Menurut para peneliti, ketika wanita yang sedang hamil mengidap diabetes pada masa kehamilannya, anak-anak akan mereka menghadapi risiko yang lebih tinggi mengidap autisme.

Penelitian tentang diabetes gestational dilakukan terhadap lebih dari 320.000 anak yang lahir di Amerika Serikat.

Namun, penelitian tersebut adalah “penelitian observasional” dan tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara diabetes gestational (yang mempengaruhi sampai 9% wanita hamil) dengan autisme. Peningkatan risiko autisme ini terlihat pada awal diabetes gestational atau sekitar tujuh kasus tambahan per 1.000 kehamilan lebih dari kehamilan yang tidak melibatkan diabetes gestasional. Namun tidak ada peningkatan risiko yang dikaitkan dengan diabetes tipe 2 yang didiagnosis sebelum ibu hamil.

Seorang pakar memberi peringatan agar berhati-hati dalam menafsirkan hasil temuan. Meskipun studi ini menunjukkan bahwa perkembangan diabetes gestasional selama trimester pertama atau kedua saat kehamilan dapat menempatkan janin pada risiko gangguan spektrum autism yang tinggi, ternyata besarnya risiko terjadinya gangguan ini relatif kecil.

Meskipun peneliti ingin mengidentifikasi sebanyak mungkin faktor risiko autisme, kenyataannya adalah bahwa banyak faktor kesehatan dan faktor risiko lainnya yang telah dikaitkan dengan gangguan spektrum autisme.

Studi yang dilakukan sebelumnya telah menunjukkan temuan campuran tentang apakah diabetes gestasional meningkatkan risiko gangguan perkembangan pada anak.

Gangguan autisme atau perkembangan tubuh menyerang 1 dari 68 anak di Amerika Serikat. Menurut U.S. Centers for Disease Control and Prevention, Anak-anak dengan kondisi ini umumnya memiliki kesulitan dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi.

Dalam studi yang melibatkan lebih dari 320.000 anak di Amerika Serikat yang lahir antara 1995-2009 di Rumah Sakit Kaiser di California Selatan. Setelah 5,5 tahun kemudian sekitar 3.388 anak didiagnosis menderita autisme.

Penelliti mengatakan bahwa wanita yang mengidap diabetes gestasional pada minggu ke-26 kehamilannya, memiliki risiko 42% lebih tinggi untuk memiliki keturunan yang mengidap autisme, dibandingkan anak-anak yang ibunya tidak menderita diabetes gestasional. Temuan ini bahkan dilakukan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil seperti usia, pendidikan, dan berat badan ibu, tambah mereka.

Selain itu, studi ini tidak menemukan peningkatan risiko autisme antara anak-anak yang lahir dari ibu yang mengetahui bahwa mereka memiliki diabetes tipe 2 sebelum memiliki bayi. Hal ini disebabkan kemungkinan wanita bisa mengontrol kadar gula darah mereka selama masa kehamilan.

Para peneliti tidak dapat menjelaskan mekanisme di balik hubungan ini dengan pasti. Namun, kadar gula darah tinggi yang berkaitan dengan  diabetes gestasional bisa mengganggu perkembangan otak yang normal pada periode kehamilan yang penting. Oleh karena itu, calon ibu harus mengetes gula darah mereka di awal kehamilan.

Menurut the American College of Obstetricians and Gynecologists, wanita yang tidak memiliki faktor risiko diabetes tidak dapat menyaring penyakit sampai minggu ke-24 dan minggu ke-28 kehamilan, sehingga diabetes gestational tidak bisa terdeteksi selama awal kehamilan. Xiang memperingatkan bahwa wanita yang memiliki diabetes gestational selama kehamilan tidak perlu panik atau khawatir. Seorang wanita yang berisiko terkena diabetes gestasional, seperti wanita yang kelebihan berat badan, berusia lebih tua dari 25, atau memiliki riwayat diabetes gestasional, harus mempertimbangkan pemeriksaan lebih awal.

Para peneliti mengatakan bahwa pemeriksaan awal untuk autisme pada anak-anak yang lahir dari ibu yang mengidap diabetes gestasional boleh  dilakukan, tapi peneliti tidak begitu yakin dengan hal tersebut. Beberapa dari mereka berpikir bahwa rekomendasi ini, meskipun bermaksud baik, mungkin sedikit terlalu awal. Di sisi lain, orangtua harus selalu rajin berkonsultasi dengan dokter anak mereka setiap mereka mengalami kekhawatiran tentang perkembangan anak mereka.

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca