Kenali dan Waspadai Gejala Depresi Atipikal

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Tidak banyak yang tahu bahwa depresi sebenarnya ada banyak jenis. Salah satu jenis depresi yang paling sering didiagnosis adalah depresi mayor (major depressive disorder/MDD). Depresi mayor (MDD) kemudian dibagi lagi menjadi beberapa tipe, salah satunya adalah depresi atipikal. Dalam artikel ini, kami akan mengupas tuntas seputar depresi atipikal.

Apa bedanya depresi mayor (major depressive disorder/MDD) dan depresi atipikal?

Menurut Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders (DSM)-IV, MDD sering disebut juga sebagai depresi tipe klasik yang didefinisikan sebagai mood depresif yang berlangsung terus menerus minimal 2 minggu.

Gejala utama dari depresi mayor termasuk perasaan sedih, nelangsa, atau putus asa yang terus menerus; kehilangan minat dan gairah untuk melakukan hal yang dulu dianggap menyenangkan; kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan; dan sulit tidur. Tidak sedikit orang dengan depresi mayor yang juga memiliki pemikiran bunuh diri atau kecenderungan ingin bunuh diri.

Karena depresi atipikal adalah subtipe dari depresi mayor, ciri keduanya hampir sama. Bedanya, orang yang memiliki depresi atipikal bisa mengalami peningkatan mood sebagai respons terhadap kondisi dan kejadian positif. Sementara itu, MDD klasik tidak menunjukkan perubahan mood apapun saat menghadapi kondisi atau kejadian yang menyenangkan.

Apa saja gejala depresi atipikal?

Gejala depresi bisa bervariasi pada setiap orang. Selain gejala depresi yang umum seperti di atas, depresi atipikal akan menunjukkan gejala-gejala seperti berikut:

  • Mood membaik begitu mengalami atau melihat kejadian yang positif, atau mendengar kabar baik.
  • Mengalami minimal 2 dari gejala berikut:
    • Peningkatan berat badan atau peningkatan nafsu makan.
    • Hipersomnia, kondisi yang dialami ketika Anda sebenarnya cukup tidur tapi tetap merasa mengantuk dan kelelahan pada siang hari.
    • Paralisis alias kelemahan pada tangan dan kaki.
    • Gangguan interaksi pada kehidupan sosial dan pekerjaan.

Apa penyebab depresi atipikal?

Sama seperti jenis depresi lainnya, Penyebab pasti dari depresi atipikal belum diketahui. Namun, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalaminya. Faktor risiko yang umum antara lain:

  • Pengalaman traumatis, seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual, kematian orang yang dicintai, atau perceraian.
  • Riwayat penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.
  • Didiagnosis dengan penyakit berat seperti kanker, HIV, stroke, dan sakit jantung
  • Genetik (ada riwayat anggota keluarga yang menderita depresi)

Depresi juga bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon di otak yang mengatur suasana hati, seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamin.

Perawatan untuk depresi atipikal

Depresi tidak boleh dianggap remeh karena dapat mencegah Anda menikmati hidup seutuhnya.

Pilihan terapi perawatan untuk depresi atipikal bisa termasuk obat resep dokter, psikoterapi dengan psikolog, perubahan gaya hidup, atau juga kombinasi dari hal-hal tersebut.

Obat-obatan

Dokter mungkin meresepkan antidepresan, seperti monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) atau selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI). Dokter mungkin akan meresepkan satu atau beberapa kombinasi obat untuk mengendalikan gejala yang Anda miliki.

Pastikan untuk bertanya pada dokter Anda mengenai efek samping dan interaksi makanan atau obat sebelum Anda mulai mengonsumsinya.

Psikoterapi

Terapi ini  melibatkan pertemuan dengan terapis atau konselor secara teratur. Jenis perawatan ini memungkinkan Anda untuk mengekspresikan semua perasaan Anda, mengidentifikasi pikiran yang tidak sehat dalam diri Anda, dan belajar untuk memecahkan masalah.

Perubahan gaya hidup

Selain dengan obat dan terapi, perubahan gaya hidup dan perawatan di rumah juga dapat membantu meringankan gejala MDD ciri atipikal. Perubahan gaya hidup dan perawatan di rumah ini termasuk:

  • Menghindari narkoba dan alkohol.
  • Berolahraga setidaknya tiga kali per minggu.
  • Tidur yang cukup.
  • Menerapkan teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam dan meditasi.
  • Mengonsumsi suplemen tertentu, seperti minyak ikan.

Pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum Anda mulai mengonsumsi suplemen apa pun. Beberapa pengobatan alami dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu yang digunakan untuk mengobati depresi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Skizofrenia

Skizofrenia adalah penyakit mental. Simak informasi tentang penyebab, gejala, faktor risiko, cara pengobatan, serta pencegahan penyakit ini di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Benarkah Gangguan Jiwa Bisa Menular? Ini Jawaban dari Para Ahli

Anggapan bahwa gangguan jiwa menular bisa membuat orang-orang enggan berobat. Padahal, gangguan jiwa bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 2 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Kenapa Berat Badan Turun Drastis Saat Sedang Depresi?

Salah satu tanda seseorang sedang depresi biasanya adalah berat turun drastis. Tapi berat badan turun saat depresi ini bukan hanya karena tak nafsu makan.

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 22 November 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Gangguan Kesehatan Akibat Patah Hati

Dari mulai rambut rontok hingga tekanan darah tinggi, semua bisa terjadi hanya gara-gara putus cinta. Mengapa patah hati menyebabkan gangguan kesehatan?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

depresi pagi hari

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
makanan probiotik

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Tortikolis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 27 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
gambar gatal pada kulit

Fakta Seputar Gatal pada Kulit yang Perlu Anda Ketahui

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit