Apa Hubungan antara Gangguan Tidur Apnea Obstruktif dengan Stroke?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/03/2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Gangguan tidur apnea obstruktif merupakan gangguan tidur di mana lidah serta otot-otot lain dalam faring (bagian belakang tenggorokan) menjadi lentur saat tidur, menghalangi masuknya udara menuju hidung ke paru-paru. Penyakit ini rata-rata dialami oleh sekitar 2% hingga 4% orang dalam rentang usia 40-65 tahun. Gejala pada umumnya ialah ketika seseorang yang mendengkur keras namun tiba-tiba berhenti selama terjadinya apnea (detik-detik berhentinya pernapasan).

Penyakit seperti memang jarang diketahui oleh masyarakat, namun bagaimanapun gangguan tidur apnea obstruktif memiliki hubungan dengan stroke.

Studi yang menjelaskan hubungan antara gangguan tidur apnea obstruktif dan stroke

Beberapa penelitian mendukung adanya kemungkinan hubungan antara gangguan tidur apnea obstruktif dengan stroke. Bahkan, gangguan tidur apnea obstruktif sering dialami oleh pasien pasca stroke, kebanyakan orang mengalaminya dalam beberapa saat dan tidak menyadarinya.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine mengemukakan bahwa pasien yang mengalami gangguan tidur apnea obstruktif dua kali lipat lebih berisiko terhadap stroke daripada mereka yang tidak mengalaminya, dan ini merupakan kasus yang perlu mendapatkan perhatian tinggi.

Penelitian lain dilakukan pada sejumlah orang dikenal dengan nama Studi Tidur Jantung Sehat menemukan hubungan jelas antara gangguan tidur apnea obstruktif, stroke, gagal jantung, serta serangan jantung.

Mengapa gangguan tidur apnea obstruktif dapat menyebabkan stroke?

Selama momen berhentinya pernapasan dalam gangguan tidur apnea obstruktif, kadar oksigen darah akan berkurang yang mengakibatkan jantung dan pembuluh darah harus bekerja ekstra. Selain itu, ada kemungkinan bahwa terjadi penurunan aliran darah di dalam otak serta bertambah buruknya risiko stroke lainnya sebagai hasil dari gangguan tidur apnea obstruktif.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, banyak orang mengalami gangguan tidur apnea obstruktif namun sama sekali tidak menyadarinya. Sebaliknya, mereka malah mencari bantuan medis karena kantuk berlebihan di siang hari. Gangguan tidur apnea obstruktif juga dapat menyebabkan depresi serta perubahan suasana hati yang tidak menentu.

Beberapa faktor risiko terkait dengan munculnya gangguan tidur apnea obstruktif yaitu obesitas, jenis kelamin laki-laki, dan stroke.

Bagaimana cara mengenali tanda-tanda gangguan tidur apnea obstruktif?

Pada umumnya, dokter dapat mengenali gangguan tidur apnea obstruktif hanya dengan melihat gejala yang ada, namun biasanya diperlukan penelitian untuk memastikan akurasi diagnosis.

Apa  pengobatan untuk gangguan tidur apnea obstruktif?

Dalam banyak kasus, penggunaan perangkat Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) sangat membantu dalam mengatasi penyumbatan saluran pernapasan. Untuk kasus yang akut, penyakit ini dapat diobati dengan operasi meskipun diperlukan evaluasi mengenai risiko dan manfaatnya terlebih dahulu.

Langkah apa yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan tidur apnea?

Anda dapat dengan mudah terhindar dari gangguan tidur apnea dengan beberapa tips berikut.

  • Menurunkan berat badan.
  • Hindari minum alkohol serta penggunaan obat penenang sebelum tidur.
  • Berhenti merokok.
  • Hindari tidur menghadap langit-langit.
  • Jika memungkinkan, bagian kepala dinaikkan sedikit saat tidur.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

    Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 31/05/2020 . Waktu baca 5 menit

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    botol plastik hangat

    Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    dampak stroke pada anak

    Stroke pada Anak, Apakah Masih Bisa Sembuh?

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 28/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    apa itu kolesterol

    7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    arti kedutan

    Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit