Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Malas Gerak, Kebiasaan Sepele Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Malas Gerak, Kebiasaan Sepele Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Jika sedang membaca tulisan ini sambil bersantai atau tiduran, coba ingat kapan terakhir kali Anda beraktivitas fisik. Bila Anda kesulitan mengingatnya, bisa jadi Anda menjalani gaya hidup sedenter atau yang sering juga disebut malas gerak (mager).

Sebenarnya apa yang membuat seseorang malas bergerak dan adakah dampaknya bagi kesehatan?

Apakah Anda termasuk kriteria malas gerak?

gaya hidup sedentari

Kebiasaan malas gerak alias gaya hidup sedenter adalah pola perilaku manusia yang minim aktivitas atau gerakan fisik.

Jika dalam sehari Anda menghabiskan sedikitnya 6 jam dengan duduk, Anda bisa dikatakan memiliki gaya hidup sedenter (sedentary).

Organisasi 10.000 Steps Australia juga menyebutkan bahwa orang-orang yang berjalan kaki kurang dari 5.000 langkah per hari tergolong sedenter.

Untuk bisa disebut aktif, Anda harus membiasakan diri berjalan kaki 7.500 langkah per hari atau lebih.

Malas gerak adalah kebiasaan yang perlu diubah. Anda memang tak akan merasakan langsung bahayanya duduk terlalu lama.

Dampak dari malas gerak akan mulai terasa bertahun-tahun setelah Anda terbiasa menjalani rutinitas tersebut.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), gaya hidup sedenter merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.

Angka kematian akibat kebiasaan malas gerak bahkan jumlahnya dua kali lebih banyak dari kematian karena obesitas.

Apabila gaya hidup sedenter diikuti dengan pola makan yang tidak seimbang serta kebiasaan tidak sehat seperti merokok atau mengonsumsi alkohol, Anda pun berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan.

Apa yang menyebabkan seseorang malas gerak?

Gaya hidup sedenter diyakini merupakan hasil dari perpaduan banyak faktor.

Beberapa faktor lingkungan yang berperan antara lain kemacetan lalu lintas, polusi udara, serta kurangnya trotoar pejalan kaki, fasilitas olahraga, dan taman rekreasi.

Selain itu, bertambahnya waktu menonton TV, pemakaian gawai, dan kemudahan untuk mengakses banyak hal melalui ponsel turut berperan.

Ambil contoh, Anda mungkin pernah memanfaatkan layanan pembelian barang, makanan, atau jasa secara online.

Apa pun yang Anda butuhkan kini bisa diantar langsung ke depan pintu rumah. Tidak seperti zaman dahulu, ketika orang harus berjalan keluar rumah untuk menyelesaikan berbagai urusan tersebut.

Alhasil, kini semakin banyak orang yang kurang bergerak.

Masalah kesehatan akibat malas bergerak

stres memicu diabetes

Duduk seharian dan kurang bergerak berdampak secara langsung terhadap kesehatan Anda.

Berikut berbagai masalah kesehatan dan penyakit yang bisa timbul akibat malas gerak.

1. Resistensi insulin

Menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk bisa meningkatkan risiko resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik.

Gula darah pun terus meningkat sehingga Anda lebih rentan terkena diabetes tipe 2.

2. Menurunnya fungsi otak

Aktivitas fisik mampu merangsang aliran darah yang penuh oksigen menuju otak serta memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai rusak.

Tanpa aktivitas fisik yang cukup, fungsi otak dapat menurun dan risiko pikun bisa meningkat.

3. Risiko stroke dan serangan jantung

Malas gerak membantu meningkatkan penumpukan lemak pada arteri. Jika arteri yang membawa darah ke otak tersumbat, Anda dapat mengalami stroke.

Sementara bila penyumbatan terjadi pada arteri jantung, hal ini bisa memicu serangan jantung.

4. Risiko osteoporosis

Tubuh manusia telah dirancang sedemikian rupa untuk bergerak secara aktif agar bisa bertahan hidup.

Gaya hidup sedenter justru bisa membuat Anda kehilangan massa otot dan kepadatan tulang. Alhasil, risiko osteoporosis pun jadi meningkat.

Tips menghilangkan kebiasaan malas gerak

Polusi udara keguguran

Anda dapat mengurangi risiko penyakit akibat kurang gerak dengan memperbanyak aktivitas fisik sehari-hari. Berikut beberapa tips mudah untuk memulainya.

  • Cari standing desk atau meja yang cukup tinggi supaya Anda bisa bekerja sambil berdiri jika sudah terlalu lama duduk di kursi.
  • Sambil mencari ide atau inspirasi saat bekerja, Anda bisa berjalan kaki mengitari gedung kantor atau di sekitar meja kerja selama beberapa menit.
  • Jika Anda naik kendaraan umum seperti kereta atau bus, usahakan untuk berdiri daripada duduk.
  • Parkir kendaraan atau turun dari kendaraan umum di perhentian yang lebih jauh dari biasanya, lalu berjalan kakilah menuju kantor.
  • Daripada memesan barang-barang di toko online, pergilah dan berburu barang yang Anda cari di pusat perbelanjaan.
  • Sempatkan untuk berolahraga selama satu jam setiap hari, baik pada pagi hari atau sepulang kerja.
  • Cobalah menyapu, mengepel lantai, atau sesekali mencuci pakaian dengan tangan.

Meskipun terkesan sepele, kebiasaan malas gerak berdampak besar pada kesehatan. Selagi belum terlambat, mulailah hal-hal kecil yang bisa Anda lakukan untuk menambah aktivitas fisik dari sekarang.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sedentary Lifestyle is Dangerous to Your Health. http://www.nchpad.org/403/2216/Sedentary~Lifestyle~is~Dangerous~to~Your~Health Diakses pada 10 November 2016.

The Risks of Sitting All Day: Sedentary Lifestyle Affects Muscle Movement, Brain Activity. http://www.medicaldaily.com/pulse/risks-sitting-all-day-sedentary-lifestyle-affects-muscle-movement-brain-activity-327154 Diakses pada 10 November 2016.

Do You Have Sitting Disease? http://www.webmd.com/fitness-exercise/features/do-you-have-sitting-disease#1 Diakses pada 10 November 2016.

Physical inactivity a leading cause of disease and disability, warns HBO. http://www.who.int/mediacentre/news/releases/release23/en/ Diakses pada 10 November 2016.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui Dec 13, 2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan