Hati-hati, Hipertensi yang Tidak Terkontrol Dapat Meningkatkan Risiko Stroke

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Darah tinggi tidak boleh disepelekan. Hipertensi sering disebut the silent killer alias pembunuh dalam diam karena penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala sampai benar-benar terlambat. Tekanan darah tinggi adalah salah satu penyebab stroke yang seringnya luput disadari. Sekitar 80% kasus stroke hemoragik terjadi akibat hipertensi yang tidak ditangani dengan baik.

Hipertensi tidak terkontrol, penyebab stroke yang diam-diam mematikan

Tekanan darah tinggi yang dibiarkan begitu saja akan merusak pembuluh darah. Lama-kelamaan, hipertensi dapat menyebabkan pengerasan dan penebalan arteri dinding pembuluh darah arteri. Kondisi ini disebut dengan aterosklerosis. Aterosklerosis menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di otak.

Penyebab stroke pada orang yang punya hipertensi adalah pembuluh darah otak yang tersumbat itu pecah tiba-tiba akibat terus-menerus menerima aliran darah bertekanan tinggi. Akibatnya, otak jadi digenangi oleh darah. Bagian otak yang paling umum terpengaruh oleh perdarahan ini adalah ganglia basal, thalamus, dan otak kecil.Stroke yang diakibatkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak disebut dengan stroke hemoragik.

Dalam beberapa kasus, perdarahannya bisa sangat hebat sehingga tumpah mengalir masuk ke bagian ventrikel otak dan memicu hidrosefalus yang mengancam nyawa. 

Gejala tekanan darah tinggi yang dapat berisiko stroke

Gejala stroke hemoragik yang disebabkan oleh hipertensi bisa bervariasi, tergantung pada lokasi pembuluh darah yang pecah serta seberapa parah perdarahannya.

Gejala umumnya meliputi:

  • Kelemahan pada wajah, lengan serta tungkai di salah satu sisi tubuh
  • Mati rasa pada wajah, lengan atau kaki pada satu sisi tubuh
  • Menurunnya kemampuan memahami bahasa lisan ataupun berbicara
  • Kesulitan menulis atau membaca
  • Vertigodengan atau tanpa mual dan muntah
  • Sakit kepala berat
  • Mengalami penglihatan ganda

Dalam kasus yang jarang terjadi, perdarahan otak berat dapat memicu peningkatan tekanan intrakranial secara drastis yang menyebabkan orang tersebut menjadi tidak responsif, lumpuh, atau bahkan koma.

Meski begitu, dengan melihat gejalanya saja belum cukup untuk mengetahui apakah penyebab stroke Anda adalah akibat hipertensi atau kondisi lainnya. Inilah pentingnya memeriksakan diri ke dokter sesegera mungkin begitu Anda mulai mencurigai atau mengalami gejalanya.

Cara mendiagnosis risiko stroke akibat hipertensi

Anda harus segera datang ke UGD rumah sakit terdekat begitu mengalami gejala stroke. Di sana, dokter dapat melakukan serangkaian tes darurat untuk mendeteksi perdarahan di otak. CT scan adalah tes yang paling pertama akan dilakukan untuk mencari tahu penyebabnya.

Ketika hasil CT scan tidak bisa menjelaskan dokter apa sebabnya, ia akan melakukan tes lainnya seperti angiogram serebral atau MRI otak. Tes ini membantu mendiagnosis penyebab lain dari pendarahan seperti malformasi arteri (AVM), aneurismaangiopati amiloid, bahkan tumor otak.

Bagaimana menanganinya?

Setelah menjalankan serangkaian tes setibanya Anda di UGD, dokter akan membawa Anda ke unit perawatan intensif (ICU) untuk menstabilkan kondisi agar tidak terjadi perdarahan lebih lanjut dan memantau perkembangan tekanan darah Anda.

Langkah terapi dan pengobatan kemudian akan didasari oleh seberapa besar perdarahan yang terjadi dan seberapa parah gejala yang Anda tunjukkan. Dalam beberapa kasus, perdarahan otak harus cepat-cepat ditangani lewat operasi.

Pada orang-orang yang telah mengalami kerusakan otak sangat parah sehingga tidak bisa dioperasi, perawatan yang dibutuhkan akan termasuk penggunaan ventilasi mekanik, implantasi monitor ICP,atau pemasangan selang makanan untuk sementara atau permanen.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca