6 Komplikasi Akibat Hipertensi yang Harus Anda Waspadai

Oleh

Hipertensi dikenal sebagai penyakit yang membunuh diam-diam karena biasanya tidak memunculkan gejala. Inilah kenapa setiap orang mulai dari usia 18 tahun ke atas harus mulai rutin cek tensi untuk mendeteksi risiko mereka. Apalagi, risiko mengalami tekanan darah tinggi semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Dibiarkan terus naik tanpa terobati, hipertensi dapat menyebabkan komplikasi yang berakibat fatal. Komplikasi hipertensi yang paling umum terjadi adalah:

1. Penyakit jantung

Penyakit jantung adalah komplikasi hipertensi yang paling banyak menyebabkan kematian. Pasalnya, tensi darah yang konsisten tinggi akan merusak struktur dan fungsi jantung serta pembuluh darah.

Ketika tensi terus-terusan dibiarkan tinggi, pembuluh darah akan menyempit untuk mengatur aliran darah ke seluruh tubuh. Hal ini membuat dinding pembuluh menebal untuk tetap bisa mempertahankan tekanan suplai aliran darah dari jantung. Inilah yang memicu penyakit jantung koroner.

Terlebih semakin tinggi tensi darah Anda, jantung akan semakin berdetak lebih kuat untuk mengalirkan darah. Akibatnya, bilik kiri jantung yang bertugas memompa darah akan membengkak. Pembengkakan bilik kiri jantung terkait dengan peningkatan risiko serangan jantung, stroke, dan kematian mendadak hingga dua kali lipat.

Kondisi yang sama juga meningkatkan risiko Anda terhadap gagal jantung hingga empat kali lipat. Gejala gagal jantung akibat komplikasi hipertensi misalnya adalah kecapekan dan berkurangnya kemampuan fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Stroke

Hipertensi adalah faktor risiko yang paling umum dari stroke. Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat karena ada sumbatan atau pembuluh darah di otak yang pecah.

Meski jarang terjadi, hipertensi juga dapat menyebabkan hipertensi ensefalopati akut. Hipertensi enselopati akut ditandai dengan sakit kepala hebat, gangguan kesadaran, rasa mengantuk, dan bingung. Bila tidak segera diobati, kondisi ini dapat menyebabkan kejang atau koma, terutama di fase hipertensi maligna.

Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, Anda dan kerabat terdekat Anda perlu mewaspadai tanda-tanda stroke, termasuk bicara pelo (sulit bicara) dan penglihatan kabur. Segera datangi unit gawat darurat rumah sakit terdekat jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, atau seseorang yang sedang bersama Anda menyadari ada yang aneh dengan kondisi Anda.

3. Diabetes

Diabetes bisa menjadi komplikasi hipertensi maupun penyebab kemunculannya. Diabetes dan hipertensi sama-sama memengaruhi bagaimana darah dan nutrisi disalurkan ke seluruh tubuh. Seringnya, diabetes diperparah dengan adanya hipertensi karena tekanan darah tinggi membuat organ tubuh yang sudah terpengaruh oleh diabetes semakin bekerja keras, seperti ginjal dan mata. Kabar baiknya, diagnosis dini dan perubahan pola makan yang lebih sehat dapat mencegah kedua kondisi ini semakin memburuk.

4. Penyakit ginjal

Penurunan fungsi ginjal seiring kita bertambah tua akan semakin dipercepat dengan adanya hipertensi. Pada kasus hipertensi kronis, pembuluh akan menebal sehingga mengurangi asupan darah ke ginjal. Hal ini menyebabkan kematian jaringan terkecil ginjal yang disebut nefron, yang dapat berujung pada gagal ginjal kronis.

Gagal ginjal kronis dapat menyebabkan beragam masalah kesehatan yang lebih serius karena ginjal tidak lagi dapat bekerja membuang racun dan limbah dari dalam tubuh.

5. Penyakit mata

Hipertensi dapat langsung memunculkan dampaknya pada mata. Tekanan darah tinggi pada mata disebut dengan hipertensi retinopati. Kerusakan pada retina yang menjadi bagian vital dari indra penglihatan, dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang serius.

Orang-orang yang memiliki hipertensi retinopati mungkin tidak menyadari gejalanya sampai sudah terlambat. Semakin tinggi kenaikan tensi dan semakin lama terus dibiarkan, semakin parah kerusakan mata yang mungkin terjadi. Pada awalnya, perubahan pada retina mungkin terasa seperti penglihatan buram atau penglihatan ganda, sakit kepala, gangguan penglihatan, hingga kehilangan penglihatan.

Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter akan memeriksa retina Anda yang terletak di belakang mata menggunakan ophtalmoskopi.

6. Preeklampsia

Hipertensi yang sudah terjadi sejak sebelum atau selama kehamilan dapat menyebabkan sebuah kondisi yang disebut preeklampsia. Preeklampsia berbeda dengan hipertensi gestasional yang merupakan kenaikan tensi selama hamil yang lebih umum, biasanya terjadi pada trimester dua atau tiga kehamilan.

Ketika preeklampsia terjadi semasa hamil, calon ibu harus benar-benar dimonitor ketat untuk mencegah komplikasi pada janin. Penyempitan pembuluh darah akibat hipertensi dapat menghambat bayi mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk bertumbuh kembang dengan baik.

Sementara itu, dampak preeklampsia pada ibu hamil termasuk kerusakan hati, ginjal, hingga bahkan kerusakan otak. Kasus preeklampsia serius dapat menyebabkan kejang yang dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu dan bayi.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca