Faktor-faktor Pemicu Risiko Diabetes Tipe 2

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 04/03/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Diabetes tipe 2 memiliki banyak faktor pemicu, sebagian besar berhubungan dengan masalah gaya hidup. Diabetes tipe 2 akan muncul ketika glukosa yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menghasilkan energi, menumpuk dalam darah dan tidak bisa digunakan oleh sel. Ini terjadi ketika pankreas tidak dapat memproduksi insulin yang cukup bagi tubuh atau justru tubuh tidak bisa menggunakan insulin sebagaimana mestinya, sehingga memicu resistensi (kebal)  insulin.

Resistensi insulin merupakan suatu keadaan di mana tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang diproduksi di dalam tubuh Anda sendiri. Tubuh Anda mungkin saja mampu menghasilkan kadar insulin yang cukup untuk proses transportasi glukosa ke dalam sel, tetapi tubuh menolak insulin. Hasilnya, glukosa akan menumpuk dalam darah dan manimbulkan gejala terkait diabetes tipe 2.

Resistensi insulin dan diabetes tipe 2

Selain resistensi insulin dan diabetes tipe 2, kelainan genetik juga dipastikan menjadi penyebab berkembangnya diabetes tipe 2. Di dalam sebuah daftar penyakit yang sama, beberapa orang pengidap diabetes tipe 2 sama-sama tidak mampu menghasilkan cukup insulin yang juga dipengaruhi oleh kelainan genetik.

Artinya, tidak semua orang bisa terkena diabetes tipe 2. Selain itu, tidak semua orang yang memiliki kelainan genetik akan terkena diabetes tipe 2. Faktor risiko serta pilihan gaya hidup di bawah inilah yang memicu munculnya penyakit.

Faktor pemicu risiko untuk diabetes tipe 2 meliputi:

Riwayat keluarga: Diabetes tipe 2 merupakan penyakit yang bersifat turun-temurun, artinya dapat diwariskan. Apabila terdapat anggota keluarga Anda yang (pernah) mengidap, Anda memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan penyakit ini.

Ras/etnis: Kelompok etnis tertentu berpeluang besar terhadap ancaman diabetes tipe 2, termasuk ras Afrika-Amerika, Hispanik, penduduk asli Amerika, dan Asia.

Terdapat fenomena yang cukup menarik yang menunjukkan bahwa negara-negara tertentu kini menjadi kebarat-baratan, terutama gaya hidup serta pilihan makanan yang menjadi lebih “Amerika”, sehingga peringkat diabetes tipe 2 mengalami peningkatan. Sebagai contoh, China sempat menjadi negara dengan peringkat diabetes paling rendah. Seiring dengan perkembangan kemajuan negara tersebut (banyak orang bekerja di kantor daripada yang bekerja di ladang) maka pola makan masyarakatnya pun mulai berubah, dan diabetes tipe 2 pun meningkat.

Gaya hidup orang Amerika sangat kondusif bagi perkembangan diabetes tipe 2 akibat kurangnya aktivitas fisik, mengonsumsi lebih banyak kalori, makan dengan porsi besar dari yang seharusnya, serta kelebihan berat badan (BMI >25). Justru kelompok ras non-kulit putih (bukan golongan Kaukasia) adalah golongan yang rentan terhadap diabetes tipe 2, tetapi risikonya akan semakin tinggi apabila mereka menetap di Amerika.

Usia: Semakin tua, maka semakin berisiko Anda terkena diabetes tipe 2. Memasuki usia 45 tahun, risiko Anda mulai naik, dan setelah usia 65 tahun, risiko Anda akan meningkat secara eksponensial (berlipat ganda).

Diabetes gestasional: Apabila Anda mengidap diabetes pada saat hamil, Anda berpeluang besar untuk terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Sindrom ovarium polikistik (PCOS): Sindrom ovarium polikistik (PCOS) juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2 karena terkait dengan resistensi insulin. Untuk kasus PCOS, kista terbentuk di dalam ovarium, dan satu penyebabnya ialah resistensi insulin. Jika Anda memiliki PCOS, artinya Anda mungkin mengidap resistensi insulin dan oleh sebab itu pula Anda berpeluang mengembangkan diabetes tipe 2.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

    Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    5 Penyakit Kulit yang Umum Menyerang Pasien Diabetes

    Berbagai penyakit kulit ini bisa menjadi salah satu komplikasi yang muncul saat seseorang memiliki keadaan diabetes yang tidak terkontrol.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Diabetes, Health Centers 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    diabetes insipidus adalah

    Diabetes Insipidus

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 12 menit
    sering buang air kecil

    8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
    prostatitis

    Prostatitis

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin
    Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
    botol plastik hangat

    Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit