Semua yang Perlu Anda Tahu Tentang Depresi

Oleh

Depresi adalah penyakit mental yang ditandai dengan perasaan sedih yang intens. Anda juga mungkin merasa tak berdaya, putus asa, dan tidak berharga. Tidak hanya mempengaruhi Anda, depresi juga akan mengubah hubungan Anda dengan keluarga dan kerabat.

Depresi memiliki istilah medis yaitu “depressive disorder,” atau “clinical depression.” Depresi ini merupakan penyakit nyata dan bukan merupakan tanda kelemahan seseorang maupun cacat karakter. Anda harus ingat bahwa depresi dapat diobati dan banyak orang yang merasa lebih baik setelah menjalani pengobatan.

Apa saja jenis depresi?

Tergantung tingkat keparahannya, depresi terbagi menjadi:

Major depression (clinical depression): Depresi berat yang ditandai dengan gejala depresi konstan. Gejala yang menyerang bisa parah ataupun ringan, dan biasanya berlangsung selama sekitar enam bulan. Depresi berat merupakan kondisi berulang. Namun pada beberapa kasus, orang bisa saja mengalaminya hanya sekali seumur hidup.

Dysthymia: Dysthmia memiliki gejala depresi ringan yang cenderung bertahan lama (sedikitnya dua tahun). Jika Anda memiliki dysthymia, suasana hati Anda mungkin buruk dan Anda mungkin terbiasa berpikir bahwa sifat tersebut merupakan “jati diri Anda”. Gejala depresi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat mencegah Anda menikmati hidup seutuhnya.

Persistent depressive disorder: Jenis depresi ini setidaknya bertahan selama dua tahun dan gejalanya mirip dengan major depression. Anda bisa saja memiliki gejala ringan atau sedang dengan periode gejala yang lebih singkat.

Psychotic depression: Jenis depresi ini adalah kombinasi dari depresi dan psikotik. Selain suasana hati yang rendah saat mengalami depresi, orang dengan psychotic depression mungkin kehilangan kesadaran diri atas realitas dengan memercayai hal-hal yang orang lain tidak bisa dengar atau lihat.

Postpartum depression: Jenis depresi ini terjadi pada ibu yang baru setelah melahirkan. Postpartum depression jauh lebih serius daripada baby blues. Sebanyak 70-80% ibu baru terserang baby blues, sementara hanya 10-15% ibu yang menderita postpartum depression, ketika gejalanya lebih intens dan bertahan lebih lama.

Bipolar disorder (manic depression): Seseorang akan mengalami depresi bergantian dengan manic depression. Siklus ini dapat menyebabkan perilaku impulsif, hiperaktif, dan bicara cepat.

Seasonal affective disorder (SAD): Jenis depresi ini sering terjadi pada musim gugur atau musim dingin ketika hari menjadi lebih pendek dan bertahan sampai hari cerah di musim semi atau awal musim panas. Beberapa orang mungkin mengalami SAD untuk waktu yang singkat di musim panas.

Apa penyebab depresi?

Tidak ada penyebab pasti dari depresi. Hal ini biasanya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor. Banyak faktor yang dapat memicu depresi, termasuk genetika, biologi dan kimia otak, dan peristiwa kehidupan seperti trauma, kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang gagal, pengalaman anak usia dini, atau situasi stres.

Pada beberapa kasus, kondisi kesehatan lainnya juga dapat menyebabkan depresi, terutama gangguan kronis seperti seperti diabetes, kanker, penyakit jantung, dan penyakit Parkinson.

Siapa saja yang berisiko depresi?

Beberapa faktor dalam hidup Anda dapat meningkatkan risiko depresi. Anda mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena depresi jika Anda mengalami:

  • Fase kehidupan yang sulit, misalnya mengalami pengangguran, perceraian, kemiskinan, meskipun peristiwa ini dapat bertahan lama, depresi berat biasanya hanya terjadi pada orang yang memang memiliki kecenderungan akan gangguan itu.
  • Kepribadian. Anda mungkin merasa kesulitan untuk mengatasi stres dalam hidup, atau sulit beradaptasi dengan situasi baru.
  • Faktor genetik. Orang yang memiliki saudara dengan depresi menempatkan diri mereka dalam risiko yang lebih tinggi.
  • Riwayat Anda. Trauma masa kecil dapat mengubah cara Anda menanggapi rasa takut dan stres. Peristiwa lain dalam hidup seperti usaha bunuh diri, atau segala bentuk pelecehan – seksual, fisik atau substansi.
  • Beberapa obat resep dapat menyebabkan depresi, termasuk kortikosteroid, beberapa beta-blocker, interferon, dan reserpine.
  • Terlalu sering menggunakan alkohol dan amfetamin dapat memicu depresi.
  • Cedera kepala masa lalu.
  • Orang dengan riwayat depresi berat dapat mengalami kekambuhan.

Apa saja gejala depresi?

Depresi dapat menyebabkan banyak gejala. Tingkat keparahan depresi setiap orang dapat berbeda-beda.

  • Anda mungkin merasa putus asa akan masa kini dan masa depan, seolah-olah tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk mengubahnya.
  • Anda mungkin kehilangan minat dalam melakukan kegiatan bahkan rasa cinta terhadap orang  terdekat. Kegiatan sehari-hari menjadi lebih membosankan dan menjadi beban bagi Anda.
  • Anda mungkin cenderung makan banyak sehingga berat badan naik secara signifikan, atau bahkan Anda mungkin kehilangan nafsu makan sehingga berat badan turun secara drastis.
  • Pola tidur Anda dapat berubah secara signifikan. Anda juga akan menderita insomnia karena tidak mendapatkan cukup tidur, atau menikmati tidur sepanjang hari (juga dikenal sebagai hipersomnia).
  • Anda mungkin merasa resah, gelisah, atau bahkan berubah menjadi marah. Selain mudah marah, tingkat toleransi Anda mungkin rendah karena semua orang dan segala sesuatu menjadi tampak menyebalkan.
  • Energi rendah, lelah, lesu, dan tenaga fisik terkuras. Anda mungkin merasa seolah-olah lengan dan kaki menjadi berat. Bahkan, kegiatan ringan menjadi tugas yang melelahkan atau membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan.
  • Anda mungkin memiliki perasaan yang kuat untuk membenci diri sendiri. Anda mungkin merasa tidak berharga atau kerap merasa bersalah terhadap tindakan di masa lalu.
  • Anda mulai melakukan kegiatan berisiko seperti berjudi, mengemudi ugal-ugalan, atau menyalahgunakan obat-obatan.
  • Anda mungkin mengalami masalah konsentrasi, seperti kesulitan untuk fokus, membuat keputusan, atau mengingat sesuatu.
  • Anda mungkin nyeri hebat, seperti sakit kepala, sakit punggung, sakit otot, dan sakit perut.

Depresi dapat memicu tindakan bunuh diri. Tanda-tanda peringatan bunuh diri termasuk:

  • Berbicara tentang tindakan bunuh diri atau tindakan merugikan diri sendiri lainnya.
  • Mengaku putus asa atau merasa terjebak.
  • Merasa dekat dengan kematian.
  • Bertindak ceroboh, seolah-olah mereka memiliki keinginan untuk mati (misalnya menerobos lampu merah).
  • Menelepon atau mengunjungi orang untuk mengucapkan selamat tinggal.
  • Mengatakan hal-hal seperti “semua orang akan merasa lebih baik tanpa aku” atau “aku ingin pergi”.
  • Perubahan tiba-tiba dari pribadi yang sangat tertekan menjadi pribadi yang tenang dan bahagia.

Anda juga mungkin melihat depresi melalui bahasa tubuh:

  • Terlihat sengsara, mata menangis, alis berkerut, mulut cemberut.
  • Kemerosotan postur tubuh, berkurangnya kontak mata dan ekspresi wajah.
  • Gerakan tubuh tidak banyak, dan ada perubahan pada nada bicara (misalnya suara lembut dan cenderung menggunakan kata-kata monosilabik).
  • Suram, pesimis, pasif, lesu, tertutup, kritis terhadap diri dan orang lain, serta senang mengeluh.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi?

Depresi adalah penyakit serius yang akan mempengaruhi kesehatan mental dan fisik, serta perilaku dan hubungan Anda. Depresi jangka panjang yang tidak diobati dapat menyebabkan:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas yang berujung pada penyakit jantung dan diabetes
  • Penyakit fisik
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan
  • Konflik keluarga, masalah hubungan dengan orang lain, serta masalah di sekolah atau lingkungan kerja
  • Isolasi sosial
  • Cemas, panik atau fobia sosial
  • Melukai diri sendiri
  • Timbul perasaan ingin bunuh diri, berusaha bunuh diri
  • Kematian dini akibat kondisi medis lainnya.

Bagaimana cara mendiagnosis depresi?

Dokter akan menanyakan kondisi mental Anda saat ini, jika Anda selalu merasa sedih, tertekan atau putus asa. Mereka mungkin bertanya kapan perasaan tersebut terjadi dan apakah ada peristiwa baru-baru ini yang menurut Anda mungkin mempengaruhi perasaan Anda. Mereka dapat mengamati perilaku Anda untuk menemukan tanda-tanda depresi.

Beberapa tes dapat dilakukan untuk memeriksa kondisi yang dapat menyebabkan depresi. Tes ini dirancang untuk memeriksa:

  • Keracunan karbon monoksida
  • Penyalahgunaan zat (alkohol, steroid anabolik, ganja, kokain, narkotika)
  • Efek samping dari obat
  • Hipotiroidisme
  • Tumor otak
  • Penyakit Parkinson
  • Kekurangan vitamin.

Apa pengobatan untuk depresi?

Ada dua metode utama pengobatan depresi:

Psikoterap

Juga dikenal sebagai terapi bicara, seperti cognitive behavioral therapy (CBT), psikoterapi sering digunakan untuk seseorang yang mengalami depresi ringan dan sedang menjalani pengobatan untuk depresi sedang dan berat. Psikoterapi ini dirancang untuk membantu pasien mengontrol suasana hati. Cognitive behavioral therapy membantu untuk memperbaiki pola pikir negatif sementara terapi interpersonal melihat efek dari hubungan.

Terapi obat – antidepresan

Antidepresan merupakan obat yang dikonsumsi sesuai dengan resep dari dokter atau psikiater.

Obat biasanya digunakan untuk depresi sedang dan berat. Namun, obat ini tidak direkomendasikan untuk anak-anak dan dosis untuk remaja harus diperhatikan dengan seksama.

Sejumlah obat yang mungkin digunakan dalam pengobatan depresi:

  • Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) – citalopram (Celexa®), escitalopram (Lexapro®), fluoxetine (Prozac®), paroxetine (Paxil®, Pexeva®), sertraline (Zoloft®).
  • Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) – isocarboxzaid (Marplan®), phenelzine (Nardil®), selegiline, tranylcypromine (Parnate®), tranylcypromine (Phenelzine®).
  • Tricyclic antidepressants – amitriptyline (Elavil®), imipramine (Tofranil®), nortriptyline (Pamelor®), protriptyline (Vivactil®), trimipramine (Surmontil®).
  • Atypical Antidepressants – bupropion (Wellbutrin®), maprotiline, mirtazapine (Remeron®), nefazodone, trazodone.
  • Selective serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI) – desvenlafaxine (Pristiq®), duloxetine (Cymbalta®) venlafaxine (Effexor®).

Dokter dapat memberikan resep obat yang sesuai dengan kebutuhan, keberhasilan atau kegagalan pengobatan sebelumnya, efek samping yang merugikan, risiko overdosis, dan reaksi terhadap perawatan lain yang Anda jalani.

Food and Drug Administration (FDA) mengatakan bahwa “obat antidepresan dapat meningkatkan pikiran untuk bunuh diri pada beberapa anak, remaja, dan dewasa dalam beberapa bulan pertama pengobatan.” Anda harus tahu bahwa antidepresan akan meningkatkan energi Anda dalam beberapa minggu pertama, tetapi Anda tidak akan melihat peningkatan suasana hati dalam 4-6 minggu. Pikiran untuk bunuh diri umumnya muncul selama beberapa minggu pertama pengobatan.

Efek samping yang lebih ringan dialami oleh orang yang mengonsumsi obat antidepresan meliputi:

  • Sakit kepala
  • Berkeringat di malam hari
  • Mual
  • Agitasi
  • Masalah seksual
  • Mulut kering
  • Sembelit.

Bagaimana cara menangani depresi?

Orang yang mengalami depresi biasanya sembuh lebih cepat dengan bantuan dan dukungan dari orang lain. Anda harus membicarakan kondisi Anda kepada anggota keluarga dan teman-teman sembari melakukan beberapa tips di bawah ini:

  • Patuhi rencana pengobatan Anda. Anda harus mencoba untuk tidak melewatkan setiap pemeriksaan atau dosis obat bahkan ketika gejala berhenti. Pastikan Anda mengonsumsi antidepresan sesuai anjuran.
  • Pelajari informasi seputar depresi. Dorong keluarga Anda untuk belajar mengenai depresi untuk membantu mereka memahami dan mendukung Anda. Dengan memahami kondisi Anda, mereka dapat membantu Anda untuk menghindari pemicu dan memotivasi Anda untuk tetap pada rencana pengobatan.
  • Hindari konsumsi alkohol dan narkoba.
  • Konsumsi makanan sehat, aktif secara fisik, dan tidur cukup untuk memastikan kebugaran tubuh.
  • Buatlah catatan dalam jurnal. Anda dapat mengekspresikan rasa sakit, marah, takut atau emosi lainnya melalui tulisan.
  • Temukan support group, kelompok konseling dan kelompok lainnya untuk membantu meringankan depresi. Kelompok agama mungkin juga menawarkan bantuan untuk masalah kesehatan mental.
  • Pelajari cara untuk bersantai dan mengelola stress, seperti meditasi, relaksasi otot progresif, yoga dan tai chi.
  • Susun rencana kegiatan sehari-hari. Anda mungkin terbantu dengan adanya daftar tugas harian, catatan tempel sebagai pengingat agar rencana Anda lebih terorganisir. Jangan memaksakan diri Anda untuk melakukan terlalu banyak pekerjaan.
  • Jangan membuat keputusan penting ketika Anda sedang dalam kondisi di bawah. Hindari pengambilan keputusan ketika Anda merasa tertekan, karena Anda mungkin tidak berpikir dengan jernih.

Walaupun merupakan kondisi serius, depresi tetap dapat diobati. Hubungi dokter atau terapis jika Anda menemukan adanya perubahan gejala atau perasaan Anda. Mintalah kerabat atau teman untuk membantu Anda memantau gejala-gejala depresi.

BACA JUGA:

Yang juga perlu Anda baca