home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pengidap HIV Jadi Mudah Lelah? Yuk, Pelajari Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Pengidap HIV Jadi Mudah Lelah? Yuk, Pelajari Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Saat seseorang terkena HIV biasanya daya tahan tubuhnya perlahan akan menurun. Akibatnya, pengidap HIV mudah lelah saat beraktivitas sehari-hari bahkan saat melakukan hal sederhana. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Kenapa pengidap HIV mudah lelah?

Human immunodeficiency virus atau HIV merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Dilansir dari laman UN AIDS, ada sebanyak 38 juta orang di dunia yang hidup dengan HIV/AIDS pada akhir tahun 2019.

Saat sistem pertahanan ini diserang, tubuh mengalami kesulitan untuk melawan dan menyingkirkan virus yang masuk.

Ketika Anda tak menyadari HIV bersarang di dalam tubuh, virus ini akan melipatgandakan dirinya dengan cepat. Hal ini membuat energi tubuh terus terkuras untuk melawannya.

Tak hanya itu, HIV juga termasuk virus yang menyerang dan mengambil alih limfosit atau sel T. Padahal, limfosit adalah sel yang membantu tubuh melawan infeksi dan penyakit. Serangan yang bertubi-tubi terhadap sistem pertahanan tubuh ini lama-lama membuat tubuh kelelahan.

Selain itu, depresi, insomnia, dan efek samping obat menjadi sumber pemicu lainnya yang membuat tubuh mengalami kelelahan parah.

Rasa lelah akibat HIV ini biasanya tak benar-benar hilang bahkan ketika pengidapnya sedang atau telah beristirahat. Ditambah lagi, kelelahan ini juga bisa disebabkan karena kurangnya asupan vitamin dan mineral.

Kelelahan ini biasanya dirasakan tak hanya secara fisik saja tetapi juga mental. Lelah fisik membuat Anda tak bisa seaktif biasanya, bahkan untuk melakukan berbagai tugas sederhana seperti naik turun tangga.

Sementara itu, lelah psikologis atau batin membuat Anda sulit untuk berkonsentrasi dan kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu.

Mudah lelah akibat HIV bisa tidak ada penyebabnya

gejala hiv

Ketika sumber kelelahan Anda tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan depresi, insomnia, narkoba, atau sebab spesifik lainnya, kondisi ini disebut dengan kelelahan HIV idiopatik. Idiopatik merupakan istilah medis yang berarti penyebab kondisinya tidak diketahui.

Kelelahan HIV idiopatik adalah hal yang umum, tetapi sulit untuk diprediksi. Anda bisa mengalaminya di setiap waktu dalam satu hari, dan Anda bisa mengalami berhari-hari tanpa perasaan lelah tersebut.

Penggunaan stimulant seperti methylphenidate (Ritalin) dan dextroamphetamine (Dexedrine) dapat membantu.

Dokter Anda dapat meresepkannya untuk penggunaan setiap hari atau hanya ketika Anda mulai menyadari munculnya kelelahan.

Tanda-tanda mudah lelah akibat HIV

Kelelahan merupakan salah satu gejala awal dari HIV. Pada umumnya, jika Anda mengalami kelelahan akibat HIV, Anda akan mengalami sakit kepala, demam, pembengkakan kelenjar getah bening (di tenggorokan, ketiak, atau selangkangan), dan sakit tenggorokan.

Tanda-tanda ini dapat menghilang setelah beberapa saat. Dalam beberapa kasus, penderita HIV percaya bahwa gejala kelelahan kronis yang mereka alami terkait dengan virus flu biasa.

Beberapa tanda lain dari kelelahan termasuk kegelisahan dan depresi, masalah tidur, nyeri, dan infeksi atau penyakit lainnya.

HIV juga dapat memengaruhi tubuh tanpa menunjukkan gejala sama sekali selama beberapa tahun.

Cara mengatasi mudah lelah akibat HIV

Jangan biarkan rasa lelah ini membuat Anda menjadi tidak produktif. Anda harus melawannya dan mencari cara efektif untuk mengusirnya.

Untuk mengatasinya, Anda perlu mencari tahu terlebih dahulu sumber penyebabnya selain karena sistem kekebalan tubuh yang memang diserang.

Berikut ini berbagai hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi rasa mudah lelah akibat HIV, seperti:

1. Memperbaiki pola tidur

tidur terlalu cepat

Tak jarang pengidap HIV mudah lelah karena mengalami insomnia. Jika hal ini terjadi pada Anda sebaiknya perbaiki pola tidur Anda sehari-hari dengan cara:

  • Tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari.
  • Ciptakan suasana kamar yang nyaman dengan mematikan lampu menjelang tidur.
  • Menjaga suhu kamar tetap sejuk.
  • Bermeditasi atau berdoa sebelum tidur.
  • Membaca buku menjelang waktu tidur.
  • Tidak minum alkohol atau kafein di malam hari.

Cobalah untuk konsisten melakukan menerapkan kebiasaan ini setiap harinya agar kualitas tidur Anda membaik.

2. Melakukan berbagai hal yang menyenangkan hati

teknik meditasi

Depresi dan HIV tampaknya sulit untuk dipisahkan. Sudah bukan hal baru bahwa pengidap HIV pasti mengalami masa di mana ia merasa mudah terkuras secara psikis, depresi, dan sendirian.

Jika dibiarkan, kondisi ini sangat menguras energi fisik maupun mental yang bisa menyebabkan pengidap HIV mudah lelah berkepanjangan.

Kalau Anda sedang mengalami hal ini, cobalah untuk melakukan berbagai hal yang menyenangkan hati. Pergi ke tempat favorit dengan orang terkasih, menonton film, atau sekadar memanjakan diri dengan spa di rumah bisa coba Anda lakukan. Intinya, apa pun yang Anda sukai cobalah lakukan untuk membantu meredakan depresi.

Anda juga bisa bergabung dengan komunitas pengidap HIV misalnya untuk saling bertukar cerita. Hal ini sangat dianjurkan agar Anda merasa bahwa harapan hidup tentu masih ada dan tak sedang berjuang sendirian.

Akan lebih baik lagi jika Anda melakukan terapi alternatif seperti meditasi atau yoga untuk membantu meringankan beban pikiran.

Jika semua cara ini tak kunjung mempan, pergilah ke dokter dan katakan bahwa depresi ini sangat mengganggu Anda. Terkadang, obat bisa menjadi pilihan untuk membantu meringankan depresi yang membuat tubuh dan pikiran sangat lelah.

3. Mencari alternatif obat lain

obat jantung bengkak

Obat-obatan untuk HIV termasuk obat yang memiliki efek samping cukup keras. Jika Anda merasa tubuh justru mudah bertambah lelah setelah minum obat HIV yang diresepkan, konsultasikan pada dokter.

Jika dirasa perlu, dokter akan memberikan alternatif obat lain yang sepadan dengan efek samping yang lebih minim.

Namun, ketika rasa lelah tak diketahui dari mana asalnya segera konsultasikan ke dokter. Penggunaan stimulan seperti methylphenidate dan dextroamphetamine mungkin bisa menjadi alternatif untuk mengatasi kelelahan parah yang Anda alami.

HIV merupakan penyakit kronis, tetapi dengan penggunaan obat dengan hati-hati dan kebiasaan yang sehat, Anda dapat dengan mudah mengelolanya.

Dengan senantiasa berpikiran positif, niscaya hal tersebut akan membantu Anda menghadapi penyakit HIV dengan lebih efektif.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Fatigue – AIDS InfoNet. (2014). Retrieved April 28, 2021, from http://www.aidsinfonet.org/fact_sheets/view/551 

Jones, A., Hughson, G. (2017). Tiredness and fatigue – AIDS Map. Retrieved April 28, 2021, from https://www.aidsmap.com/about-hiv/tiredness-and-fatigue

HIV and Fatigue – University of Michigan Health System. (2020). Retrieved April 28, 2021, from https://www.uofmhealth.org/health-library/zp4023 

Sexually transmitted disease (STD) symptoms – Mayo Clinic. (2020). Retrieved April 28, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sexually-transmitted-diseases-stds/in-depth/std-symptoms/art-20047081 

Insomnia – Cleveland Clinic. (2020). Retrieved April 28, 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12119-insomnia 

Jong, E., Oudhoff, L., Epskamp, C., Wagener, M., van Duijn, M., Fischer, S., & van Gorp, E. (2010). Predictors and treatment strategies of HIV-related fatigue in the combined antiretroviral therapy era. AIDS, 24(10), 1387-1405. https://doi.org/10.1097/qad.0b013e328339d004

Rabkin, J. G., McElhiney, M. C., & Rabkin, R. (2011). Treatment of HIV-related fatigue with armodafinil: a placebo-controlled randomized trial. Psychosomatics, 52(4), 328–336. https://doi.org/10.1016/j.psym.2011.02.005

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 28/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x