Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan rangkaian imunisasi wajib untuk anak-anak dan bayi. Di balik manfaatnya, hal yang paling ditakutkan oleh orangtua adalah efek samping setelah pemberian imunisasi, seperti demam. Ini membuat sebagian dari orangtua memutuskan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak. Padahal kalau tidak imunisasi atau terlambat, bisa membahayakan kesehatan anak. Maka, penting untuk orangtua memahami efek samping imunisasi.

 

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Apakah anak pasti sakit setelah pemberian vaksin?

gejala demam pada anak

Bayi, anak-anak, dan orang dewasa mungkin akan mengalami sakit setelah imunisasi sebagai efek samping.  Namun, sebagian besar vaksin jarang menimbulkan efek samping yang serius.

Risiko munculnya efek samping vaksin masih jauh lebih rendah, bila membandingkan risiko kena penyakit yang dapat dengan vaksin.

Setiap jenis vaksin memiliki efek samping yang berbeda, tetapi sebagian besarnya umumnya cukup ringan. Efek samping yang umumnya terjadi, termasuk:

  • Rasa sakit sementara pada area yang suntikan
  • Kemerahan, bengkak, atau pada tempat suntikan
  • Gejala mirip flu atau tidak enak badan (demam ringan, sakit perut, muntah, hilang selera makan, dan sakit kepala)

Efek samping ini muncul tidak lama setelah pemberian vaksin, biasanya hanya 1-2 hari. Namun, jika Anda mengalami gejala yang berkelanjutan, segera periksakan diri ke dokter.

Meski begitu, vaksin juga bisa menimbulkan efek samping yang serius, tetapi ini memang sangat jarang terjadi.

Berikut beberapa efek samping berat yang mungkin terjadi berdasarkan jenis vaksinnya.

  • Live attenuated (LAV) setelah vaksin campak, menimbulkan reaksi alergi berat dari cairan yang terkandung dalam vaksin, atau syok anafilaktik.
  • Inactivates, ini termasuk pertusis. Vaksin ini menimbulkan efek samping hipotonik dan episode hiporesponsif.
  • Toxoid, ini termasuk vaksin TT (tetanus), bisa menimbulkan syok anafilaktik dan neuritis brakialis.

Oleh karena itu, sebelum Anda melakukan imunisasi, selalu beri tahu dokter atau perawat jika memiliki alergi atau pernah mengalami reaksi alergi terhadap vaksin sebelumnya.

Hal ini karena akan ada kemungkinan seseorang bisa alergi terhadap vaksin, tetapi sangat langka.

Efek samping imunisasi ringan

efek samping imunisasi dpt

Imunisasi termasuk ke dalam kategori obat dan seperti obat pada umumnya, vaksin memiliki reaksi tertentu pada tubuh.

Akan tetapi, sebagian besar efek samping tergolong penyakit ringan, seperti area suntikan terasa sakit atau anak demam setelah imunisasi. 

Risiko munculnya efek samping setelah mendapatkan vaksin jauh lebih rendah.

Hal itu bila membandingkan dengan risiko kena penyakit ketika anak terlambat imunisasi, atau sampai tidak sama sekali.

Setiap imunisasi memiliki efek sampingnya masing-masing. Namun, efek samping yang paling umum adalah sebagai berikut.

Efek samping imunisasi tingkat ringan

Mengutip dari About Kids Health, rata-rata efek samping imunisasi yang dialami bayi, anak-anak, dan orang dewasa bisa sembuh sendiri dan tidak berlangsung lama. Berikut beberapa efek samping ringan:

Nyeri pada lokasi suntikan

Anak mungkin merasakan nyeri pada bagian suntikan, biasanya paha atau lengan. Tidak perlu khawatir karena ini adalah hal yang sangat wajar dan  tidak membahayakan.

Saat anak mendapatkan suntikan, Anda bisa menenangkannya dengan menggenggam tangan si kecil atau memeluknya.

Anda juga bisa menenangkan anak dengan memainkan boneka dan membuat cerita lucu.

Meski ia akan merasa sakit dan menangis saat menerima suntikan, setidaknya cara tersebut bisa menghibur si kecil.

Fobia jarum suntik

Anda memiliki rasa takut dengan jarum suntik? Hal itu bisa terjadi karena trauma masa kecil.

Anak atau orang dewasa bisa mengalami fobia terhadap jarum suntik sebagai salah satu efek samping imunisasi. 

Meskipun jarang terjadi, beberapa orang yang mengidap fobia jarum suntik bisa pingsan karena takut jarum suntik

Bila Anda atau anak mengalami fobia jarum suntik, konsultasikan dulu dengan dokter dan tenaga kesehatan lain yang akan memberikan imunisasi.

Hal ini penting agar dokter setidaknya mampu mencegah pasien imunisasi pingsan dan membuat anak agar tidak takut menerima suntikan saat dewasa nanti.

Meski begitu, hindari terlambat dalam memberikan imunisasi pada si kecil karena bisa menimbulkan efek samping yang lebih berbahaya. 

Timbul kemerahan dan bengkak pada lokasi suntikan

Setelah pemberian imunisasi, mungkin saja timbul reaksi efek samping seperti kemerahan, bengkak, dan memar pada lokasi suntikan.

Tenang, kompres dingin dapat membantu meringankan rasa tidak nyaman serta mengurangi pembengkakan yang muncul pada lokasi suntikan imunisasi.

Reaksi tersebut bisa muncul pada satu dari empat anak yang mendapat imunisasi.

Gejala-gejala ini akan muncul setelah pemberian imunisasi dan akan hilang sendiri dalam waktu satu hingga dua hari.

Gejala seperti mau sakit flu

Setelah mendapatkan imunisasi, anak Anda mungkin mengalami gejala-gejala mirip dengan sakit flu, padahal bukan. Gejalanya antara lain: 

  • Demam ringan
  • Sakit maag
  • Muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Sakit kepala
  • Lemas dan pegal-pegal

Imunisasi bekerja dengan meniru cara kerja infeksi, karena itu, imunisasi kadang memberikan efek samping seolah-olah tubuh Anda terinfeksi suatu virus.

“Infeksi” ini tidak menyebabkan penyakit, justru akan melatih tubuh untuk meningkatkan sistem imun anak terhadap penyakit. Efek samping ini biasanya terjadi setelah melakukan rangkaian imunisasi hepatitis B dan DPT.

Efek samping imunisasi tingkat sedang

Center for Disease Control and Prevention (CDC) menuliskan dalam situs resminya bahwa ada beberapa efek samping imunisasi di level sedang yang sangat jarang terjadi. Beberapa tandanya yaitu:

  • Demam lebih dari 38,8 derajat celcius (bahkan sampai kejang)
  • Sendi kaku (anak remaja dan orang dewasa sering mengalami ini)
  • Pneumonia pada anak
  • Pembengkakan otak
  • Jumlah trombosit rendah

Pada anak yang memiliki masalah sistem kekebalan tubuh yang serius, vaksin MMR bisa menyebabkan infeksi.

Bahkan pada kondisi yang sangat parah bisa mengancam kesehatan jiwa. Dokter biasanya akan menyarankan orang dengan masalah sistem kekebalan tubuh yang serius tidak boleh diberi vaksin MMR.

Efek samping imunisasi tingkat berat

Kemungkinan seseorang mengalami efek samping tingkat berat sangatlah jarang. Center for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa kemungkinan hal itu terjadi 1 banding 1 juta orang yang menerima imunisasi. 

Dampak dari imunisasi dengan tingkat yang sangat berat dan serius adalah:

  • Reaksi alergi parah yang bisa memicu kematian
  • Intususepsi pada vaksin rotavirus (penyumbatan usus)

Untuk efek samping imunisasi seperti intususepsi, risiko anak mengalami hal ini adalah 1 banding 20 ribu bayi yang menerima vaksin di Amerika Serikat.

Reaksi setelah imunisasi bisa terjadi beberapa menit atau jam setelah pemberian imunisasi.

Sebelum terlambat penting untuk orangtua memberitahu keadaan anak, seperti alergi makanan atau obat tertentu agar imunisasi bisa menyesuaikan dengan kondisi.

Mengapa anak demam setelah imunisasi?

Anak sakit imunisasi polio

Imunisasi merupakan suatu cara untuk melindungi tubuh dari penyakit berbahaya sebelum penyakit tersebut kontak dengan seseorang.

Vaksin memanfaatkan mekanisme pertahanan alami dari tubuh, untuk membentuk pertahanan spesifik dalam melawan infeksi virus.

Ketika anak mendapatkan suntikan imunisasi, tubuh anak menerima virus yang sudah jinak.

Kemudian, tubuh akan memproduksi sebuah respon imun dengan cara yang sama seperti ketika tubuh sedang terkena penyakit. Namun, tanpa tubuh menunjukkan gejala penyakit tersebut.

Saat tubuh terpapar penyakit yang sama di masa datang, sistem imun tersebut dapat merespon dengan cepat untuk mencegah penyakit tersebut berkembang.

Ketika membentuk respon imun setelah anak menerima imunisasi, tubuh memberikan respon, seperti demam, gatal, dan nyeri pada bekas suntikan.

Tubuh membentuk sistem kekebalan baru, hasil gabungan dari vaksin yang masuk ke dalam tubuh. Kemudian menyebabkan suhu tubuh meningkat (demam).

Namun, tidak semua imunisasi memberikan respon demam, beberapa yang mungkin menyebabkan demam, mislanya imunisasi campak dan DPT (difteri, pertusis, dan tetanus).

Selain itu, tidak semua anak juga mengalami respon demam ini, ada yang demam dan juga ada yang tidak. Tiap anak menunjukkan respon setelah imunisasi yang berbeda-beda.

Apa yang harus orangtua lakukan jika anak demam setelah imunisasi?

Ya, demam merupakan respon tubuh yang normal setelah mendapat imunisasi.

Biasanya suhu tubuh anak akan naik di atas 37,5 C setelah mendapat imunisasi. Sebagai ibu, Anda hanya perlu menanganinya dengan baik agar demam cepat turun.

Bagi anak yang masih menyusui, pemberian ASI yang lebih sering kepada anak dapat meringankan demam setelah imunisasi.

Anak yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung lebih jarang mengalami demam setelah imunisasi, daripada anak yang menerima susu formula.

Alasan mengapa anak yang menerima ASI berkurang risikonya untuk mengalami demam setelah mendapat imunisasi masih belum jelas.

Akan tetapi, ASI mungkin mengandung senyawa anti peradangan yang menurunkan risiko demam.

Anda dapat mengompres anak dengan air hangat sebagai upaya untuk menurunkan demam. Letakkan kompresan ini pada lengan atau paha letak pemberian suntikan.

Pakaikan juga pakaian yang tipis kepada anak, tetapi pastikan anak tidak kedinginan. Biarkan anak istirahat dan berikan ia minum yang banyak.

Jika sudah melakukan berbagai cara tetapi demam tidak turun, Anda boleh memberikan obat penurun panas sesuai rekomendasi dan dosis atas saran dokter.

Kapan harus waspada dan konsultasi ke dokter?

sakit setelah imunisasi

Jika Anda sudah mencoba cara di atas dan belum bisa meredakan demam sebagai efek samping imunisasi pada anak, berikan paracetamol atau ibuprofen pada dosis dan waktu yang tepat sesuai anjuran dokter.

Sebaiknya segera bawa anak ke dokter jika anak sudah menunjukkan gejala, seperti:

  • Demam makin tinggi lebih dari 40 derajat C.
  • Anak menangis lebih dari 3 jam pada satu waktu.
  • Anak menjadi lesu dan mengantuk berlebihan.
  • Bayi mengalami kejang karena demam sangat tinggi.

Imunisasi dapat melindungi kesehatan lebih dari satu anak. Imunisasi pada satu anak dapat memperkecil kesempatan anak tersebut untuk menderita penyakit dan menularkan penyakit kepada anak lainnya.

Jika tingkat imunisasi tinggi pada suatu daerah, risiko penyebaran penyakit tertentu dapat menurun.

Hal ini membuat mereka yang belum atau tidak menerima imunisasi pun dapat terlindungi dari penyakit.

Efek samping imunisasi yang serius memang sangat jarang sekali terjadi. Akan tetapi, dalam kasus yang sangat langka, si kecil bisa saja mengalami hal-hal sebagai berikut:

  • Reaksi alergi parah atau anafilaktik yang ditandai dengan kesulitan bernafas dan tekanan darah turun
  • Kejang
  • Demam tinggi
  • Nyeri sendi atau otot kaku
  • Infeksi paru-paru

Berbagai gejala termasuk ke dalam efek samping tingkat berat. Anda perlu membawa anak ke dokter bila mengalaminya.

Untuk anafilaktik atau reaksi alergi parah, kondisi ini sangat serius dan sering terjadi ketika pemberian imunisasi untuk 6 penyakit sekaligus.

Reaksi alergi parah ini sangat langka bahwa hanya bisa timbul 1 banding 100 ribu kasus setelah pemberian imunisasi. Reaksi alergi parah seperti:

  • Gatal-gatal
  • Pembengkakan wajah dan tenggorokan
  • Anak kesulitan bernapas
  • Detak jantung cepat
  • Tubuh lemas

Kondisi tersebut membutuhkan konsultasi segera dengan dokter atau sampai pergi ke unit gawat darurat (UGD).

Imunisasi tetap aman untuk anak

efek samping imunisasi

Sama seperti obat lain, efek samping imunisasi bisa terjadi tetapi bukan berarti anak tidak diberikan imunisasi.

Pasalnya, efek samping anak terlambat imunisasi lebih bahaya daripada efek samping vaksin yang sangat jarang terjadi. 

Mengutip dari NHS, bahan utama dari vaksin adalah bakteri, virus, atau racun dalam dosis kecil yang telah dilemahkan atau dihancurkan di laboratorium terlebih dahulu.

Apa artinya? Ini membuktikan bahwa tidak ada risiko terkena penyakit dari vaksin.

Terkadang vaksin mengandung bahan lain yang membuat vaksin lebih aman dan efektif mencegah penyakit. Hal ini yang menyebabkan risiko kerusakan atau efek sampingnya sangat kecil. 

Meski menimbulkan efek samping, anak Anda tetap perlu mendapatkan imunisasi. Hindari terlambat atau bahkan tidak memberi imunisasi sama sekali pada si kecil.

Pasalnya, risiko anak terkena penyakit lebih besar ketika tidak mendapatkan vaksin, bila membandingkan dengan anak yang menerima imunisasi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Manfaat Daun Mimba (Intaran), Tanaman Obat yang Serba Guna

Pohon mimba ternyata memiliki sejuta mnfaat, bukan hanya daun mimba saja lho. Yuk simak apa saya manfaat daun mimba dan bagian lainnya!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Herbal A-Z 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

5 Makanan dan Minuman Sehat yang Mengandung Bakteri Asam Laktat

Tahukah Anda kalau makanan yang mengandung bakteri asam laktat menyehatkan? Makanan apa saja itu? Mari simak jawabannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Fakta Gizi, Nutrisi 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Penyebab Kumis dan Jenggot Tidak Tumbuh pada Sebagian Pria

Tak semua pria itu sama. Ada yang brewokan dan kumisan, tapi ada juga yang tidak tumbuh jenggot dan kumis di wajahnya. Apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Pria, Penyakit pada Pria 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Benarkah Obat Kumur Bisa Mengobati Sariawan?

Banyak orang menggunakan obat kumur sebagai pengganti obat sariawan. Apa saja kandungan dalam obat kumur? Benarkah bisa mengobati sariawan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Penyakit Gusi dan Mulut, Gigi dan Mulut 25 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

jenis tambal gigi

4 Jenis Tambalan Gigi dan Prosedur Pemasangannya di Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Apa Fungsi Obat Methylprednisolone

Obat Penambah Tinggi Badan, Apakah Benar Bisa Membuat Tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
luka gatal mau sembuh

Kenapa Biasanya Luka Terasa Gatal Kalau Mau Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
luka di vagina

Cara Aman Mengobati Luka dan Lecet di Vagina

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit