Artikel Bersponsor

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Pneumonia yang Disebabkan Bakteri dan Virus?

DISPONSORI OLEH:

Terlihat Serupa, Apa Perbedaan Pneumonia yang Disebabkan Bakteri dan Virus?

Pneumonia dan COVID-19 memiliki kesamaan gejala, yaitu sesak napas. Agar tak keliru, Anda perlu mengenali gejala pneumonia di masa virus COVID-19.

Pneumonia adalah salah satu infeksi paru-paru yang umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur.1

Bakteri Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab paling umum pneumonia bakteri pada anak-anak. Selain itu, ada juga bakteri Haemophilus influenzae tipe b (Hib) yang menjadi penyebab paling umum nomor dua dari pneumonia yang terjadi akibat bakteri.1

Dua jenis virus yang paling umum sebagai penyebab penyakit pneumonia adalah virus pernapasan Syncytial dan virus Pneumocystis jiroveci.1

Bakteri dan virus penyebab pneumonia

Bakteri Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab dari penyakit pneumokokus.2 Sementara itu, COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.3

COVID-19 bisa menyebabkan komplikasi paru-paru, seperti pneumonia.4

Mengenal koinfeksi pneumonia

Pneumonia adalah bentuk infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang paru-paru.1 Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh bakteri dan virus secara bersamaan yang disebut koinfeksi.5

Infeksi saluran pernapasan, khususnya virus musiman, memiliki kaitan dengan peningkatan risiko koinfeksi dan terbukti saat ini menunjukkan bahwa respons kekebalan bawaan terhadap SARS-CoV-2 juga dapat membahayakan pertahanan inang saluran pernapasan terhadap bakteri.5

Pada dasarnya sulit untuk membedakan apakah infeksi saluran napas tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. Pada pasien yang dirawat karena COVID-19 ditemukan infeksi bakteri dan pada beberapa kasus sering kali tidak terdeteksi.6

Koinfeksi bakteri pada pneumonia COVID-19 umumnya disebabkan S. aureus, S.pneumoniae, dan H. influenzae.6

Koinfeksi bakteri pada pneumonia COVID-19 dilaporkan berhubungan dengan meningkatnya risiko syok, gagal napas, bertambah lamanya waktu perawatan di Intensive Care Unit (ICU), dan meningkatnya mortalitas.6

Hasil studi meta-analisis menunjukkan, sebanyak 31 studi menunjukkan peningkatan mortalitas pada pasien dengan pneumonia koinfeksi bakteri dan virus.6

Berdasarkan penelitian yang terbit dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, kemunculan Invasive Pneumococcal Disease (IPD) dan virus COVID-19 (SARS-CoV-2) di saat yang bersamaan jarang terjadi namun apabila terjadi, dapat berpengaruh pada case-fatality rate (CFR) yang tinggi.7

Case-fatality rate adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian akibat suatu penyakit tertentu.8 Artinya orang yang terkena COVID-19 dan memiliki pneumonia angka CFR-nya cukup tinggi.7

Kasus COVID-19 dengan gejala berat dan disertai pneumonia dapat berujung pada Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).9

Tak hanya itu, pneumonia yang terjadi akibat kasus COVID-19 pun dapat berujung pada Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).9 ARDS merupakan kondisi yang mengancam jiwa yang ditandai oleh oksigenasi yang buruk dan masalah pada pengembangan paru-paru.10

Perbedaan gejala pneumonia yang disebabkan oleh virus Covid-19 dan bakteri Streptococcus pneumoniae

Gejala ringan seperti batuk, demam, sesak napas, nyeri dada dan rasa lelah, bisa menjadi tanda terjadinya pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dan juga virus COVID-19.11,12

Meski sekilas terlihat mirip, namun gejala kedua penyakit ini ternyata berbeda.

Pneumonia merupakan infeksi akut pernapasan yang terjadi pada paru-paru. Paru-paru terdiri dari kantung-kantung kecil yang disebut alveolus. Pada pasien yang terkena pneumonia dapat ditemukan alveolus tersebut diisi dengan nanah dan cairan.1

Sementara itu, gejala awal virus COVID-19 dapat berupa anosmia atau hilangnya indra penciuman, diare, dan ruam pada kulit.12

Perlu diperhatikan juga, virus COVID-19 bisa terjadi secara tiba-tiba, tapi bakteri penyebab pneumonia membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang hingga muncul peradangan.11

Jenis pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dan paling sering terjadi, terutama terhadap anak-anak, adalah pneumonia pneumokokus dan disebabkan oleh bakteri bernama Streptococcus pneumoniae.1

Berbeda dengan virus COVID-19 yang hanya diakibatkan oleh virus-SARS CoV-2.4

Pengobatan pneumonia di masa pandemi

Setelah mengetahui perbedaan gejala dari pneumonia yang disebabkan oleh virus Covid-19 dan bakteri Streptococcus pneumoniae, kini Anda harus paham bagaimana pengobatannya di masa pandemi.

Pneumonia dengan gejala ringan biasanya dapat diobati di rumah dengan cukup beristirahat dan minum banyak air.13

Perawatan di rumah sakit diperlukan apabila Anda mengalami gejala yang berat.13 Salah satu gejala berat yang mungkin terjadi pada pneumonia yang terjadi akibat bakteri S. pneumoniae ataupun SARS Cov-2 adalah sesak napas.12,14

Sementara itu, pneumonia yang terjadi akibat bakteri atau virus COVID-19 dapat menyebar melalui beberapa cara. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet dari batuk atau bersin. Sehingga dalam penanganannya dibutuhkan proses isolasi mandiri.1

Cara mencegah pneumonia

Apakah pneumonia dapat dicegah? Tentu bisa. Berikut beberapa cara mencegah pneumonia yang bisa Anda lakukan.

Menerapkan pola hidup bersih dan sehat

Untuk mencegah pneumonia di masa pandemi, jangan lupa untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Ini termasuk mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, makan makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, dan istirahat yang cukup.15

Dengan sistem imun yang baik, proses pemulihan penyakit ringan yang menyerang pernapasan seperti flu atau pilek bisa berlangsung lebih cepat.15

Kini dapat dipahami bahwa gejala dari pneumonia dan COVID-19 itu berbeda sehingga penanganannya juga tak bisa disamakan.

Jika Anda mengalami keluhan, segera hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Berhenti merokok

Selain itu, tindakan pencegahan pneumonia juga bisa dilakukan dengan menjauhi kebiasaan merokok.

Ini karena tembakau bisa merusak fungsi paru-paru melawan infeksi sehingga risiko terkena pneumonia lebih besar.15

Untuk itu, berhenti merokok jadi hal yang wajib dilakukan jika Anda ingin terhindari dari penyakit pernapasan satu ini.

Vaksin pneumonia

Anda tidak perlu khawatir karena pneumonia karena bakteri S. Pneumoniae dan virus sars cov-2 dapat dicegah dengan mendapatkan vaksinasi.15

Terdapat vaksinasi yang tersedia untuk mencegah penyakit pneumonia yang dikarenakan oleh bakteri S. Pneumoniae yang bisa anda dapatkan di rumah sakit atau klinik terdekat dan juga vaksinasi untuk penyakit pneumonia karena virus sars cov-2 yang saat ini diberikan oleh pemerintah.15,16

Sebagai langkah pencegahan untuk anak-anak usia 6 minggu sampai 17 tahun hingga dewasa diatas 18 tahun ke atas terkena pneumonia akibat bakteri dapat dilakukan vaksinasi sesuai jadwal yang diberikan15, serta melakukan vaksinasi untuk SARS Cov-2 sesuai dengan arahan dari pemerintah.16

Anak-anak usia 6 minggu sampai 17 tahun hingga dewasa diatas 18 tahun ke atas sangat dianjurkan untuk imunisasi pneumonia terlebih untuk yang memiliki masalah kesehatan.15

PP-PRE-IDN-0291-FEB-2022


Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pneumonia: Preventing Pneumonia | American Lung Association. (2020). Retrieved 18 Oktober 2021, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/pneumonia/preventing-pneumonia 

Pneumonia: Symptoms and Diagnosis | American Lung Association. (2021). Retrieved 18 Oktober 2021 from

https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/pneumonia/symptoms-and-diagnosis

The difference between pneumonia and the flu | Piedmont Healthcare (2020). Retrieved 18 Oktober 2021 from https://www.piedmont.org/living-better/the-difference-between-pneumonia-and-the-flu 

Zahin Amin-Chowdhury., Felicity Aiano., Anna Mensah., Carmen Sheppard., David Litt., Norman K Fry., Nick Andrews., Mary E Ramsay., dan Shamez N Ladhani.. (2020) Impact of the COVID-19 Pandemic on Invasive Pneumococcal Disease and Risk of Pneumococcal Coinfection with SARS-CoV-2: prospective national cohort study, England PMC doi: 10.1093/cid/ciaa1728

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adelia Dwitasari Diperbarui Jul 01
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto