home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

11 Pilihan Terapi yang Direkomendasikan Dokter untuk Anak Autisme

11 Pilihan Terapi yang Direkomendasikan Dokter untuk Anak Autisme

Autisme adalah kelainan perkembangan otak yang memengaruhi keterampilan seseorang untuk berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi, dan berpikir. Selain itu, ciri autisme pada anak sering disertai dengan gerakan berulang yang disebut stimming. Dengan perawatan dan terapi yang tepat, anak atau orang dewasa yang punya autisme bisa hidup lebih baik ke depannya. Apa saja terapi dan perawatan yang tepat untuk anak autis (sebutan lama bagi pengidap autisme, -red)? Yuk, simak pilihannya pada ulasan berikut ini.

Pilihan terapi autis untuk anak dan orang dewasa

Tidak ada satu obat yang dibuat khusus untuk mengobati anak autis (sebutan lama bagi pengidap autisme, -red), tapi ada banyak pilihan terapi yang bisa dipilih.

Autisme tidak dapat disembuhkan total. Namun, terapi dapat membantu mengendalikan gejala sekaligus meningkatkan kemampuan fungsional seseorang dalam menjalani kehidupan.

Namun, perlu diingat bahwa kondisi autisme pada setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang gejalanya masih ringan sehingga butuh satu atau dua jenis terapi saja. Ada pula yang lebih parah sehingga membutuhkan rangkaian terapi yang lebih beragam.

Maka, Anda akan sangat disarankan untuk mengikuti anjuran dokter. Lebih jelasnya, mari bahas satu per satu pilihan terapi untuk autisme.

1. Terapi manajemen perilaku

melatih anak mengorganisasikan sesuatu

Terapi manajemen perilaku mengutamakan dukungan positif, latihan keterampilan, dan bantuan diri sendiri untuk mengembangkan perilaku yang diinginkan sekaligus mengurangi perilaku yang tidak diinginkan pada anak autis.

Pendekatan perawatan yang diterima secara umum kepada orang dengan autisme disebut dengan analisis perilaku terapan (ABA). Menurut National Institute of Health, ABA memiliki beberapa jenis yang dapat meliputi:

Perilaku dan dukungan positif (PBS)

PBS mencoba untuk mengubah lingkungan, mengajarkan keterampilan baru pada pengidap autisme, dan membuat perubahan lainnya untuk mendukungnya berperilaku dengan benar. Terapi ini dapat mendorong orang dengan kelainan ini berperilaku normal dan menjadi lebih positif.

Intervensi perilaku intensif dini (EIBI)

Terapi EIBI ditujukan untuk anak autis usia dini (biasanya di bawah usia 5 tahun). Terapi ini membutuhkan instruksi dan mengatur perilaku satu orang ke orang lainnya atau dalam kelompok kecil.

Pelatihan tanggapan vital (PRT)

PRT merupakan terapi yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya untuk meningkatkan motivasi belajar, mengendalikan perilakunya sendiri, dan mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi dengan orang lain.

Perubahan dalam perilaku-perilaku ini bisa membantu penderita mengatasi berbagai situasi, contohnya ketika anak bertemu dengan orang baru.

Pelatihan percobaan diskrit (DDT)

DTT adalah terapi pengajaran yang menggunakan cara langkah demi langkah pada anak autis. Pelajaran akan dibagi menjadi beberapa bagian dan terapis menggunakan umpan balik positif, seperti penghargaan atas perilaku positif anak selama mengikuti terapi.

2. Terapi perilaku kognitif (CBT)

terapi mental kejiwaan untuk anak

Terapi perilaku kognitif (CBT) menggunakan kaitan antara perasaan, pikiran, dan perilaku untuk membantu penderita autis mengatasi kecemasan, menghadapi situasi sosial dan menyadari emosinya dengan lebih baik.

Dalam terapi ini, dokter, penderita autisme, dan orang tuanya (atau pengasuhnya) bekerja bersama untuk menetapkan tujuan yang spesifik. Penderita akan belajar menentukan dan mengubah pemikiran yang menyebabkan perilaku dan perasaan yang bermasalah secara perlahan-lahan.

Terapi perilaku kognitif dapat disesuaikan dengan kelemahan dan kekuatan masing-masing penderita. Lamanya masa terapi bergantung dengan tingkat kemajuan penderita dalam mengikuti semua sesinya.

3. Terapi edukasi

orangtua bohong pada anak

Tim spesialis akan bekerja sama untuk menyiapkan berbagai aktivitas lewat terapi edukasi. Tujuan dari terapi ini adalah membantu anak autis dalam mengasah keterampilan, perilaku, serta kemampuannya berkomunikasi.

Program ini bisa sangat terstruktur dan memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik masing-masing orang. Penderita autisme sering menerima kombinasi dari kelas pribadi, kelas kelompok kecil, dan kelas biasa.

4. Terapi okupasi

porsi makan siang anak

Terapi okupasi bertujuan untuk membantu anak atau orang dewasa yang autis untuk menyelesaikan tugas sehari-harinya. Mereka akan belajar untuk mengatasi masalah dalam kehidupan dan memaksimalkan kemampuan mereka, serta kebutuhan dan minat mereka.

Beberapa keterampilan yang diajarkan pada anak autisme pada terapi ini adalah cara menggunakan sendok dengan benar saat makan atau cara berpakaian.

5. Terapi keluarga

kemampuan anak memecahkan masalah

Terapi keluarga berfokus pada mengajarkan orangtua, pengasuh, dan anggota keluarga lainnya untuk berkomunikasi dan bermain dengan penderita autisme dengan berbagai cara khusus.

Pasalnya, anak-anak dengan kondisi ini tidak dapat dihadapi dan diasuh dengan cara yang biasanya diterapkan pada anak yang normal. Dengan terapi ini, anak atau orang dewasa dengan autisme dapat belajar keterampilan baru dan memperbaiki perilakunya yang tidak diinginkan dengan bantuan dan dukungan keluarganya.

6. Obat-obatan

Obat-obatan stroke ringan

Obat-obatan memang memberikan sedikit manfaat untuk gejala utama pada anak autis. Akan tetapi, obat-obatan bisa memperbaiki masalah yang dan kondisi yang berkaitan seperti depresi, gangguan tidur, gangguan cemas, epilepsi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan perilaku agresif seperti melukai diri sendiri.

Para ahli menganjurkan penggunaan obat-obatan bersamaan dengan terapi autisme lainnya, misalnya CBT. Obat yang umum digunakan dalam perawatan autisme meliputi selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), trisiklik, dan obat-obatan antipsikotik.

Obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping, jadi sangat penting untuk mengikuti petunjuk dokter, baik penentuan dosis, jenis obat, hingga masa penggunaan obat.

7. Terapi fisik

Beberapa anak dengan kelainan ini bisa mengalami masalah pergerakan. Terapi fisik mencakup latihan spesifik untuk anak autis untuk meningkatkan kesehatan, kekuatan, keseimbangan, dan postur mereka.

Terapis fisik akan membantu penderita autisme dengan merancang program tepat dan mengajarkannya cara melakukan aktivitas fisik.

8. Memantau asupan nutrisi dan pola makan

anak mau makan

Beberapa penderita autisme berisiko kekurangan nutrisi. Ini terjadi karena mereka hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Beberapa di antaranya bahkan menghindari makan karena mereka sensitif terhadap pengaturan cahaya atau perabotan di ruang makan.

Mereka juga tidak mau makan karena percaya bahwa makan bisa memicu gejala autis kumat. Hal ini tentu berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Oleh karena itu, orangtua dan pengasuh harus bekerja bersama ahli gizi untuk membuat rencana makan untuk penderita autisme. Nutrisi yang baik sangat diperlukan karena penderita autisme cenderung memiliki tulang yang lebih tipis dan masalah pencernaan (sembelit, sakit perut, muntah).

9. Pelatihan keterampilan sosial

kartu identitas anak

Salah satu terapi untuk anak autis yang sangat bermanfaat yaitu pelatihan keterampilan sosial. Pelatihan ini membantu penderita autisme belajar cara berinteraksi dengan orang lain.

Berbagai kegiatan yang diasah dalam pelatihan ini adalah bekerja sama dalam tim, menjawab dan mengajukan pertanyaan, melakukan kontak mata, memahami bahasa tubuh, hingga mencari penyelesaian masalah bersama dengan orang lain.

10. Terapi wicara

anak baca buku

Terapi wicara bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi penderita autisme. Beberapa orang memiliki masalah dengan keterampilan komunikasi verbal seperti berbicara atau memahami apa yang orang lain katakan.

Terapi ini akan membantu mereka dalam memberikan penjelasan yang lebih baik atas pemikiran dan perasaan mereka, menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat, atau memperbaiki ritme berbicara mereka.

Kemampuan berkomunikasi secara nonverbal juga akan dilatih. Misalnya kemampuan mengartikan gerak-gerik tubuh, mengenal berbagai ekspresi wajah, dan sebagainya.

11. Intervensi dini

gejala asma pada anak ke dokter

Diagnosis dan perawatan dini dapat membantu mengendalikan gejala autisme. Intervensi dini mengajarkan anak atau orang dengan autisme untuk belajar keterampilan dasar seperti berpikir dan membuat keputusan serta keterampilan sosial dan emosional.

Terapi dan intervensi yang tepat dapat membantu penderita autisme memaksimalkan dan mendorong kemampuan mereka.

Jika Anda curiga anak Anda atau Anda sendiri mengidap autisme, konsultasikan pada dokter sesegera mungkin sehingga perawatan dan terapi autisme dapat dimulai di waktu yang lebih tepat.

Jangan lupa untuk meningkatkan pengetahuan diri mengenai seputar autisme dan cara mengasuh mereka lewat konsultasi dokter, membaca buku, atau mengikuti komunitas yang berkaitan.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Autism spectrum disorder (ASD) – Treatment. https://www.cdc.gov/ncbddd/autism/treatment.html. Accessed June 26, 2017.

Autism – Treatment Overview. http://www.webmd.com/brain/autism/autism-treatment-overview. Accessed June 26, 2017.

Autism spectrum disorder – Treatment. http://www.nhs.uk/Conditions/Autistic-spectrum-disorder/Pages/Treatment.aspx. Accessed June 26, 2017.

Autism spectrum disorder (ASD) – Treatment and drugs. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autism-spectrum-disorder/basics/treatment/con-20021148. Accessed June 26, 2017.

Behavioral Management Therapy for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/behavioral-management.aspx. Accessed June 26, 2017.

Cognitive Behavior Therapy for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/cognitive-behavior.aspx. Accessed June 26, 2017.

Educational and School-Based Therapies for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/educational-therapies.aspx#IEP. Accessed June 26, 2017.

Occupational Therapy for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/occupational-therapy.aspx. Accessed June 26, 2017.

Physical Therapy for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/physical-therapy.aspx. Accessed June 26, 2017.

Medication Treatment for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/medication-treatment.aspx. Accessed June 26, 2017.

Nutritional Therapy for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/nutritional-therapy.aspx. Accessed June 26, 2017.

Early Intervention for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/early-intervention.aspx#programs. Accessed June 26, 2017.

Social Skills Training for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/social-skills.aspx. Accessed June 26, 2017.

Speech-Language Therapy for Autism. https://www.nichd.nih.gov/health/topics/autism/conditioninfo/treatments/Pages/speech-language.aspx#Nonverbal. Accessed June 26, 2017.

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 10/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri