backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

10 Mitos Ibu Menyusui: Mana yang Benar dan Mana yang Hoax?

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri · Tanggal diperbarui 08/11/2023

10 Mitos Ibu Menyusui: Mana yang Benar dan Mana yang Hoax?

Sama seperti saat hamil, ketika menyusui pun banyak orang yang melarang dan menyarankan Anda untuk melakukan suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan. Sebab, ada beberapa hal yang dipercaya menjadi mitos ibu menyusui sejak dahulu kala.

Entah benar atau tidak, tetapi kebiasaan ini sudah dilakukan turun-temurun sehingga banyak ibu menyusui yang tetap mengikutinya. Apakah hal tersebut benar adanya atau hanya mitos ibu menyusui saja, ya? Cek faktanya di bawah ini.

Mitos ibu menyusui yang perlu dicari tahu kebenarannya

Proses menyusui bayi yang seharusnya berjalan lancar kadang bisa terhambat karena adanya satu atau dua mitos ibu menyusui.

Padahal, mitos ibu menyusui yang selama ini banyak beredar di masyarakat belum jelas kebenarannya.

Supaya tidak keliru, simak mitos dan kebenaran seputar menyusui bagi ibu berikut ini.

1. Payudara kecil menghasilkan ASI yang lebih sedikit

tips memerah asi

Secara logika, jika payudara kecil menghasilkan ASI yang lebih sedikit, berarti payudara besar menghasilkan ASI lebih banyak, betul? Namun sayangnya, hal ini hanyalah mitos ibu menyusui belaka.

Faktanya, ASI yang dihasilkan ibu tidak tergantung pada ukuran payudara ibu. Payudara kecil juga sangat mampu untuk menghasilkan banyak ASI, sama seperti payudara yang lebih besar.

Pasalnya, produksi ASI bukan ditentukan oleh banyak sedikitnya kelenjar susu di payudara yang umumnya tidak ditentukan oleh ukuran payudara.

Kelenjar susu di dalam payudara akan tumbuh dan berkembang sejak kehamilan. Jadi, kemudian saat bayi lahir, payudara ibu sudah bisa menghasilkan ASI untuk menyusui pertama kali atau melakukan inisiasi menyusui dini (IMD). 

Melansir dari Healthy Children, ukuran maupun bentuk payudara dan puting setiap ibu menyusui berbeda-beda. Tidak ada ciri payudara atau puting yang dikatakan sempurna untuk menyusui.

Payudara dalam ukuran dan bentuk seperti apa pun dapat menjalankan fungsinya untuk menyusui dengan baik.

2. Bayi lebih sering menyusu artinya ia tidak mendapatkan ASI yang cukup

ASI eksklusif merupakan makanan utama bayi sampai usianya berumur kurang lebih enam bulan. Ini karena ada banyak manfaat ASI yang baik untuk menunjang tumbuh kembang bayi.

Bayi baru lahir biasanya akan lebih sering menyusu. Frekuensi menyusui ASI bayi akan menurun seiring dengan pertambahan usianya.

Berkurangnya frekuensi menyusu bayi merupakan hal normal dan tidak perlu Anda khawatirkan.

Jika bayi menyusu lebih sering bukan berarti bayi kurang mendapat ASI. Ini hanyalah mitos ibu menyusui yang tentu tidak benar.

ASI lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan bayi. Bayi yang menyusu ASI umumnya lebih cepat merasa lapar dan haus dibandingkan dengan bayi yang minum susu formula. 

Jadi, biasanya ada perbedaan pada frekuensi menyusu bayi dengan ASI campur susu formula (sufor) meski tidak terlalu kentara.

3. ASI mengandung nutrisi yang lebih sedikit setelah satu tahun pertama

protein soya

Pernyataan ini juga hanya mitos ibu menyusui. Faktanya, ASI ibu tetap menyediakan kandungan nutrisi yang baik sampai usia bayi dua tahun.

Namun, karena bayi terus tumbuh besar, kebutuhan gizi bayi juga menjadi lebih banyak. Saat usia bayi sudah lebih dari enam bulan, pemberian ASI saja tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan gizinya.

Oleh karena itu, Anda perlu memberikan MPASI bayi atau makanan pendamping ASI.

Perkenalan bayi dengan MPASI atau makanan padat ini bisa tetap diiringi dengan pemberian ASI, tetapi dalam frekuensi dan jumlah yang berbeda. 

Jika karena satu dan lain hal ibu tidak lagi dapat memberikan ASI, pemberian ASI bisa diganti dengan susu formula.

4. Menyusui membuat payudara dan puting terasa sakit

Ketika baru pertama kali belajar menyusui, ibu mungkin merasakan ketidaknyamanan pada payudara dan puting.

Sebenarnya, menyusui tidaklah menyakitkan dan pernyataan tersebut hanyalah mitos. Namun, puting bisa terasa lebih sensitif saat menyusui karena adanya peningkatan kadar hormon setelah melahirkan.

Bukan hanya itu, kontak antara payudara dan bayi yang lebih sering terjadi selama menyusui juga menambah rasa sensitif pada puting.

Agar merasa lebih nyaman selama menyusui, Anda bisa menerapkan posisi menyusui yang tepat.

Meski puting cenderung lebih sensitif saat menyusui, jangan didiamkan bila Anda mengalami nyeri puting yang tidak biasa.

Nyeri puting yang tidak biasa termasuk satu dari berbagai masalah ibu menyusui.

Perlu Anda Ketahui

Jika puting terasa sakit yang tidak normal, sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter untuk diketahui penyebab dan penanganannya. Bila nantinya Anda diberikan obat untuk mengatasi keluhan pada puting, dokter tentu memberikan obat yang aman untuk ibu menyusui dan bayinya.

5. Semakin lama menyusui, semakin sulit bayi untuk diberikan makanan

jadwal makan bayi di bawah 6 bulan

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, bayi sudah mulai bisa diberikan makanan padat sekitar usia enam bulan.

Akan tetapi, perkembangan dan kesiapan bayi untuk menerima makanan padat dapat datang di waktu yang berbeda-beda.

Sebaiknya, perkenalkan bayi dengan makanan padat ketika dirinya dan Anda sudah siap.

Memperkenalkan dan memberikan MPASI kepada bayi sama sekali tidak berhubungan dengan lama waktu bayi menyusu, jadi ini hanya sekadar mitos ibu menyusui.

Itu sebabnya, tidak masalah untuk meneruskan pemberian ASI selama masih memungkinkan sembari menerapkan cara menyapih anak yang tepat nantinya.

6. Jangan membangunkan bayi yang sedang tidur untuk menyusu

Biasanya, bayi baru lahir tidur dalam kurun waktu yang lebih lama. Jika bayi dibiarkan tidur terlalu lama, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk menyusu ASI bisa terlewat. 

Oleh karena itu, jangan ragu untuk membangunkan bayi baru lahir yang sedang tidur agar mau menyusu.

Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), sebaiknya bangunkan bayi baru lahir yang masih terlelap bila sudah empat jam belum menyusu. 

Selain agar jadwal menyusui bayi jadi lebih teratur, membangunkan bayi untuk menyusu juga membantu merangsang produksi ASI ibu lebih banyak lagi.

Bayi baru lahir perlu untuk menyusu sebanyak 8—12 kali dalam sehari. Penting bagi Anda untuk memberikan ASI sesuai jadwal agar bayi mendapatkan cukup nutrisi.

7. Menyusui akan mengubah bentuk payudara Anda

warna cokelat di sekitar payudara

Perubahan pada bentuk payudara tidak hanya disebabkan oleh menyusui, tetapi juga karena kehamilan Anda.

Usia, efek gravitasi, dan berat badan juga dapat memengaruhi bentuk payudara.

Lagipula, bentuk payudara memang selalu dapat berubah setelah kehamilan.

Perubahan bentuk payudara ini tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat dari menyusui untuk payudara Anda.

8. Mengistirahatkan payudara dapat menghasilkan ASI yang lebih banyak

Lagi-lagi, ini hanyalah mitos ibu menyusui. Sebenarnya, semakin sering Anda menyusui bayi, maka semakin banyak pula produksi ASI di dalam payudara.

Sebaliknya, jika Anda berpikir bahwa payudara butuh istirahat dan akhirnya Anda melewatkan waktu menyusui bayi Anda, ini bisa berpengaruh pada produksi ASI.

Namun, jika bayi sudah kenyang dan cukup menyusu, sedangkan ASI masih memenuhi payudara, Anda bisa memompa ASI.

Jangan lupa perhatikan cara menyimpan ASI agar tetap awet sampai waktunya diberikan pada bayi.

Menyusui bayi atau menggunakan pompa ASI secara teratur dapat memperlancar produksi ASI Anda.

9. Menyusui dapat mencegah kehamilan

alat tes kehamilan mitos ibu menyusui

ASI memang dapat mencegah kehamilan jika Anda menyusui secara eksklusif atau usia bayi kurang dari 6 bulan.

Hal ini kerap dikenal dengan nama metode amenore laktasi. Metode amenore laktasi ini juga berlaku bila periode menstruasi Anda belum kembali.

Hormon yang terlibat dalam menyusui dapat mencegah ovulasi sehingga dapat menghalangi kemampuan Anda untuk hamil lagi selama beberapa bulan setelah melahirkan.

Namun, mitos ibu menyusui ini hanya berlaku selama Anda belum mengalami menstruasi sama sekali sejak melahirkan.

Jika sudah mendapatkan periode menstruasi lagi setelah melahirkan, Anda membutuhkan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda alat kontrasepsi apa yang aman digunakan selama Anda menyusui, khususnya bila Anda belum berencana untuk hamil lagi.

10. Tidak boleh makan sembarang makanan saat menyusui

Selayaknya saat sedang tidak menyusui, ibu menyusui sebenarnya bisa makan makanan apa saja. Secara umum, menyusui tidak mengubah kebiasaan makan Anda.

Bayi sudah mulai terbiasa dengan jenis makanan yang Anda makan sejak masih berada di dalam kandungan.

Namun, memang ada beberapa pantangan dalam hal makanan untuk ibu menyusui yang perlu diperhatikan.

Ambil contohnya hindari makanan yang membuat bayi mengalami alergi, sayuran mengandung gas, hingga makanan terlalu pedas.

Jika Anda merasa bayi sakit atau mengalami reaksi medis akibat makanan tertentu yang Anda makan, sebaiknya periksakan lebih lanjut ke dokter.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri · Tanggal diperbarui 08/11/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan