Cara Menyesuaikan Diri dengan Tegang Otot (Spastik) Pasca Stroke

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13/03/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Tegang otot alias spastik adalah salah satu komplikasi yang sering terjadi setelah serangan stroke. Biasanya, tegang otot muncul berbulan-bulan bahkan setahun pasca stroke, dan akan semakin tampak seiring pemulihan. Tegang otot memang cukup menyulitkan dan merupakan masalah yang tidak menyenangkan bagi pada penderita stroke, namun ada beberapa solusi untuk mengontrolnya.

Apa yang dimaksud dengan tegang otot atau spastisitas?

Otot yang terasa kaku, tegang, tidak dapat digerakkan serta tidak fleksibel dikenal sebagai tegang otot atau spastisitas.

Pasca serangan stroke, lengan, kaki atau bahkan wajah akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan ini terjadi akibat penderita stroke tidak mampu mengendalikan gerakan otot mereka. Namun, sering kali setelah serangan stroke, kelemahan pada otot justru terjadi dalam posisi yang kaku atau tegang dan membuat penderita menjadi tidak nyaman.

Ada kalanya penderita masih dapat menggerakkan otot-ototnya jika tingkat spastisitas ringan, tetapi gerakan yang dihasilkan malah tidak karuan dan tidak natural. Apabila diperhatikan, tampak bahwa otot berada pada posisi yang tidak biasa atau justru bengkok pada saat istirahat.

Spastisitas itu seperti apa?

Sering kali, rasa kaku serta lemah pada otot membuat penderita merasa sedang bergerak sangat lambat atau seperti sedang membawa beban berat pada ototnya. Kadang, otot akan terasa sakit saat sedang istirahat maupun bila digerakkan. Misalnya, jika seseorang mengalami spastisitas pada lengannya, kemungkinan ia akan merasakan ketegangan otot di lengan atau area sekitarnya, termasuk leher atau punggung. Biasanya, penderita tidak akan dapat segera merasakan sakit akibat tegang otot setelah serangan stroke, namun otot-otot yang berada di area sekitarnya akan terasa sakit setelah berbulan-bulan terjadinya tegang otot.

Apa yang dapat dilakukan untuk menangani spastisitas?

Pastikan selalu rutin berolahraga untuk mencegah kambuhnya tegang otot. Kadang, kemungkinan penderita membutuhkan bantuan orang lain untuk bergerak. Terapi fisik serta latihan rutin yang dilakukan di rumah dapat membantu mengurangi tegang otot atau spastisitas.

Banyak penderita spastisitas mengeluhkan terapi fisik yang sulit dan membuat tidak nyaman pada tahap awal, namun seiring bergulirnya waktu, terapi ini telah terbukti dapat melenturkan otot-otot yang kaku.

Resep obat yang mengendurkan tegang otot dapat membantu ketika terapi dan latihan tidak cukup meringankan spastisitas. Beberapa orang tidak dapat menggunakan pengendur otot akibat munculnya efek samping, seperti kelelahan dan pusing.

Pilihan pengobatan lain untuk meredakan spastisitas yakni suntikan pengendur otot atau toksin botulinum. Obat suntikan ini dapat bekerja pada beberapa orang, namun tidak semua, dan sering kali pengobatan jenis ini harus diulangi dalam interval yang telah diatur karena efek yang dihasilkan obat akan hilang setelah beberapa saat.

Adakah studi terkini seputar pemulihan spastisitas atau tegang otot?

Studi penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa pada kenyataannya spastisitas dapat disembuhkan. Secara keseluruhan tampak bahwa seiring dengan pulihnya spastisitas, terdapat bukti yang menunjukkan aktivitas di bagian otak yang terserang stroke juga mulai pulih. Dengan demikian, melatih otot-otot yang terserang spastisitas merupakan salah satu dari sekian banyak cara untuk membantu jaringan otak pulih pasca serangan stroke.

Bagaimana cara bertahan jika saya mengalami spastisitas?

Spastisitas memang membuat penderita menjadi tidak nyaman dan kadang menyakitkan. Apabila Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah kepada spastisitas, perlu diketahui bahwa ada solusi dan Anda tak perlu khawatir.

Bahkan yang lebih penting, apabila Anda membiarkan spastisitas tidak diobati untuk waktu yang lama, otot yang kaku akan semakin kaku. Seiring waktu, hal ini akan membuat Anda lebih sulit bergerak, menyebabkan kecacatan serta sebuah siklus yang mempersulit pemulihan stroke.

Apa yang perlu diingat?

Jika Anda merasa mengalami tegang otot atau spastisitas, bicaralah dengan dokter atau terapis fisik untuk mendapatkan pengobatan yang tepat bagi gejala spastisitas Anda. Biasanya, pengobatan medis atau terapi fisik tidak cukup memberikan hasil yang maksimal, sehingga memerlukan terapi berkelanjutan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

    Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Bagaimana COVID-19 Memicu Risiko Stroke pada Orang yang Lebih Muda?

    Tidak hanya saluran pernapasan, ternyata virus COVID-19 juga dapat menyebabkan masalah pada otak dan pembuluh darah hingga meningkatkan risiko stroke.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Coronavirus, COVID-19 11/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    sering buang air kecil

    8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
    botol plastik hangat

    Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    dampak stroke pada anak

    Stroke pada Anak, Apakah Masih Bisa Sembuh?

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 28/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    apa itu kolesterol

    7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 5 menit