Informasi Penting Soal Vaksin TBC yang Wajib Anda Ketahui

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Tuberkulosis (TBC) sudah lama menjadi masalah kesehatan serius di seluruh dunia, khususnya beberapa negara berkembang. Menurut WHO, sepertiga penduduk dunia telah terpapar kuman tuberkulosis, dan setiap detiknya ada satu orang yang terinfeksi TBC. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat bahwa tuberkulosis menyumbang 1,7 juta kasus kematian di seluruh dunia. Sekitar 140.000 kematian akibat TBC terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Itu artinya, ada satu orang Indonesia yang meninggal akibat TBC setiap 8 jam. Padahal, TBC dapat dicegah dengan berbagai hal sederhana. Salah satunya dengan mendapatkan vaksin TBC, atau yang disebut juga dengan vaksin BCG.

Apa itu vaksin BCG?

Vaksin BCG adalah singkatan dari “Bacille Calmette-Guerin”, yang merupakan kombinasi nama dari dua dokter yang pertama kali mengembangkannya, yaitu dr. Albert Calmette dan seorang peneliti bernama Camille Guerin pada tahun 1921.

Vaksin ini dikembangkan dari kuman Mycobacterium bovis, bakteri yang biasanya menjadi penyebab TBC pada hewan, seperti sapi dan monyet. Namun, karakteristik dari bakteri M. bovis ini mirip dengan bakteri penyebab TBC pada manusia, yaitu Mycobacterium tuberculosis.

Selain itu, ada beberapa bahan aktif tambahan (antigen) yang juga terkandung dalam jumlah sedikit:

  • Sodium, kalium, dan garam magnesium
  • Glycerol, stabilizer yang juga sering ditemukan di masakan
  • Asam sitrat

Namun, vaksin BCG ini tersedia dalam merek yang berbeda-beda, sehingga terkadang kandungan di dalam vaksin di setiap negara pun bervariasi.

Penyuplai utama dari vaksin TBC di seluruh dunia adalah The United Nation Children’s Fund atau UNICEF, yang bekerja sama dengan Global Alliance for Vaccines and Immunization.

Cara kerja vaksin BCG

Karena kuman yang terdapat di vaksin ini mirip dengan bakteri M. tuberculosis, maka vaksin tersebut akan bekerja meniru terjadinya infeksi TBC dalam tubuh.

Akan tetapi, kuman dalam vaksin TBC ini telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit dan membahayakan manusia. Justru, mereka akan memicu respons sistem imun tubuh untuk membentuk antibodi. Antibodi tersebutlah yang akan melawan bakteri TBC sebelum menyebar dan menyebabkan gejala.

Dengan kata lain, vaksin ini akan membentuk perlindungan (imunitas) terhadap TBC. Saat ini, vaksin BCG hanyalah satu-satunya vaksinasi untuk TB yang tersedia, meskipun masih ada beberapa jenis vaksinasi yang sedang dikembangkan. Vaksin ini termasuk murah, aman, dan tersedia hampir di seluruh fasilitas kesehatan.

Penting untuk Anda ketahui bahwa vaksinasi ini tidak boleh diberikan pada orang-orang dengan penyakit atau kondisi kesehatan tertentu yang melemahkan sistem imun mereka. Hal ini dikarenakan tubuh dengan sistem imun yang buruk justru menyebabkan bakteri dari vaksin berkembang menjadi infeksi yang serius.

Tingkat keberhasilan vaksin

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, vaksin ini akan merangsang sistem imun tubuh Anda untuk melawan serangan infeksi bakteri M. tuberculosis. Vaksin ini tidak akan menimbulkan penyakit apapun pada tubuh Anda.

Menurut NHS, vaksin BCG dapat melindungi 80% dari suatu populasi agar tidak terinfeksi jenis TBC yang paling parah selama 15 hingga 60 tahun, seperti TB meningitis. Sehingga, risiko penyebaran dan penularan bakteri M. tuberculosis ini pun dapat dicegah.

Namun, penting untuk Anda ketahui bahwa vaksin ini tidak dapat mencegah infeksi utama bakteri TBC di paru-paru secara efektif. Selain itu, pemberian vaksin tidak akan mencegah kondisi infeksi TB laten agar tidak berkembang menjadi penyakit TB aktif.

Infeksi TB laten adalah kondisi di mana tubuh Anda telah terpapar bakteri TBC, namun bakteri masih tertidur dan sewaktu-waktu dapat aktif kembali dan menimbulkan gejala-gejala penyakit TBC.

Siapa saja yang perlu mendapatkan vaksin BCG?

Idealnya, setiap orang Indonesia harus mendapat vaksin TBC untuk mencegah penularan tuberkulosis. Hal ini penting mengingat kasus TBC di Indonesia masih cukup tinggi.

Vaksin BCG wajib diberikan satu kali saja pada bayi baru lahir di usia satu sampai dua bulan. Terutama jika bayi terlahir di negara dengan kasus TBC yang tinggi, serta memiliki orang tua atau kakek-nenek yang tinggal di negara dengan angka kejadian TBC yang tinggi.

Sementara itu, anak-anak juga sangat disarankan untuk menerima vaksin ini, terutama jika anak Anda memiliki faktor-faktor risiko mengembangkan penyakit TBC. Misalnya tinggal di negara dengan kasus TBC yang banyak, atau baru saja melakukan kontak jarak dekat dengan penderita.

Sebagai acuan, berikut adalah daerah-daerah dengan angka kejadian TBC yang tinggi:

  • Afrika
  • Amerika Selatan
  • Rusia
  • India
  • Tiongkok
  • Asia Tenggara
  • Kepulauan Pasifik

Umumnya, vaksin ini sangat jarang diberikan kepada orang dewasa di atas 16 tahun. Hal ini dikarenakan vaksin BCG tidak bekerja secara efektif pada orang dewasa. Namun, dalam beberapa kasus, orang dewasa berusia 16 hingga 35 tahun dapat menerima vaksin ini. Berikut adalah kondisi-kondisi di mana orang dewasa perlu mendapatkan vaksin:

  • Tenaga medis yang bekerja di laboratorium dan menangani sampel darah atau urin
  • Tenaga medis yang sering melakukan kontak dengan penderita TBC
  • Tenaga medis di dokter atau klinik hewan, serta pekerja yang sering melakukan kontak dengan hewan tertentu, seperti monyet atau sapi
  • Pekerja yang menghabiskan banyak waktu di penjara dan sering melakukan kontak jarak dekat dengan para tahanan di penjara
  • Staf atau pekerja di penampungan atau panti
  • Pekerja di fasilitas pengungsian

Selain itu, jika Anda tidak mendapatkannya semasa kecil, Anda dianjurkan untuk memperolehnya secepat mungkin. Anda juga harus melakukan vaksin TBC ulang jika Anda berprofesi sebagai tenaga kesehatan yang sering menangani dan berhadapan langsung dengan pasien TBC aktif.

Semua orang wajib mendapatkan vaksin BCG, kecuali…

Meski begitu, ada beberapa kelompok orang yang tidak dianjurkan untuk mendapatkan vaksin BCG. Mereka adalah:

  • Pernah mengidap penyakit TB atau sedang dalam masa pengobatan TB
  • Sedang menjalani pengobatan kanker atau kondisi parah lainnya yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti menderita leukemia, limfoma, menjalani kemoterapi, atau mengonsumsi obat-obatan steroid
  • Wanita hamil
  • Pernah melaksanakan tes tuberkulin dengan hasil positif
  • Positif mengidap HIV
  • Memiliki eksim – kulit kemerahan, kering, dan gatal – atau dermatitis
  • Menerima vaksin BCG sebelumnya
  • Menerima vaksin BCG dan menunjukkan reaksi atau efek samping yang parah, misalnya syok anafilaktik
  • Menerima vaksin virus atau bakteri hidup lainnya dalam empat minggu terakhir

Bila Anda mengalami kondisi tersebut, maka sebaiknya beri tahu dan konsultasikan hal ini pada dokter.

Apa yang harus saya lakukan sebelum menerima vaksin BCG?

Sebelum Anda mendapatkan vaksin ini, Anda biasanya harus menjalani tes terlebih dahulu untuk mendeteksi adanya bakteri TBC atau tidak di dalam tubuh Anda.

Tes ini dinamakan dengan tes kulit tuberkulin atau Mantoux test. Pada tes ini, tenaga kesehatan akan menyuntikkan zat yang disebut dengan tuberkulin (PPD).

Jika hasil dari Mantoux test menunjukkan bahwa Anda telah terpapar bakteri M. tuberculosis, Anda akan disarankan untuk tidak menerima vaksin TBC. Hal ini dikarenakan vaksin justru akan menimbulkan efek samping yang tidak nyaman.

Namun, apabila hasil tes menunjukkan bahwa Anda negatif terkena bakteri, Anda dapat segera mulai menerima vaksinasi.

Apakah pemberian vaksin BCG bisa ditunda?

Sebaiknya, lakukan vaksin TBC segera setelah dokter menganjurkan. Namun, pemberian vaksin BCG bisa ditunda dengan catatan apabila Anda atau anak Anda termasuk dalam kategori berikut:

  • Bayi baru lahir dengan kondisi tubuh yang kurang sehat, maupun bayi yang lahir dengan berat badan < 2,5 kilogram (kg)
  • Bayi yang baru dilahirkan dari seorang ibu yang mengidap HIV positif, dan belum tau diketahui status HIV bayi tersebut
  • Orang yang sedang menderita demam tinggi atau penyakit yang parah

Apa efek samping yang timbul setelah melakukan vaksin BCG?

Efek samping dari vaksin BCG sebenarnya sangat jarang terjadi. Namun, dalam beberapa kasus, efek samping dapat muncul seperti, daerah bekas suntikan vaksinasi terasa sakit disertai bengkak dan kemerahan. Keluhan ini wajar, tidak berbahaya dan biasanya akan sembuh perlahan dengan sendirinya.

Dikutip dari Oxford Vaccine Group, berikut adalah beberapa efek samping yang paling sering muncul, yaitu pada 9 dari 10 orang yang menerima vaksin:

  • Pengerasan di bagian kulit yang disuntik
  • Terkadang disertai dengan munculnya lenting

Kadang juga terjadi reaksi yang lebih berat, namun kondisi ini sangat jarang ditemukan. Hanya sekitar 1 dari 100 orang yang mengalami efek-efek berikut:

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak
  • Reaksi seperti alergi yang mendadak dengan gejala meliputi ruam pada kulit
  • Pembengkakan di satu atau beberapa anggota tubuh
  • Sakit kepala disertai demam
  • Luka yang muncul dari lenting bekas suntikan
  • Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenitis)

Ada pula kemungkinan, meski sangat kecil, penerima vaksin BCG mengalami efek samping yang cukup fatal. Namun, kondisi ini hanya memengaruhi 1 dari 1000 penerima vaksin:

  • Reaksi alergi parah yang membutuhkan waktu beberapa minggu atau bulan untuk sembuh
  • Inflamasi atau peradangan pada tulang (osteitis atau osteomyelitis)
  • Abses atau nanah pada luka bekas suntikan

Apa yang harus saya lakukan setelah mendapatkan vaksin BCG?

Setelah mendapatkan vaksin, Anda atau anak Anda dapat kembali berkegiatan seperti semula. Vaksin ini umumnya relatif aman dan tidak memerlukan penanganan atau perawatan khusus setelahnya.

Namun, seperti yang telah dipaparkan di atas, salah satu efek samping yang cukup umum terjadi setelah Anda menerima vaksin BCG adalah pembengkakan atau kemerahan.

Biasanya, kemerahan atau bengkak akan muncul dalam waktu 2 hingga 4 minggu setelah Anda disuntik. Terkadang, bekas suntikan juga akan meninggalkan benjolan berisi nanah (pustula).

Bekas suntikan yang membengkak ini akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2 sampai 3 bulan setelah vaksinasi diberikan. Namun, bekas luka akan tetap terlihat dan sulit dihilangkan.

Jika ternyata bekas suntikan vaksin BCG menimbulkan luka, pastikan luka tersebut tetap terpapar langsung dengan udara. Kondisi ini akan mempercepat luka untuk sembuh. Selain itu, jaga kebersihan Anda agar luka tersebut tidak terinfeksi kuman.

Hindari menggaruk, memencet, atau menyentuh benjolan terlalu sering. Anda juga sebaiknya tidak mengoleskan apapun ke benjolan tersebut, baik salep maupun obat antiseptik.

Usahakan untuk tidak menutup luka atau benjolan di area tersebut dengan plester atau perban. Hal tersebut justru malah akan memperlambat proses penyembuhan luka.

Selain itu, jika lengan anak Anda sudah menerima vaksin BCG, pastikan bagian lengan tersebut tidak disuntikkan oleh vaksinasi jenis lainnya selama 3 bulan ke depan.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca