Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

HIV/AIDS adalah penyakit yang masih menjadi salah satu isu utama di dunia. Kasus kejadiannya pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain orang dewasa, angka penderita HIV pada anak-anak pun tergolong tinggi, yaitu sekitar 1,8 juta. Salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh orangtua adalah bagaimana cara memberi tahu apabila anak mereka terkena HIV.

Bagaimana anak dapat terkena HIV?

Penularan HIV/AIDS dapat terjadi melalui beberapa cara. Salah satunya adalah dari ibu yang menderita HIV/AIDS ke anaknya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Penularan virus HIV dari ibu yang positif mengidap penyakit tersebut disebut dengan mother-to-child transmission. Menurut World Health Organization (WHO), saat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) akan melahirkan bayinya, persentase kemungkinan bayi terpapar virus HIV adalah sekitar 15-45%.

Selain melalui proses melahirkan, bayi juga berisiko tertular HIV setelah menyusu dari ibunya. Maka itu, dokter biasanya akan mencegah penderita HIV memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

Lantas, apakah peluang tersebut dapat dicegah? Dengan penanganan medis yang tepat selama masa kehamilan, proses melahirkan, hingga saat akan menyusui, peluang anak Anda terkena HIV dapat berkurang sebanyak 5%. Salah satunya adalah dengan pemberian obat antiretroviral (ARV) pada ibu hamil.

Lalu, bagaimana cara memberi tahu bahwa anak Anda terkena HIV?

Tidak semua pencegahan akan berbuah baik. Begitu pula dengan upaya mencegah bayi Anda terlahir bebas dari virus HIV. Selain menghadapi kenyataan bahwa buah hati Anda harus hidup dengan penyakit tersebut, Anda juga mungkin memikirkan apakah anak Anda perlu mengetahui kondisi kesehatannya.

Terdapat beberapa hal yang menjadi kekhawatiran orangtua saat anak mereka terkena HIV. Dengan memberi tahu kondisi tersebut, kemungkinan anak akan sulit memahami sepenuhnya tentang penyakit mereka, merasa berbeda, dan mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar, terutama teman-teman sepermainannya.

Namun, sebagai penderita, penting bagi anak untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Hal ini dijelaskan oleh Inez Kristanti, seorang psikolog klinis dan sex educator ketika ditemui oleh Tim Hello Sehat pada acara pemaparan survei terkait edukasi seksual di kawasan SCBD pada Kamis (21/11).

Menurut Inez, memberi tahu bahwa anak terkena HIV penting sebagai salah satu cara mempersiapkan anak sebelum beranjak dewasa. Lama-kelamaan, seorang anak harus bertanggung jawab secara penuh mengenai kondisi-kondisi tubuhnya, serta bagaimana cara mengendalikannya.

“Misalnya, anak harus minum obat ARV seumur hidup secara mandiri. Tidak mungkin orangtua akan mendampingi anak tersebut seumur hidupnya,” papar Inez.

Psikolog yang kerap berbagi informasi seputar edukasi seksual di akun media sosialnya tersebut juga menekankan bahwa orangtua harus memberi tahu anak di momen yang tepat. Momen itu biasanya saat anak sudah dipersiapkan untuk menjaga kesehatan dirinya sendiri.

Penting pula bagi orangtua untuk tidak hanya memberi tahu anak soal status penyakitnya. Orang tua juga perlu menjabarkan pengetahuan mendalam terkait HIV itu sendiri, terlebih jika orangtua juga merupakan ODHA.

Inez menambahkan, “Tidak hanya anak-anak saja, hampir setiap orang pasti takut kalau diberikan diagnosis, tetapi tidak diedukasi mengenai bagaimana hidup dengan penyakit tersebut.”

Misalnya, orangtua dapat menenangkan anak yang terkena HIV bahwa sebenarnya dia bisa hidup selayaknya orang-orang tanpa HIV, asalkan meminum obat secara teratur seumur hidupnya. Mengedukasi juga penting sebagai pencegahan penularan dari anak Anda ke orang lain.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca