Herceptin adalah salah satu obat kanker payudara yang umum digunakan selama kemoterapi. Herceptin dilaporkan sangat efektif untuk mengobati HER2-positif, jenis kanker payudara yang paling agresif. Namun demikiam penelitian menunjukkan bahwa 1 dari 4 wanita yang menggunakan obat ini mengalami penyakit jantung sebagai komplikasinya. Akibatnya, banyak penyintas kanker payudara, khususnya yang berusia lanjut, lebih berisiko meninggal akibat penyakit jantung dibandingkan dengan kankernya itu sendiri.

Cara kerja herceptin, obat kanker payudara yang dapat mengakibatkan komplikasi jantung

Kanker payudara jenis HER2-positif adalah yang paling agresif dibandingkan dengan jenis kanker payudara lainnya. Kanker jenis ini terjadi ketika tes menunjukkan hasil positif akan keberadaan protein bernama human epidermal growth factor receptor 2 yang dapat mempercepat pertumbuhan sel kanker. Itu sebabnya kanker payudara HER2-positif kebal terhadap efek terapi hormon.

Pengobatan kanker payudata HER2-positif umumnya melibatkan penggunaan herceptin (trastuzumab) yang bekerja menghambat kerja protein HER-2 dalam tubuh. Selain menghambat perkembangan sel kanker, herceptin juga mampu merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan sel kanker.

Obat kanker payudara ini pertama kali disetujui pemakaiannya oleh Food and Drugs Administration pada tahun 1998. Kemanjuran herceptin untuk mengobati kanker payudara sangat tinggi, membuat pengidapnya memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi. Meski begitu, herceptin memiliki risiko efek samping terhadap kesehatan jantung yang perlu diwaspadai. Obat ini dapat menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah hingga di bawah 50 persen.

Obat kanker payudara lainnya, seperti doxorubicin (Adriamycin), diketahui juga memiliki risiko yang sama terhadap kesehatan jantung — ritme jantung yang tidak normal, melemahkan otot jantung, atau merusak sel-sel jantung.

Lantas, bagaimana caranya menanggulangi risiko efek samping ini?

Mencegah risiko penyakit jantung akibat kemoterapi kanker payudara

Adanya bayang-bayang risiko penyakit jantung dari kemoterapi kanker payudara tidak seharusnya tidak menghalangi pengobatan Anda, tandas para pakar. Pasalnya, obat kemoterapi yang direkomendasikan oleh dokter Anda mungkin memiliki kesempatan terbaik untuk mengobati kanker Anda. Meski begitu, banyak spesialis kanker yang berpendapat bahwa jika risiko penyakit jantung yang mendasari kondisi Anda termasuk rendah, Anda boleh tidak mengikuti kemoterapi.

Terlepas dari risikonya, ada banyak langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan jantung selama dan setelah kemoterapi. Misalnya, pemberian dosis obat yang lebih lambat dilaporkan dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

Selain itu, terapi kanker payudara sebaiknya juga harus didampingi ketat oleh spesialis jantung yang berpengalaman dalam bidang ini, karena efeknya dapat terjadi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kemudian setelah selesai kemoterapi. Risiko penyakit jantung akibat efek samping obat kanker payudara juga dapat dikendalikan dengan penggunaan obat tekanan darah jenis inhibitor ACE dan beta blocker. Selain itu, inhibitor ACE dan beta blocker juga mampu mengurangi risiko kerusakan otot jantung akibat penggunaan obat tertentu.

Dilansir dari Washington Post, Susan Gilchrist, profesor bidang pencegahan kanker dan kardiologi klinis di MD Anderson Cancer Center di Houston, mengatakan bahwa berolahraga rutin dapat menjaga kebugaran jantung selama kemoterapi. Gilchrist menambahkan bahwa pasien kanker payudara bisa mengalami penurunan kebugaran tubuh hingga 30 persen, mengalami kenaikan berat badan hingga 5 kilogram, dan mengalami penuaan dini setelah menjalani kemo selama tiga atau empat bulan. Menjaga pola makan sehat dan rutin olahraga selama dan setelah kemo dapat menangkal efek-efek tersebut, ungkap Ghilchrist. Ia merekomendasikan para penyintas kanker payudara untuk dan melakukan senam aerobik ringan setidaknya tiga kali seminggu.

Pada akhirnya, penting bagi setiap pengidap kanker untuk mengetahui bahwa kesehatan jantung perlu dijaga sebelum, selama, dan setelah perawatan. Baik pasien dan dokter harus sama-sama berdiskusi untuk mempertimbangkan manfaat dan risiko obat kanker payudara yang akan dipakai sebelum memutuskan perawatan seperti yang harus dilakukan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca