Ketahui Akibat yang Ditimbulkan Bila Anak Tidak Diimunisasi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/08/2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Apakah imunisasi anak Anda sudah lengkap? Ingat, imunisasi harus terus didapat si kecil semenjak ia baru lahir untuk mencegah risiko penularan penyakit berbahaya di kemudian hari. Sayangnya, masih banyak anak Indonesia yang tidak mendapat imunisasi lengkap karena orangtuanya takut akan desas-desus berbagai mitos keliru di luar sana. Berikut penjelasan seputar pentingnya imunisasi dan akibat bayi tidak diimunisasi.

Mengapa imunisasi penting?

anak tidak diimunisasi

Setiap manusia pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan sejak masih dalam kandungan untuk melindungi diri dari serangan penyakit.

Meski begitu, sistem kekebalan tubuh bayi belum bekerja seoptimal dan sekuat sistem imun orang dewasa sehingga mereka akan lebih gampang sakit.

Di sinilah peran imunisasi untuk menjaga kesehatan bayi segera sejak baru lahir, kalau tidak diimunisasi, sistem imun si kecil tidak akan kuat.

Imunisasi adalah cara memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga kebal akan serangan kuman penyakit, baik itu bakteri, virus, jamur, parasit, dan lainnya. Nah dengan imunisasi, artinya Anda melindungi bayi Anda dari berbagai risiko penyakit di masa yang akan datang.

Imunisasi lewat pemberian vaksin akan membantu sistem imun anak memproduksi antibodi khusus untuk melawan jenis-jenis penyakit tertentu.

Vaksin mengandung versi jinak atau nonaktif dari suatu kuman penyakit yang telah dilemahkan. Setelah masuk ke dalam tubuh, kuman jinak ini tidak akan menyebabkan penyakit tapi justru membiarkan sistem imun anak mengenali dan mengingatnya sebagai ancaman.

Setelahnya, sistem imun akan membentuk antibodi yang secara spesifik akan bekerja melawan jenis kuman tersebut.

Maka ketika suatu saat nanti ada kuman yang aktif masuk ke dalam tubuh anak, sistem imunnya akan siap membunuhnya dengan antibodi khusus tersebut. Hal inilah yang membantu anak terlindungi dari berbagai macam penyakit berbahaya.

Ini akibat bila bayi tidak diimunisasi

akibat bayi tidak diimunisasi

Perlu dipahami bahwa vaksinasi memang tidak menjamin 100 persen efektif untuk mencegah penyakit. Namun, manfaatnya akan lebih besar dari risikonya.

Jikapun anak tertular dan sakit, gejala yang dialami akan jauh lebih ringan dan mudah diobati ketimbang tidak diimunisasi sama sekali.

Jika bayi tidak diimunisasi, akibat yang ditimbulkan adalah anak Anda akan lebih berisiko tertular dan mengalami sakit yang lebih parah, berikut akibat yang akan timbul bila bayi tidak diimunisasi.

Berisiko mengalami komplikasi

Bayi dan anak-anak yang tidak diimunisasi memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang dapat menyebabkan kecacatan pada bayi bahkan kematian.

Ini karena tubuhnya tidak diperkuat dengan sistem pertahanan khusus yang bisa mendeteksi jenis-jenis penyakit berbahaya tertentu.

Tubuh tidak mengenali virus penyakit yang masuk sehingga tidak bisa melawannya. Hal ini akan membuat kuman penyakit semakin mudah berkembang biak dan menginfeksi tubuh anak.

Jika bayi tidak diimunisasi sama sekali, anak akan berisiko terkena penyakit-penyakit yang telah disebutkan di atas, parahnya lagi penyakit tersebut bisa menyebabkan kematian pada anak.

Sistem kekebalan tubuh tidak kuat

Sistem kekebalan tubuh pada bayi dan anak-anak yang tidak diimunisasi tidak akan sekuat anak yang diimunisasi. Ini karena tubuh anak tidak mampu mengenali virus penyakit yang masuk ke tubuh sehingga tidak bisa melawannya.

Terlebih jika bayi tidak diimunisasi kemudian jatuh sakit, ia dapat menularkannya ke orang lain sehingga membahayakan lingkungan sekitarnya.

Membahayakan anak lain

Imunisasi tidak hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan bayi, tetapi juga berperan untuk mencegah penularan penyakit dari orang ke orang.

Perlu dicatat bahwa dampak dari tidak diimunisasi bukan hanya memengaruhi kesehatan bayi Anda saja. Anak-anak lain dan orang di sekitarnya juga akan merugi jika program imunisasi tidak digalakkan merata.

Jika bayi Anda tidak diimunisasi, virus dan kuman di dalam tubuhnya bisa dengan mudah menyebar ke kakak, adik, teman, maupun orang lain di sekitarnya. Terlebih jika mereka juga belum atau tidak pernah mendapat imunisasi dan daya tahan tubuhnya sedang lemah.

Pada akhirnya, penyebaran penyakit akan berubah menjadi wabah penyakit dan akan menyebar ke lingkungan sehingga menimbulkan kasus jangkitan penyakit dan kematian yang lebih banyak.

Namun demikian, perlu diingat, bukan berarti jika sudah divaksin, anak Anda terbebas dari penyakit. Penyakit yang berhubungan dengan vaksin masih saja mungkin terjadi, hanya dampaknya tidak separah jika anak Anda tidak divaksin.

Oleh karenanya Anda tetap perlu menjaga kesehatan dan kebersihan anak Anda agar selalu sehat.

Hal yang perlu dilakukan ketika bayi tidak diimunisasi

bayi tidur setelah imunisasi

Ketika bayi Anda yang tidak diimunisasi sedang memiliki masalah kesehatan dan ingin berobat ke dokter atau anak akan masuk sekolah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Jelaskan pada dokter bahwa bayi Anda tidak diimunisasi

Saat akan berobat ke dokter, pastikan Anda memberitahu bahwa anak bayi Anda tidak diimunisasi atau belum menerima vaksin untuk usianya. Mengapa ini penting?

Mengutip dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) memberitahu bayi tidak diimunisasi membuat dokter mempertimbangkan kemungkinan anak memiliki penyakit yang tidak bisa dicegah dengan vaksin.

Selain itu, ini juga membuat petugas medis memutuskan apakah anak Anda perlu dirawat di dalam ruang isolasi agar penyakit tidak menyebar. Pasalnya, kelompok yang berisiko tertular penyakit adalah bayi yang belum siap menerima beberapa jenis imunisasi di bawah usia 12 bulan.

Tidak hanya bayi, orang dewasa yang sedang menjalani perawatan atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah juga bisa ditularkan dengan cepat. Ini termasuk ke dalam akibat dari bayi tidak diimunisasi.

Beritahu pihak sekolah

Bila anak bayi Anda sudah siap untuk sekolah atau pergi ke daycare, pastikan untuk memberitahu guru bahwa si kecil tidak diimunisasi. Ini untuk membuat anak dan pihak sekolah merasa lebih nyaman menitipkan anaknya.

Ini juga penting untuk orangtua yang memiliki bayi tidak diimunisasi karena si kecil bisa lebih mudah tertular berbagai penyakit dari orang yang tidak memiliki gejala.

Sebagai contoh meningitis yang bisa menyebar dari orang yang memiliki bakteri di dalam tubuhnya, tetapi tidak sakit. Anda tidak bisa mengetahui siapa saja yang sudah tertular.

Daftar imunisasi wajib dan tambahan di Indonesia

akibat anak tidak diimunisasi

Di Indonesia, tiap bayi di bawah umur satu tahun wajib melengkapi lima jenis imunisasi dasar. Idealnya, tidak boleh ada bayi yang tidak diimunisasi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia tentang penyelenggaraan imunisasi, lima imunisasi wajib ini adalah vaksin hepatitis B, vaksin polio, vaksin TBC (BCG), vaksin campak (MR), dan vaksin kombinasi (pentavalen DPT-HB-HiB).

Masing-masing kelima vaksin ini berguna mencegah anak terkena penyakit polio, campak, tuberkulosis (TBC), difteri, pertusis atau batuk rejan, tetanus, dan hepatitis B.

Selain imunisasi yang sifatnya wajib, ada juga yang berupa vaksinasi tambahan yang dapat diberikan sesuai kebutuhan dalam rangka melindungi diri dari penyakit tertentu.

Jadwal imunisasi tambahan juga dapat disesuaikan dengan usia dan kebutuhan Anda serta si kecil. Berikut ini beberapa daftar imunisasi tambahan yang juga dianjurkan untuk didapatkan anak maupun orang dewasa:

Vaksin MR

Vaksin ini diberikan untuk mencegah campak dan campak Jerman (rubella) pada bayi yang tidak diimunisasi. Imunisasi MR dapat diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan usia kurang dari 15 tahun.

Jika anak sudah mendapatkan imunisasi campak pada usia 9 bulan, pemberian imunisasi MR dilakukan pada usia 15 bulan (minimal jarak pemberian 6 bulan).

Pemberian imunisasi MR kedua (booster) dilakukan saat anak berusia 5 tahun. Perlu diketahui juga efek samping vaksin MR pada anak yang tidak berbahaya.

Pneumokokus (PCV)

Vaksin PCV dapat diberikan pada anak usia 7-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 2 bulan yaitu pada bulan ke-2, 4 dan 6. Bila diberikan pada anak usia di atas 2 tahun, PCV cukup diberikan sebanyak 1 kali.

Vaksin ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri pneumokokus. Bila bayi tidak diimunisasi PCV, bisa menyebabkan pneumoniameningitis, dan infeksi telinga.

Hepatitis A

Vaksin Hepatitis A, dapat mulai diberikan saat anak berusia 2 tahun. Berikan sebanyak 2 kali dengan interval 6-12 bulan.

Hepatitis A merupakan kondisi peradangan pada organ hati yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi feses penderita. Bayi yang tidak diimunisasi hepatitis A bisa mengalami peradangan pada hati.

Varisela

Vaksin varisela alias vaksin cacar air diberikan setelah anak berusia 12 bulan. Paling baik diberikan sebelum anak masuk sekolah dasar.

Cacar air salah satu penyakit yang sering dialami oleh anak-anak dan penularannya sangat cepat. Inilah yang membuat anak-anak dan orang dewasa membutuhkan vaksin varisela.

Influenza

Vaksin influenza diberikan pada anak minimal usia 6 bulan, dan diulang setiap tahun. Meski influenza adalah penyakit yang sangat umum, tapi dengan pemberian vaksin bisa mengurangi kemungkinan anak menderita influenza sampai tahap yang sangat parah.

Human Papoloma Virus (HPV)

Vaksin HPV (human papiloma virus) dapat mulai diberikan saat anak berusia 10 tahun. Vaksin ini melindungi tubuh dari human papiloma virus yang dapat menyebabkan kanker mulut rahim.

Imunisasi wajib dan tambahan harus diberikan sesuai jadwal imunisasi yang telah ditetapkan dalam Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi (PPI).

Mendapatkan imunisasi juga diberikan secara cuma-cuma, alias gratis. Caranya pun mudah. Cukup datang ke pusat layanan kesehatan naungan pemerintah, misalnya rumah sakit daerah, posyandu, dan puskesmas.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Jenis Penyakit yang Bisa Ditularkan Lewat Ciuman Bibir

Berciuman secara intim memiliki risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Yuk, ketahui apa saja risiko penularan penyakit akibat ciuman bibir.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Seks & Asmara 15/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Bayi yang keseringan pakai popok, memang rentan terkena ruam popok. Jangan khawatir, ikuti cara berikut ini untuk mengobati dan mengatasi ruam popok.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Para ahli menemukan mutasi baru pada coronavirus yang membuatnya lebih mudah menginfeksi. Apakah virus ini lebih berbahaya dari sebelumnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Vaksin Rotavirus, Bermanfaat untuk Mencegah Diare Parah pada Anak

Vaksin rotavirus termasuk ke dalam imunisasi tambahan yang dianjurkan IDAI. Mengapa vaksin ini perlu diberikan dan adakah efek sampingnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24/06/2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

imunisasi vaksin hib

Vaksin HiB: Manfaat, Efek Samping, dan Jadwalnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/07/2020 . Waktu baca 8 menit
vaksin covid-19 oxford

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 5 menit
vaksin pcv

Vaksin PCV : Ketahui Manfaat, Jadwal, dan Efek Sampingnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 9 menit
bayi demam naik turun

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit