Jenis Obat TBC yang Paling Sering Diresepkan Dokter

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Meski butuh waktu lama, TBC (tuberkulosis) bisa sembuh total dengan minum obat yang tepat dan selalu patuh mengikuti dosis dari dokter. Lalu, apa saja jenis obat TBC yang paling sering diresepkan dokter? Berikut adalah ulasan lengkap mengenai jenis pengobatan yang digunakan untuk mengatasi TBC, efek sampingnya, serta hal-hal yang harus diperhatikan ketika memilih obat yang sesuai untuk kondisi Anda.

Prinsip pengobatan TBC

Pada dasarnya, tujuan utama dari pengobatan dan pengendalian TBC adalah mencegah penularan bakteri Mycobacterium tuberculosis dari penderita ke orang lain, serta mengurangi faktor-faktor risiko yang memicu terjadinya penularan.

Dengan memberikan obat TBC yang cocok dengan kondisi kesehatan pasien, serta memastikan pasien minum obat sesuai dengan dosis dan anjuran dokter, pasien juga diharapkan dapat sembuh total, terhindar dari risiko kematian, serta kambuhnya penyakit di lain waktu.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesiaantibiotik, agar tingkat keberhasilan pengobatan semakin tinggi, dokter dan tim medis umumnya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  • Memberikan obat dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat untuk mencegah kekebalan atau resistensi terhadap obat.
  • Pengobatan dilakukan di bawah pengawasan langsung (directly observed treatment) oleh seorang pengawas menelan obat (PMO).
  • Pemberian obat-obatan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu intensif dan lanjutan.

Apa yang membedakan tahap intensif dan lanjutan dalam pengobatan TBC? Berikut penjelasannya:

Tahap intensif

Tahap intensif adalah tahap awal, di mana penderita menerima obat TBC setiap hari di bawah pengawasan langsung.

Apabila pengobatan diberikan dengan tepat, kondisi penyakit yang menular umumnya akan berubah menjadi tidak menular dalam 2 minggu. Lama pengobatan tahap intensif adalah 2 bulan.

Tahap lanjutan

Sementara itu, pada tahap lanjutan, dokter akan memberikan obat-obatan TBC dalam jumlah dan jenis yang lebih sedikit. Namun, pengobatan tahap ini berlangsung lebih lama dibanding dengan tahap intensif, yaitu sekitar 4 bulan pada pasien penderita TBC aktif.

Lama waktu pengobatan dan kombinasi obat-obatan yang diberikan akan berbeda-beda pada setiap langsung. Hal ini bergantung pada usia, kesehatan secara keseluruhan, ada atau tidak adanya resistensi obat, serta lokasi infeksi TBC di dalam tubuh.

Jika pengobatan tahap intensif berfokus pada mencegah resistensi obat, pengobatan tahap lanjutan bertujuan untuk membunuh kuman yang bersifat dorman, sehingga peluang untuk terjadinya kekambuhan dapat dicegah.

Jenis-jenis obat TBC yang umum

Untuk membasmi bakteri M. tuberculosis, obat-obatan yang diberikan adalah antibiotik dan anti infeksi sintesis. Terdapat 5 jenis obat yang umum diresepkan, yaitu isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, ethambutol, dan streptomycin. Kelima jenis obat ini biasa disebut dengan obat primer, atau obat lini pertama.

Sesuai dengan prinsip pengobatan yang telah dijelaskan sebelumnya, obat-obatan tersebut akan diberikan dalam bentuk kombinasi. Tergantung pada kondisi pasien, kombinasi obat TBC yang diberikan pun mungkin akan berbeda-beda.

Kemudian, apabila pasien telah mengalami resistensi obat, atau obat lini pertama TBC tidak memberikan efek apapun, dokter akan meresepkan obat-obatan lini kedua sebagai alternatif.

Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing obat:

1. Isoniazid (INH)

Isoniazid adalah obat TBC yang paling murah tapi efektif untuk membunuh bakteri penyebab TBC dibanding obat lainnya, seperti rifampicin dan streptomycin. Obat ini bisa membunuh 90% kuman TB dalam beberapa hari pertama setelah mulai dosis.

Dosis isoniazid untuk pengobatan TBC biasanya sekitar 300 mg untuk orang dewasa, dan anak-anak 10 mg per berat badan hingga 300 mg. Obat ini diminum satu kali sehari, atau sesuai anjuran dokter.

Biasanya, obat ini digabungkan dengan obat anti tuberkulosis lainnya. Isoniazid memiliki sifat bakterisid dan lebih efektif terhadap bakteri yang sedang dalam keadaan aktif berkembang. Obat ini bekerja dengan cara mengganggu sintesa mycolic acid, yaitu senyawa yang berperan dalam membangun dinding bakteri.

Beberapa efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh isoniazid meliputi:

  • Efek neurologis, seperti gangguan penglihatan, vertigo, insomnia, euforia, perubahan tingkah laku, depresi, gangguan ingatan, gangguan otot
  • Hipersentivitas, seperti demam, menggigil, kulit kemerahan, pembengkakan kelenjar getah bening, vaskulitis (peradangan pembuluh darah)
  • Efek hematologis, seperti anemia, hemolisis (kerusakan sel darah merah), trombositopenia (penurunan kadar trombosit)
  • Gangguan saluran pencernaan: mual, muntah, sembelit, nyeri ulu hati
  • Efek samping lainnya: sakit kepala, jantung berdebar, mulut kering, retensi urin, rematik

Apabila Anda menderita penyakit hati kronis, masalah fungsi ginjal, atau riwayat kejang, ada baiknya pemberian isoniazid harus lebih berhati-hati. Selain itu, peminum alkohol, penderita berusia di atas 35 tahun, serta wanita hamil harus mendapat pengawasan khusus.

2. Rifampicin

Rifampicin bisa membunuh kuman yang tidak dapat dibunuh oleh obat isoniazid. Rifampicin harus diminum bersama dengan obat anti TBC lainnya.

Untuk orang dewasa dan anak-anak yang beranjak dewasa, dosis obat adalah sebanyak 600 mg satu kali sehari, atau 600 mg 2-3 kali seminggu. Sementara itu, bayi dan anak-anak diberikan dosis yang tergantung pada berat badannya, yang biasanya berkisar antara 7,5-15 mg per kg berat badan.

Serupa dengan isoniazid, rifampicin memiliki sifat bakterisid. Namun, rifampicin dapat membunuh bakteri bersifat semi-dorman yang biasanya tidak bereaksi terhadap isoniazid. Obat ini bekerja dengan cara mengganggu kerja enzim bakteri.

Beberapa efek samping yang mungkin dapat muncul akibat rifampicin adalah:

  • Gangguan pencernaan: panas di perut, sakit perut, mual, muntah, kembung, anoreksia, kejang perut, diare
  • Gangguan sistem saraf pusat: mengantuk, letih, sakit kepala, pusing, bingung, sulit berkonsentrasi, gangguan penglihatan, otot mengendur
  • Hipersensitivitas: demam, sariawan, hemolisis, pruritus, gagal ginjal akut, urin mengandung sel darah merah (hematuria)
  • Gangguan lainnyaL gangguan menstruasi, hemoptisis (batuk berdarah)

Namun jangan khawatir karena efek samping ini bersifat sementara. Rifampicin juga berisiko apabila dikonsumsi ibu hamil karena meningkatkan peluang kelahiran dengan masalah tulang belakang (spina bifida).

3. Pyrazinamide

Pyrazinamide bekerja dengan cara membunuh bakteri yang berada dalam sel dengan pH asam. Penggunaannya juga harus dibarengi dengan obat TBC lainnya.

Dosis untuk orang dewasa dan anak adalah sebanyak 15-30 mg per kg berat badan, dan diminum satu hari sekali. Atau bisa juga diberikan sebanyak 50-70 mg per kg berat badan selama 2-3 minggu. 

Efek samping yang khas dalam penggunaan obat ini adalah peningkatan asam urat dalam darah (hiperurisemia). Itu sebabnya pengidap TBC yang diresepkan obat ini harus juga rutin kontrol kadar asam uratnya. Selain itu, kemungkinan penderita juga akan mengalami anoreksia, gagal hati, mual, dan muntah.

4. Ethambutol

Ethambutol diberikan khusus untuk pasien dengan risiko terjadinya resistensi obat. Namun, jika risiko resistensi obat termasuk rendah, pengobatan TBC dengan ethambutol dapat dihentikan.

Dosis untuk orang dewasa dan anak di atas 13 tahun adalah sebanyak 15-25 mg per kg berat badan, dan diminum sebanyak 1 kali sehari. Penambahan dosis biasanya dilakukan secara bertahap. Ethambutol juga harus dikombinasikan dengan obat lainnya.

Cara kerja ethambutol bersifat bakteriostatik, yaitu dengan menghambat pertumbuhan bakteri M. tuberculosis yang resisten terhadap obat isoniazid dan streptomycin. Obat ini juga menghalangi pembentukan dinding sel oleh mycolic acid.

Obat ini tidak boleh diberikan untuk bayi dan anak-anak di bawah 13 tahun. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah gangguan penglihatan, buta warna, penyempitan jarak pandang, sakit kepala, mual, muntah, serta sakit perut.

5. Streptomycin

Berbeda dengan keempat obat sebelumnya yang diminum lewat mulut, obat TBC jenis streptomycin ini diberikan lewat suntikan ke jaringan otot. Obat ini tersedia dalam bentuk serbuk untuk disuntikkan bersamaan dengan Aqua Pro Injeksi dan Spuit.

Dosis yang biasanya diberikan untuk orang dewasa adalah 15 mg/kg berat badan per hari, atau 25-30 mg/kg berat badan dalam 2-3 kali seminggu. Untuk pasien anak-anak, dosisnya adalah 20-40 mg/kg berat badan, atau 25-30 mg/kg berat badan sebanyak 2-3 kali seminggu.

Cara kerja obat ini adalah dengan membunuh bakteri yang sedang membelah diri, yaitu dengan menghambat proses sintesis protein bakteri.

Biasanya obat TB jenis suntik ini diberikan jika Anda sudah mengalami penyakit TB untuk kedua kali atau tidak sembuh dengan obat minum.

Pemberian obat ini harus memerhatikan apakah penderita memiliki gangguan ginjal, sedang hamil, atau memiliki gangguan pendengaran.

6. Obat-obatan lini kedua (second-line drugs)

Saat ini, semakin banyak bakteri yang resisten atau kebal terhadap obat TBC lini pertama. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang kurang tepat, baik oleh tim medis maupun pasien.

Meskipun kasus kejadiannya masih cukup rendah, namun kasus resistensi terhadap isoniazid dan rifampicin ternyata cukup tinggi. Maka itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan obat-obatan lini kedua, yang meliputi:

Pengobatan TBC lini kedua ini cenderung lebih mahal, menimbulkan lebih banyak efek samping, serta membutuhkan waktu yang relatif lebih lama, yaitu sekitar 18-20 bulan. Selain itu, jika tidak ditangani dengan kombinasi obat yang tepat, penderita TBC resisten obat berpotensi terancam nyawanya.

Pengobatan untuk TBC laten

TBC laten adalah kondisi di mana tubuh Anda telah terpapar bakteri M. tuberculosis, namun bakteri tersebut masih dalam kondisi “tertidur”. Sehingga, tubuh Anda tidak menunjukkan gejala-gejala infeksi atau penyakit TBC aktif.

Jika Anda memiliki TBC laten dan berusia 65 tahun ke bawah, Anda mungkin perlu mendapatkan obat-obatan TBC. Lansia di atas 65 tahun perlu mendapatkan pengawasan lebih lanjut karena obat-obatan tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan hati.

Biasanya, TBC laten akan ditangani dengan kombinasi obat rifampicin dan isoniazid selama 3 bulan. Dalam beberapa kasus, dokter juga mungkin akan meresepkan isoniazid saja dan Anda harus minum obat tersebut selama 6 bulan.

Yang harus diperhatikan sebelum mengonsumsi obat TBC

Sebelum Anda menjalani pengobatan TBC, terdapat beberapa kondisi yang memerlukan perhatian khusus.

Misalnya, wanita hamil yang menderita TBC. Saat Anda hamil, dokter tidak akan meresepkan obat jenis streptomycin karena berpotensi menembus dinding plasenta janin Anda. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan pada janin.

Selain itu, jika Anda sedang memakai alat kontrasepsi, seperti pil atau suntikan KB, Anda harus menghindari obat jenis rifampicin. Rifampicin berpotensi menurunkan kinerja alat kontrasepsi yang sedang Anda gunakan.

Obat TBC jenis isoniazid, rifampicin, dan pyrazinamide harus diberikan dengan dosis sewajarnya pada penderita gangguan ginjal. Selain itu, penggunaan rifampicin juga berpotensi mengganggu obat oral anti diabetes yang dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Bagaimana Anda tahu Anda sudah tidak perlu menjalani pengobatan? Anda akan dinyatakan sembuh apabila telah mengonsumsi obat sampai habis, dan hasil kultur dahak Anda negatif setelah diperiksa setidaknya 2 kali berturut-turut.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca