Apa Akibatnya Kalau Anak Tidak Diimunisasi?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Apakah imunisasi anak Anda sudah lengkap? Ingat, imunisasi harus terus didapat si kecil semenjak ia baru lahir untuk mencegah risiko penularan penyakit berbahaya di kemudian hari. Sayang, masih banyak anak Indonesia yang tidak mendapat imunisasi lengkap karena orangtuanya takut akan desas-desus berbagai mitos keliru di luar sana.

Kenapa imunisasi penting?

Setiap manusia pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan sejak masih dalam kandungan untuk melindungi diri dari serangan penyakit. Meski begitu, sistem imun bayi belum bekerja seoptimal dan sekuat sistem imun orang dewasa sehingga mereka akan lebih gampang sakit. Di sinilah peran imunisasi untuk menjaga kesehatan bayi segera sejak baru lahir.

Imunisasi adalah cara memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga kebal akan serangan kuman penyakit, baik itu bakteri, virus, jamur, parasit, dan lainnya. Nah dengan imunisasi, artinya Anda melindungi bayi Anda dari berbagai risiko penyakit di masa yang akan datang.

Imunisasi lewat pemberian vaksin akan membantu sistem imun anak memproduksi antibodi khusus untuk melawan jenis-jenis penyakit tertentu. Vaksin mengandung versi jinak atau nonaktif dari suatu kuman penyakit yang telah dilemahkan. Setelah masuk ke dalam tubuh, kuman jinak ini tidak akan menyebabkan penyakit tapi justru membiarkan sistem imun anak mengenali dan mengingatnya sebagai ancaman.

Setelahnya, sistem imun akan membentuk antibodi yang secara spesifik akan bekerja melawan jenis kuman tersebut. Maka ketika suatu saat nanti ada kuman yang aktif masuk ke dalam tubuh anak, sistem imunnya akan siap membunuhnya dengan antibodi khusus tersebut. Hal inilah yang membantu anak terlindungi dari berbagai macam penyakit berbahaya.

Bagaimana jika bayi tidak imunisasi sama sekali?

Perlu dipahami bahwa vaksinasi memang tidak menjamin 100% efektif untuk mencegah penyakit. Namun, manfaatnya akan lebih besar dari risikonya. Jikapun anak tertular dan sakit, gejala yang dialami akan jauh lebih ringan dan mudah diobati ketimbang tidak diimunisasi sama sekali.

Jika tidak mendapat imunisasi, anak Anda akan lebih berisiko tertular dan mengalami sakit yang lebih parah. Jika anak tidak diimunisasi, mereka juga akan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang dapat menyebabkan kecacatan, bahkan kematian.

Ini karena tubuhnya tidak diperkuat dengan sistem pertahanan khusus yang bisa mendeteksi jenis-jenis penyakit berbahaya tertentu. Tubuh tidak mengenali virus penyakit yang masuk sehingga tidak bisa melawannya. Hal ini akan membuat kuman penyakit semakin mudah berkembang biak dan menginfeksi tubuh anak.

Jika anak tidak diimunisasi sama sekali, anak akan berisiko terkena penyakit-penyakit yang telah disebutkan di atas, parahnya lagi penyakit tersebut bisa menyebabkan kematian pada anak. Sistem kekebalan tubuh pada anak yang tidak diimunisasi tidak akan sekuat anak yang diimunisasi. Ini karena tubuh anak tidak mampu mengenali virus penyakit yang masuk ke tubuh sehingga tidak bisa melawannya.

Terlebih jika anak tidak diimunisasi kemudian jatuh sakit, ia dapat menularkannya ke orang lain sehingga membahayakan lingkungan sekitarnya.

Imunisasi penting juga untuk melindungi orang lain

Imunisasi juga berfungsi untuk mencegah penularan penyakit dari orang ke orang. Ya! Perlu dicatat bahwa dampak dari tidak imunisasi bukan hanya memengaruhi kesehatan anak Anda saja. Anak-anak lain dan orang di sekitarnya juga akan merugi jika program imunisasi tidak digalakkan merata.

Jika anak tidak diimunisasi, virus dan kuman di dalam tubuhnya bisa dengan mudah menyebar ke kakak, adik, teman, maupun orang lain di sekitarnya. Terlebih jika mereka juga belum atau tidak pernah mendapat imunisasi dan daya tahan tubuhnya sedang lemah.

Pada akhirnya, penyebaran penyakit akan berubah menjadi wabah wabah penyakit pun akan menyebar ke lingkungan sehingga menimbulkan kasus jangkitan penyakit dan kematian yang lebih banyak.

Daftar imunisasi wajib dan tambahan di Indonesia

Di Indonesia, tiap bayi di bawah umur satu tahun wajib melengkapi lima jenis imunisasi dasar. Idealnya, tidak boleh ada anak yang tidak mendapat imunisasi. Lima imunisasi wajib ini adalah vaksin hepatitis B, vaksin polio, vaksin TBC (BCG), vaksin campak, dan vaksin kombinasi (pentavalen DPT-HB-HiB). Masing-masing kelima vaksin ini berguna mencegah anak terkena penyakit polio, campak, tuberkulosis (TBC), difteri, pertusis atau batuk rejan, tetanus, dan hepatitis B.

Selain imunisasi yang sifatnya wajib, ada juga yang berupa vaksinasi tambahan yang dapat diberikan sesuai kebutuhan dalam rangka melindungi diri dari penyakit tertentu. Jadwal imunisasi tambahan juga dapat disesuaikan dengan usia dan kebutuhan Anda serta si kecil.

Berikut ini beberapa daftar imunisasi tambahan yang juga dianjurkan untuk didapatkan anak maupun orang dewasa:

  • Vaksin MR diberikan untuk mencegah campak dan campak Jerman (rubella). Imunisasi MR dapat diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan usia kurang dari 15 tahun. Jika anak sudah mendapatkan imuniasasi campak pada usia 9 bulan, maka pemberian imunisasi MR dilakukan pada usia 15 bulan (minimal jarak pemberian 6 bulan). Pemberian imunisasi MR kedua (booster) dilakukan saat anak berusia 5 tahun.
  • Pneumokokus (PCV) dapat diberikan pada anak usia 7-12 bulan sebanyak 2 kali dengan interval 2 bulan. Bila diberikan pada anak usia di atas 2 tahun, PCV cukup diberikan sebanyak 1 kali. Vaksin ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan pneumoniameningitis, dan infeksi telinga.
  • Hepatitis A, dapat mulai diberikan saat anak berusia 2 tahun. Berikan sebanyak 2 kali dengan interval 6-12 bulan.
  • Vaksin varisela alias vaksin cacar air diberikan setelah anak berusia 12 bulan. Paling baik diberikan sebelum anak masuk sekolah dasar.
  • Vaksin influenza diberikan pada anak minimal usia 6 bulan, dan diulang setiap tahun.
  • Vaksin HPV (human papiloma virus) dapat mulai diberikan saat anak berusia 10 tahun. Vaksin ini melindungi tubuh dari human papiloma virus yang dapat menyebabkan kanker mulut rahim.

Imunisasi wajib dan tambahan harus diberikan sesuai jadwal imunisasi yang telah ditetapkan dalam Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi (PPI). Mendapatkan imunisasi juga diberikan secara cuma-cuma, alias gratis. Caranya pun mudah. Cukup datang ke pusat layanan kesehatan naungan pemerintah, misalnya rumah sakit daerah, posyandu, dan puskesmas.

Bagaimana jika anak telat imunisasi?

Mungkin Anda sempat lupa untuk membawa anak ke posyandu, puskesmas, bidan, maupun dokter anak untuk diimunisasi. Mungkin anak juga sedang batuk, pilek, demam, atau diare saat jadwal imunisasinya tiba sehingga Anda harus menunggu dulu sampai dirinya sembuh.

Jika jadwal imunisasi anak terlewat atau telat, sebaiknya segera bawa anak Anda untuk diimunisasi. Segera mintakan imunisasi anak yang telat tersebut agar anak tidak berisiko tertular penyakit. Pemberian vaksin yang tidak sesuai jadwal tidak masalah, asalkan jenis imunisasi wajibnya sudah lengkap semua saat anak genap menginjak usia 1 tahun.

Tenang. Pemberian imunisasi sebenarnya aman dan masih dianjurkan meskipun ia sedang sakit ringan seperti batuk, pilek, infeksi telinga, atau demam ringan. Namun, sebaiknya tetap konsultasi dulu dengan dokter soal kondisi anak sebelum melakukan prosedur ini.

Mewaspadai berbagai efek samping imuniasasi anak

Sama seperti pemberiaan obat-obatan ataupun prosedur medis lainnya, imunisasi juga memiliki efek samping.

Berikut ini beberapa efek samping paling umum yang dapat ditimbulkan setelah diimunisasi:

1. Nyeri, bengkak, dan kemerahan pada area suntikan

Setelah diimunisasi, anak Anda mungkin akan merasakan nyeri pada area yang disuntik. Selanjutnya akan muncul juga pembengkakan dan kemerahan pada area yang disuntik. Anda jangan khawatir karena ini wajar dan tidak membahayakan.

Anda dapat mengurangi efek samping ini dengan menempelkan kompres dingin. Kompres dingin dapat membantu meringankan rasa tidak nyaman serta mengurangi pembengkakan yang muncul pada bekas lokasi suntikan. Umumnya gejala-gejala ini akan muncul setelah diimunisasi dan akan hilang sendiri dalam satu hingga dua hari.

4. Gejala seperti mau sakit flu

Setelah diimunisasi, Anda atau si kecil mungkin mengalami gejala-gejala seolah Anda terinfeksi virus flu. Gejalanya antara lain:

  • Demam ringan
  • Sakit maag
  • Muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Sakit kepala
  • Lemas dan pegal-pegal

Pada dasarnya prosedur ini bekerja dengan meniru cara kerja infeksi. Oleh sebab itu, kadang prosedur ini akan memberikan efek seolah-olah tubuh Anda sedang sakit. Meski begitu, “infeksi” ini tidak benar-benar menyebabkan penyakit, tapi sedang melatih tubuh untuk membangun kekebalan terhadap penyakit.

5. Efek samping serius

Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa saja mengalami berbagai efek samping di bawah ini setelah diimunisasi, seperti:

  • Reaksi alergi parah atau anafilaktik yang ditandai dengan kesulitan bernafas dan tekanan darah turun.
  • Kejang.
  • Demam tinggi.
  • Nyeri sendi atau otot kaku.
  • Infeksi paru-paru.

Meski begitu, efek samping yang serius sangat jarang sekali terjadi. Efek samping setelah imunisasi umumnya tergolong ringan dan dapat hilang sendiri tanpa pengobatan khusus. Oleh sebab itu, Anda jangan khawatir dan jangan sampai tidak imunisasi.

Vaksin imunisasi terbukti aman

Melihat potensi efek sampingnya, Anda mungkin masih meragukan keamanan vaksinasi. Beberapa cerita di luar sana juga menyebutkan bahwa imunisasi malah menyebabkan anak sakit atau berisiko kena autisme. Namun, tidak benar bahwa imunisasi tidak aman. Berbagai penelitian sudah menjamin vaksinasi aman, efektif, dan minim risiko.

Sebelum diedarkan, vaksin akan lebih dulu melewati sejumlah tes dan uji klinis untuk menjamin cara kerja dan keamanannya. Kemanjuran dan keamanan vaksin juga terus diawasi dari waktu ke waktu oleh para ilmuwan dan pakar kesehatan dari seluruh dunia.

Jika Anda atau anak menunjukkan tanda-tanda efek samping serius seperti di atas, atau Anda khawatir terkait gejala efek samping yang tidak wajar, segera cari bantuan medis darurat atau periksa ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Ingatlah selalu jika manfaat imunisasi akan jauh lebih besar ketimbang risiko efek sampingnya. Memilih tidak imunisasi juga tidak sebanding dengan risiko ketularan penyakit berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca