantung, atau serangan jantung, yang semuanya dapat menyebabkan stroke.

Penyakit jantung bawaan umumnya terdiagnosis pada usia yang sangat dini, tetapi para remaja harus melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur untuk mendeteksi dan menangani jenis masalah yang terjadi.

4. Hipertensi

jenis tipe stroke mata

Tidak umum terjadi pada remaja, penyakit stroke biasanya merupakan komplikasi dari penyakit medis seperti ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi tekanan darah normal.

Hipertensi yang tidak diobati dapat mengganggu pembuluh darah dan dapat menyebabkan penyakit jantung atau stroke.

5. Infeksi

Pada beberapa kasus, penyakit stroke pada remaja terjadi akibat infeksi berat. Kondisi ini dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan sel-sel darah hingga dapat meningkatkan penggumpalan darah, serta mengakibatkan stroke.

Cara terbaik untuk melindungi diri terhadap infeksi serius adalah untuk tetap mengikuti perkembangan imunisasi.

6. Migrain

Jarang terkait dengan stroke, tetapi remaja yang menderita migrain mengalami tingkat stroke sedikit lebih tinggi, seperti dikutip dari studi pada jurnal Cephalalgia tahun 2015.

Remaja dengan kondisi ini harus melakukan evaluasi medis menyeluruh untuk menentukan apakah migrain benar hanya migrain ringan atau apakah sebenarnya itu adalah mini stroke.

7. Pengunaan obat/zat atau perawatan tertentu

Beberapa penggunaan obat atau perawatan yang dapat meningkatkan risiko stroke, antara lain:

  • Perawatan kanker. Meningkatkan pembentukan gumpalan darah akibat perubahan fisiologi tubuh dan juga sebagai efek samping dari pengobatan antikanker.
  • Terapi hormon atau obat yang mengubah hormon. Termasuk penggunaan steroid, pil KB, dan terapi hormon dapat hormon tubuh, fisiologi pembuluh darah dan fungsi pembekuan darah, sehingga meningkatkan risiko stroke.
  • Rokok dan alkohol. Penggunaan rokok, minuman energi, pil kafein atau narkoba merupakan faktor-faktor risiko besar untuk stroke.

8. Kolesterol tinggi

Relatif jarang terjadi pada remaja, tetapi ada beberapa gangguan metabolisme bawaan yang bisa menyebabkan kadar kolesterol naik. Hal ini dapat menyebabkan penyakit jantung serta penyakit serebrovaskular, meningkatkan risiko stroke.

9. Trauma kepala, gegar otak atau trauma berat lainnya

Penyebab terakhir yang dapat meningkatkan risiko stroke pada remaja adalah pernah mengalami trauma kepala atau gegar otak.

Seperti apa tanda dan gejala stroke pada remaja?

gejala stroke ringan

Tidak umum bagi remaja untuk mengalami stroke. Para remaja mungkin tidak mengeluh terkait gejala-gejala penyakit. Namun, beberapa remaja yang didiagnosis mengalami penyakit stroke umumnya mengeluhkan gejala berikut.

  • Nyeri kepala berat.
  • Perubahan penglihatan.
  • Lemas.
  • Kebingungan.
  • Kesulitan berbicara.
  • Kesulitan dalam memahami.
  • Tingkah laku yang tidak biasa.
  • Penurunan kewaspadaan.
  • Kesulitan berjalan.
  • Keseimbangan yang buruk.

Setiap remaja bisa saja menimbulkan gejala stroke yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya mungkin mengeluhkan gejala stroke lain yang tidak tercantum pada ulasan di atas.

Kapan harus ke dokter?

dokter

Segera cari pertolongan medis jika Anda sendiri atau anak remaja Anda mengalami tanda atau gejala stroke, meskipun tampaknya datang dan pergi atau hilang sama sekali.

Cobalah beberapa cara berikut ini untuk memastikan adanya dugaan stroke, seperti:

  • Lakukan senyum di depan cermin. Apakah satu sisi wajah Anda terkulai atau tidak.
  • Angkat kedua lengan ke atas. Apakah kedua lengan bisa terangkat atau hanya satu lengan saja.
  • Catat kapan Anda mengalami gejala.

Jika Anda menduga kemungkinan stroke pada orang terdekat, minta ia untuk tersenyum dan amati perubahan eskpresinya. Serta minta ia untuk mengangkat lengan tangan dan tanyakan kapan ia merasakan gejala pertanda stroke.

Pencatatan waktu munculnya gejala yang Anda lakukan bisa membantu dokter untuk menentukan perawatan stroke, yakni menyuntikan obat khusus alteplase (Activase). Obat ini biasanya dokter berikan dalam 4,5 jam setelah gejala pertama muncul.

Tidak hanya dengan penyuntikan obat, ada banyak pengobatan yang bisa membantu pasien dalam mengatasi penyakit stroke, salah satunya operasi pembedahan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Childhood Stroke by Stroke Association. (2012, April). Retrieved May 03, 2021, from https://www.stroke.org.uk/sites/default/files/childhood_stroke.pdf.

Escoto, M. (Ed.). (2018, December). Strokes (for teens) – nemours kidshealth. Retrieved May 03, 2021, from https://kidshealth.org/en/teens/strokes.html.

Stroke facts. (2021, March 17). Retrieved May 03, 2021, from https://www.cdc.gov/stroke/facts.htm.

Stroke. (2021, February 09). Retrieved May 03, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/symptoms-causes/syc-20350113.

Boelman, C., Shroff, M., Yau, I., Bjornson, B., Richrdson, S., DeVeber, G., . . . Askalan, R. (2014, July 22). Antithrombotic therapy for secondary stroke prevention in bacterial meningitis in children. Retrieved May 03, 2021, from https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022347614005307.

DeBaun, Michael R., et al.“Controlled Trial of Transfusions for Silent Cerebral Infarcts in Sickle Cell Anemia.” New England Journal of Medicine, vol. 371, no. 8, 2014, pp. 699–710., doi:10.1056/nejmoa1401731.

Gelfand, A. A., Fullerton, H. J., Jacobson, A., Sidney, S., Goadsby, P. J., Kurth, T., & Pressman, A. (2015). Is migraine a risk factor for pediatric stroke? , 35(14), 1252-1260. doi:10.1177/0333102415576222.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 12/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x