Ibu yang Mengidap HIV, Apakah Boleh Menyusui?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31/03/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan, tepatnya sel darah putih, yang kemudian menyebabkan kekebalan tubuh menjadi lemah dan menurun. Menurut data WHO, pada akihr tahun 2015 diketahui bahwa terdapat sekitar 36,7 juta orang yang terdiagnosis HIV positif, dan kematian pada penderita HIV positif ini mencapai 1,1 juta jiwa pada tahun 2015. Sedangkan di Indonesia sendiri, dari data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2014 diperkirakan ada sekitar 9.589 perempuan dan 13.280 laki-laki yang memiliki HIV positif.

HIV merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menular melalui hubungan seksual dan pertukaran cairan tubuh, seperti pada ibu yang sedang hamil atau pun ibu yang menyusui anaknya. Tanpa pengobatan yang benar dan tepat, maka orang yang terinfeksi HIV selama bertahun-tahun akan mengalami AIDS atau acquired immunodeficiency syndrome. Sementara, sampai saat ini orang yang mengalami penyakit AIDS belum bisa diobati karena belum ditemukan obat yang dapat menangani penyakit ini.

Bagaimana jika seorang ibu yang sedang menyusui memiliki HIV positif? Apakah ia tidak boleh memberikan bayinya ASI? Kita semua tahu bahwa bayi memerlukan ASI untuk menunjang pertumbuhan serta perkembangannya di masa emas. Berikut adalah penjelasan apakah ibu yang positif HIV boleh menyusui dan memberikan ASI-nya atau tidak.

Apakah virus HIV bisa ditularkan melalui ASI?

Telah diketahui sebelumnya bahwa ASI merupakan makanan yang paling cocok untuk diberikan kepada bayi yang baru lahir. Tidak ada lagi makanan yang sesempurna ASI yang bisa dicerna oleh bayi dengan mudah, mencegah berbagai penyakit infeksi, serta merupakan sumber makanan yang baik untuk proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

Namun jika ibu memiliki HIV positif, memberikan ASI pada bayi dikhawatirkan dapat menularkan bayi. ASI dapat mengandung virus HIV yang ada di ibu yang kemudian ditularkan ke bayi. Setidaknya risiko anak tertular melalui pemberian ASI dari ibu yang positif HIV ke bayi, yaitu sebesar 15-45%. UNICEF menyatakan bahwa pada tahun 2001 sebanyak 800 ribu anak mengalami HIV akibat tertular dari ibunya yang posiif HIV.

Sebelumnya, WHO menganjurkan untuk tidak memberikan ASI kepada anak yang ibunya memiliki HIV positif. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif ketika 6 bulan pertama kehidupan meningkatkan 3 hingga 4 kali risiko penularan HIV dari ibu ke bayi, dibandingkan dengan anak yang diberikan susu formula. Namun sekarang tidak lagi seperti itu, karena sebuah pebelitian yang baru menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi obat dan melakukan pengobatan, dapat mencegah virus HIV tertular ke tubuh anak.

Obat antiretroviral dapat mencegah penularan lewat ASI

Penelitian yang melibatkan 2.431 pasang ibu dan anak dilakukan di daerah Afrika Selatan, Malawi, Uganda, Tanzania, Zambia, Zimbabwe, dan India pada tahun 2011 hingga 2014. Kemudian, para peneliti memberikan obat antiretroviral kepada ibu yang memiliki HIV positif, sejak ibu tersebut mengandung, melahirkan, hingga menyusui. Obat tersebut merupakan salah satu obat yang diberikan pada pasien yang menderita HIV positif, namun tidak bisa membuatnya sembuh. Obat antiretroviral ini hanya bisa membuat pertumbuhan virus melambat dan mencegah penggandaan terjadi.

Pemberian obat ini dianggap cukup efektif untuk mencegah penularan terjadi, karena terbukti dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa di Malawi terjadi penurunan tingkat penularan sebesar 42% pada anak yang diberikan ASI dari ibu dengan HIV positif. Pada kelompok ibu tersebut, diberikan obat antiretroviral jenis nevirapine setiap harinya selama ia menyusui dalam waktu 6 bulan. Tidak hanya itu, penurunan tingkat penularan juga terjadi di Afrika Selatan yang menunjukkan penurunan hingga 18% .

Sampai saat ini mungkin banyak orang yang menganggap bahwa pemberian ASI dari ibu yang memiliki HIV positif berbahaya bagi bayi, namun tetap saja ASI merupakan makanan yang paling baik untuk bayi. Bahkan, WHO menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif lebih sering meninggal akibat kekurangan gizi dan memiliki status kesehatan yang buruk akibat gizi buruk, bukan akibat virus HIV yang ditularkan. Atau, bayi lebih sering meninggal akibat penyakit infeksi yang sering dialami oleh balita, seperti diare, pneumonia, dan berbagai penyakit infeksi yang tidak berhubungan dengan HIV. Sementara, banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa pemberian ASI dapat mencegah anak mengalami berbagai penyakit infeksi tersebut.

Jadi, apakah ibu dengan HIV boleh menyusui bayinya?

Walaupun begitu, ibu yang positif memiliki virus HIV di dalam tubuhnya dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dengan melakukan pengobatan untuk mengurangi risiko penularan ke bayinya. Tidak seperti ibu yang sehat yang masih harus memberikan ASI hingga anak berusia 2 tahun dan memberikan makanan pendamping ASI setelah 6 bulan. Pada ibu dengan HIV positif, anak yang sudah berumur lebih dari 6 bulan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan lunak dan berbagai cairan sebagai pengganti ASI. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan bayi secara rutin, sehingga dokter dapat memantau tumbuh kembang bayi dan melihat status kesehatannya.  

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Penyebab dan Cara Mengatasi ASI yang Tidak Keluar Setelah Melahirkan

    Banyak ibu yang khawatir karena setelah sang buah hati lahir ke dunia, ASI tidak kunjung keluar dari payudara. Sebenarnya, apa penyebab kondisi ini?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Parenting, Menyusui 05/06/2020 . Waktu baca 10 menit

    Penyakit yang Paling Berisiko Dialami oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

    Infeksi HIV/AIDS menyerang daya tahan tubuh membuat penderitanya sangat mudah jatuh sakit. Apa saja penyakit yang berisiko terjadi pada ODHA?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    HIV/AIDS, Health Centers 27/05/2020 . Waktu baca 4 menit

    Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

    Bukanlah hal yang mustahil jika Anda ingin segera kembali hamil setelah mengalami keguguran, tapi ketahui dulu beberapa hal berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Kesuburan, Kehamilan 18/05/2020 . Waktu baca 5 menit

    Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

    Puasa bukan menjadi alasan untuk membatasi ibu memberikan gizi yang tepat untuk janin.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Hari Raya, Ramadan 17/05/2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara memandikan bayi yang baru lahir

    Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 9 menit
    kista saat hamil di usia tua

    Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    depresi pasca melahirkan ayah

    Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    tanda istri hamil

    Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 6 menit