Mengenal Bronkodilator, Obat untuk Penyakit Asma dan PPOK

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020
Bagikan sekarang

Asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis) menyerang kesehatan paru. Keduanya menyebabkan penyempitan saluran di paru-paru sehingga menyulitkan seseorang untuk bernapas dengan baik. Salah satu pengobatan yang digunakan untuk orang asma dan PPOK adalah bronkodilator. Simak tentang obat ini lebih dalam ulasan berikut.

Bronkodilator adalah obat untuk asma dan PPOK

Jika Anda memiliki asma atau PPOK, dokter biasanya akan meresepkan obat bronkodilator. Ini merupakan jenis obat yang membuat pernapasan jadi lebih lega. Cara kerja bronkodilator adalah melemaskan otot-otot di sekitar saluran pernapasan menuju paru-paru sehingga memperlebar saluran napas dan tabung bronkial.

Obat ini sebenarnya sebenarnya bukan pengobatan utama untuk pasien asma. Orang dengan penyakit asma lebih diutamakan menggunakan kortikosteroid inhalasi untuk mengurangi peradangan dan mencegah gejala kembali kambuh.

Namun, beberapa pasien bisa menggunakan obat jenis ini agar saluran udara tetap terbebas dari penyempitan dan meningkatkan keampuhan kortikosteroid yang digunakan.

Sementara itu, untuk pengobatan PPOK, obat ini dapat digunakan secara tunggal. Penambahan kortikosteroid hanya diberikan pada pasien yang memiliki gejala parah.

Tipe bronkodilator berdasarkan efek kerjanya

Berdasarkan cara kerjanya, obat ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu efek cepat dan efek lama. Agar lebih jelas, mari bahas satu per satu.

Bronkodilator efek cepat

Bronkodilator efek cepat adalah bronkodilator yang bekerja lebih cepat, tapi hanya bertahan selama 4-5 jam saja. Biasanya tipe ini digunakan untuk mengobati gejala yang muncul tiba-tiba, seperti mengi, sesak napas, dan nyeri di dada.

Saat gejala tidak muncul, pasien mungkin tidak membutuhkan obat ini. Beberapa contoh dari obat jenis ini adalah albuterol (ProAir HFA, Ventolin HFA, Proventil HFA), levalbuterol (Xopenex HFA), atau pirbuterol (Maxair).

Bronkodilator efek lama

Jenis ini merupakan kebalikan dari yang sebelumnya. Obat ini bekerja lebih lama dan bertahan selama 12 jam hingga satu hari penuh.

Obat ini diperuntukkan untuk penggunaan harian, bukan untuk meredakan gejala yang muncul mendadak. Beberapa contohnya, meliputi salmeterol (Serevent), formoterol (Perforomist), aclidinium (Tudorza), tiotropium (Spiriva), dan umeclidinium (Incruse).

Tipe bronkodilator berdasarkan komponennya

nebulizer dan inhaler

Selain efek kerja obat, bronkodilator juga dikategorikan berdasarkan komponennya, yakni:

Agonis beta-2

Obat ini terdiri dari salbutamol, salmeterol, formoterol dan vilanterol. Obat ini dapat digunakan pada efek cepat dan lama. Biasanya, digunakan dengan cara dihirup dengan inhaler genggam kecil atau nebulizer. Bisa juga dalam bentuk tablet kecil atau sirup.

Namun, orang dengan kondisi tertentu perlu berhati-hati menggunakan obat ini. Contohnya, pada orang dengan hipotiroidisme, penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes.

Antikolinergik

Obat yang masuk dalam kategori efek cepat dan lama ini terdiri atas ipratropium, tiotropium, aclidinium, dan glikopirronium.

Obat bronkodilator tipe antikolinergik ini adalah obat yang utamanya digunakan pada pasien PPOK, meski bisa juga digunakan untuk pasien asma.

Antikolinergik paling sering digunakan dengan inhaler. Namun, lebih disarankan menggunakan nebulizer jika gejalanya cukup parah.

Cara kerja obat ini adalah melebarkan saluran udara dengan menghalangi saraf kolinergik, yakni saraf yang melepaskan bahan kimia untuk mengencangkan otot di sekitar saluran paru-paru.

Orang dengan pembesaran prostat, gangguan pada kandung kemih, dan glaukoma perlu berhati-hati menggunakan obat ini.

Teofilin

Obat ini termasuk ke dalam tipe tipe obat efek lama. Biasanya dikonsumsi setiap hari dalam bentuk kapsul. Namun, bisa juga disuntikkan ke pembuluh darah jika gejalanya parah. Obat ini bekerja dengan mengurangi pembengkakan di saluran pernapasan.

Orang dengan hipertiroidisme, gangguan hati, hipertensi atau tukak lambung perlu berhati-hati menggunakan obat ini. Meski biasanya digunakan bersamaan dengan obat lain, kadar teofilin bisa menumpuk di dalam tubuh jika bereaksi dengan obat yang tidak tepat.

Efek samping obat bronkodilator

jenis bronkodilator untuk PPOK

Efek samping penggunaan obat ini bisa bervariasi, bergantung jenis mana yang Anda gunakan. Namun, efek samping umum yang mungkin terjadi antara lain:

  • Sakit kepala disertai tangan gemetar dan kram otot
  • Mulut kering dan diare
  • Batuk, mual, dan muntah
  • Jantung berdetak cepat

Sebelum menggunakan bronkodilator, baiknya Anda berkonsultasi lebih dahulu pada dokter. Terutama orang dengan masalah medis tertentu, sedang hamil, atau menyusui. Dokter akan membantu memilih obat yang tepat untuk menangani gejala asma atau PPOK yang Anda miliki.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mengatasi Nyeri Dada saat Asma

Bagaimana cara mengatasi nyeri dada saat asma? Ketahui dulu penyebabnya, lalu coba dalami cara mengatasinya di artikel ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Asma, Health Centers Februari 16, 2020

Pentingnya Membersihkan Ruangan untuk Penderita Sakit Paru Kronis

Membersihkan ruangan dapat menjadi hal yang sedikit sulit untuk penderita PPOK. Namun jangan khawatir, berikut tips untuk bantu Anda.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Tips Sehat Januari 30, 2020

5 Obat yang Paling Sering Digunakan untuk Meredakan Batuk Karena Asma

Bagaimana cara mengobati batuk karena asma yang sudah lebih dari 8 minggu?Cek di sini rekomendasi obat batuk asma yang paling ampuh.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Asma, Health Centers Desember 20, 2019

7 Cara Cepat Mengatasi Gejala Asma yang Kambuh

Penting untuk tahu cara mengatasi penyakit asma ketika kambuh agar tidak semakin parah! Termasuk kapan harus menghubungi dokter atau pergi ke IGD terdekat.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Asma, Health Centers Desember 10, 2019

Direkomendasikan untuk Anda

penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Latihan pernapasan asma

Teknik Latihan Pernapasan untuk Mengurangi Gejala Asma

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Tanggal tayang Mei 11, 2020
asma kambuh saat udara dingin

Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Tanggal tayang April 13, 2020
cara mencegah asma

5 Cara Preventif untuk Mencegah Asma Kambuh Akibat Polusi Udara

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Tanggal tayang Maret 26, 2020