Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Memahami Asupan Gizi dan Pola Makan Anak Autisme

Memahami Asupan Gizi dan Pola Makan Anak Autisme

Memahami asupan gizi dan pola makan yang tepat untuk anak merupakan hal penting bagi setiap orangtua, termasuk untuk anak autisme. Bukan hanya perkembangannya yang perlu diperhatikan, asupan gizi dan pola makan untuk anak autis juga tak kalah penting.

Nah, untuk memudahkan Anda mengetahui dan memahami asupan gizi serta pola makan anak dengan autisme, saya akan menjelaskannya lebih dalam di sini.

Seperti apa gizi untuk anak autis?

Asupan gizi anak autis pada umumnya sama dengan makanan untuk anak lainnya, yakni harus memenuhi gizi seimbang dan tetap memperhatikan aspek pemilihan makanan.

Diet atau pola makan yang umumnya diterapkan pada anak autis adalah pola makan bebas gluten dan bebas kasein (gluten free casein free).

Intervensi diet atau pemberian pola makan pada anak autis ini punya beberapa tujuan, yakni sebagai berikut.

  • Menghilangkan gejala autis.
  • Menghentikan atau menunda proses degeneratif yang berlangsung.
  • Meningkatkan kualitas hidup.
  • Memberikan status gizi yang baik bagi penyandang autis.1

Apa masalah makan yang biasanya dialami anak autis?

penyebab anak 1 tahun susah makan bisa sebabkan kekurangan zat besi

Sayangnya, perilaku pilih-pilih makanan (picky eater) membuat penerapan pola makan untuk anak autis terganggu dan tidak maksimalnya asupan gizi.

Selain pemilih soal makanan, anak autis juga biasanya kesulitan menerima makanan baru, mengalami tantrum, dan mengunyah dengan sangat pelan.

Sebagian besar anak autis mempunyai pola makan idiosyncratic dan perilaku makan yang tidak biasa, seperti berikut.

  • Sedikitnya variasi diet atau pola makan.
  • Tidak menyukai tekstur makanan tertentu.
  • Sangat suka pada makanan tertentu.​2
  • Sulit menerima menu makanan baru.

Padahal, pemilihan jenis makanan yang benar secara tidak langsung akan mempengaruhi status gizi anak.3

Tercukupinya asupan makanan pada anak autis harus mendapatkan dukungan dari internal dan eksternal.

Keterlibatan keluarga dapat berpengaruh dalam pemenuhan asupan makanan dan keberhasilan penerapan diet atau pola makan anak dengan autisme.

Sampai saat ini, diketahui memang bahwa masih banyak anak autis yang belum dapat melaksanakan diet atau pola makan bebas gluten dan bebas kasein.

Hal tersebut tidak bisa dipungkiri karena masih banyaknya produk makanan yang mengandung gluten maupun kasein.

Terbatasnya jenis makanan yang tidak mengandung gluten dan kasein yang diketahui orangtua untuk disajikan kepada anak mereka juga jadi alasan lainnya.​4

Apa akibatnya jika anak autis mengalami masalah makan?

Gangguan perilaku makan dapat menyebabkan jumlah makanan yang dikonsumsi tidak adekuat atau bisa berlebihan.

Masalah atau gangguan perilaku makan pada anak autis dapat menimbulkan berbagai dampak, khususnya pada asupan gizi, yaitu sebagai berikut.

  • Asupan gizi yang tidak tercukupi.
  • Asupan gizi berlebihan.
  • Berat badan tidak normal.
  • Mengalami malnutrisi.
  • Gangguan perkembangan fisik dan mental.
  • Menyebabkan kematian.

Nah, untuk melihat perilaku makan seorang anak, Anda dapat menggunakan children eating behavior questionnarie (CEBQ).​

Pembahasan mengenai kuesioner ini akan saya jelaskan lebih lanjut di bagian bawah.

Jenis pola makan untuk memenuhi gizi anak autisme

makanan camilan penambah daya tahan tubuh anak

Berikut beberapa jenis diet atau pola makan yang biasanya diterapkan pada anak dengan autisme.

1. Diet gluten free casein free (GFCF)

Meskipun tidak direkomendasikan secara rutin, pola makan GFCF umumnya digunakan sebagai diet untuk anak autis.

Berdasarkan sistematic review terdapat sedikit bukti bahwa diet GFCF bermanfaat untuk mengelola gejala autism spectrum disorder (ASD) pada anak-anak dan remaja.

Namun, dengan beberapa pengecualian, tidak ada secara statistik perbedaan signifikan dalam gangguan spektrum autisme.5

Studi lain juga menunjukkan bahwa diet atau pola makan GFCF bukanlah terapi yang efektif untuk gejala inti ASD (defisit sosial dan komunikasi, stereotip/perilaku berulang)

Pola makan ini hanya boleh diterapkan dengan ketentuan berikut.

  • Jika anak dengan ASD mengalami perubahan perilaku akut.
  • Tampaknya terkait dengan perubahan pola makan.
  • Ketika tenaga medis telah memastikan bahwa anak tersebut memiliki alergi atau intoleransi makanan terhadap gluten dan/atau kasein.6

Terapi probiotik disarankan dalam beberapa ulasan sebagai pengobatan potensial untuk anak-anak dengan ASD dan gejala gastrointestinal.

Suatu studi menunjukkan bahwa pemberian Lactobacillus acidophilus (5×109 CFU/hari, 2x/hari selama 2 bulan) secara signifikan mengurangi tanda dan gejala khas dari anak anak autisme, terutama di sistem pencernaan, pada anak-anak dengan ASD dan gejala gastrointestinal.7

2. Diet feingold

Diet atau pola makan anak austisme yang dikembangkan oleh Ben Feingold ini awalnya ditujukan untuk anak-anak yang hiperaktif.

Bend Feingold meyakini bahwa dengan tidak mengonsumsi makanan yang mengandung pewarna buatan, perisa buatan, pengawet, serta beberapa jenis pemanis buatan, kondisi anak-anak hiperaktif dapat menjadi lebih baik.

Selain bahan tambahan pangan sintetis, anak autisme perlu menghindari makanan yang mengandung senyawa salisilat.

Senyawa salisilat adalah senyawa yang secara alami terdapat pada beberapa jenis buah dan syur seperti tomat, timun, apel, jeruk, anggur, persik, plum, beri, ceri dan kacang almond.

Sekitar 54% dari orang tua anak autis yang mengikuti diet ini melaporkan adanya perbaikan kondisi pada anak mereka. Namun, penelitian mengenai efektifitas diet ini sesunggguhnya masih belum cukup memadai.5

Selain itu, berikut beberapa pilihan jenis diet atau pola makan yang bisa menjadi alternatif terapi pada pasien autisme.

diet anak autisme

Bagaimana cara mengukur perilaku makan anak?

Perilaku makan anak dapat diukur menggunakan instrumen child eating behaviour questionnaire (CEBQ) yang dikembangkan oleh Wardle et al (2001).

Children eating behavior questionnaire (CEBQ) adalah kuesioner laporan orangtua yang terdiri dari 35 pertanyaan untuk menilai perilaku makan pada anak-anak.

Perilaku makan dinilai dalam 8 skala, yakni:

  • food responsiveness,
  • emotional overeating,
  • satiety responsiveness,
  • slowness in eating,
  • emotional undereating,
  • fussiness, enjoyment of food, dan
  • desire to drink).8

Sementara pada versi terbaru yang telah dilakukan validasi oleh The Norwegian Mother and Child Cohort Study (MoBa) 2016, perilaku makan dinilai dalam 5 subskala berikut:

  • food responsiveness,
  • emotional overeating,
  • satiety responsiveness,
  • slowness in eating,
  • emotional undereating, dan
  • fussiness.

Para ibu menilai frekuensi perilaku dan pengalaman anak mereka pada skala 5 poin (1-tidak pernah, 2-jarang, 3-kadang, 4-sering, 5-selalu).

Pengolahan data perilaku makan anak menggunakan metode likert summated rating, yaitu dengan menggunakan nilai tengah dari total nilai skor.

Selanjutnya, berdasarkan jumlah total skor yang didapat, kemudian dilihat lebih lanjut.

Jika hasil kurang dari median total skor, berarti perilaku makan anak kurang. Sementara jika lebih dari median, artinya perilaku makan anak baik.8

Gambar: formulir kuesioner perilaku makan

Nah, itulah informasi seputar asupan gizi, pola makan, hingga cara mengetahui perilaku makan untuk anak autis. Jika ada pertanyaan, silakan konsultasikan lebih jauh dengan dokter anak Anda.

Verifying...


Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

1. Centers for Disease Control and Prevention. Morbidity and Mortality Weekly Report: Prevalence of Autism Spectrum Disorders- Autism and Developmental Disabilities Monitoring Network, 14 Sites, United States, 2008. United States : Office Surveillance, Epidemiology, and Laboratory Services, Centers [homepage on the Internet]. 2012 [dikutip pada tanggal 21 Oktober 2021]. Diunduh dari : http://www.cdc.gov/mmwr/pdf/ss/ss6103.pdf

2. Ahearn WH, Castine T, Nault K, Green G. Journal of Autism and Developmental Disorders. Published online 2001:505-511. doi:10.1023/a:1012221026124

3. Lewinsohn Peter M, Jill M Holm Denoma MS, Jeffrey M Gau, Thomas E Joiner, Ruth StriegelMoore, Patty Bear, et al. Problematic eating and feeding behaviors of 36-months-old children. International Journal of Eating Disorders.2005; 38:3, 208-219.

4. Ramadayanti S  S, Margawati A. Perilaku Pemilihan Makanan dan Diet Bebas Gluten Bebas Kasein pada Anak Autis. J Nutr Coll. 2013;2(1):35-43.

5. Gwenda Washnieski. Gluten-free and casein-free diets as a form of alternative treatment for autism spectrum disorders. [Thesis]. University of Wisconsin-Stout. 2009 [dikutip pada tanggal 30 Oktober 2012]. Diunduh dari: http://www.uwstout.edu/content/lib/thesis/2009/20 09washnieskig.pdf

6. Mulloy A, Lang R, O’Reilly M, Sigafoos J, Lancioni G, Rispoli M. Addendum to “gluten-free and casein-free diets in treatment of autism spectrum disorders: A systematic review.” Research in Autism Spectrum Disorders. Published online January 2011:86-88. doi:10.1016/j.rasd.2010.07.004

7. Sanctuary MR, Kain JN, Angkustsiri K, German JB. Dietary Considerations in Autism Spectrum Disorders: The Potential Role of Protein Digestion and Microbial Putrefaction in the Gut-Brain Axis. Front Nutr. Published online May 18, 2018. doi:10.3389/fnut.2018.00040

8. The Norwegian Institute of Public Health N. Documentation of MoBa Instruments. The Norwegian Mother and Child Cohort Study (MoBa). Published 2016. https://www.fhi.no/en/studies/moba/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fandi Imran Pattisahusiwa, S.Tr.Gz, RDN Diperbarui 2 weeks ago