Pneumonia Aspirasi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Pengertian

Apa itu pneumonia aspirasi?

Pneumonia aspirasi adalah jenis pneumonia yang terjadi akibat menghirup makanan, minuman, muntah, atau air liur ke paru-paru Anda. Kondisi ini lebih mungkin terjadi jika sesuatu mengganggu refleks Anda, seperti cedera otak atau masalah menelan, atau penggunaan alkohol atau narkoba secara berlebihan. 

Seberapa umumkah kondisi ini?

Semua orang dari segala usia bisa saja terserang penyakit ini. Jenis pneumonia ini dapat menjadi masalah serius pada anak-anak, orang yang berusia lebih tua dari 65 tahun, dan orang dengan masalah kesehatan lain atau sistem kekebalan tubuh yang rendah. 

Gejala

Apa saja gejala pneumonia aspirasi?

Gejala pneumonia aspirasi tergolong sama dengan jenis pneumonia yang lain. Dikutip dari Mayo Clinic, gejala pneumonia dapat dikategorikan dari ringan hingga parah, tergantung beberapa faktor, termasuk kuman yang menjadi penyebab infeksi, usia, dan kondisi kesehatan Anda. 

Beberapa gejala umum yang timbul dari pneumonia aspirasi adalah:

  • Nyeri dada saat bernapas atau batuk
  • Linglung atau perubahan kesadaran mental (pada orang dewasa usia 65 tahun atau lebih tua)
  • Batuk berdahak
  • Kelelahan
  • Demam, berkeringat, dan menggigil kedinginan
  • Suhu tubuh lebih rendah daripada suhu tubuh normal (pada orang dewasa yang berusia lebih dari 65 tahun dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah)
  • Mual, muntah, atau diare
  • Sesak napas

Bayi baru lahir dan balita mungkin tidak menunjukkan tanda dan gejala apa pun. Meskipun begitu, mereka bisa saja mengalami demam dan batuk, tampak tidak bergairah, atau merasa kesulitan bernapas dan makan. 

Kapan sebaiknya ke dokter?

Segera hubungi dokter jika Anda mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada, demam hingga 39℃ atau lebih, batuk, terutama jika Anda mengalami batuk nanah. 

Penting untuk segera mengunjungi dokter pada orang-orang dengan risiko tinggi, seperti:

  • Orang dewasa berusia lebih dari 65 tahun
  • Anak-anak berusia lebih muda dari 2 tahun dengan tanda dan gejala
  • Orang dengan masalah kesehatan lain atau sistem kekebalan tubuh yang rendah
  • Orang yang menjalani kemoterapi atau mengonsumsi obat-obatan yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh

Pneumonia dapat menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa pada lansia dan orang dengan gagal hati atau masalah paru-paru kronis. 

Penyebab

Apa saja penyebab pneumonia aspirasi?

Penyebab pneumonia aspirasi adalah kegagalan proses tubuh saat mencegah makanan atau zat lain memasuki batang tenggorokan dan paru-paru. Benda-benda tersebut dapat menyebabkan peradangan atau infeksi pada paru-paru. 

Penyebab pneumonia paling umum adalah bakteri Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Namun, pada pneumonia aspirasi, kuman yang terlibat tergantung pada zat atau benda yang terhirup ke paru-paru. 

Apa saja kondisi yang dapat meningkatkan risiko terkena pneumonia aspirasi?

Dikutip dari artikel yang dipublikasikan US National Library of Medicine, berikut adalah kondisi kesehatan yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena pneumonia aspirasi:

  • Stroke
  • Overdosis obat
  • Alkoholisme
  • Kejang
  • Trauma kepala
  • Demensia
  • Penyakit Parkinson
  • Penyempitan kerongkongan
  • GERD
  • Pseudobulbar palsy
  • Trakeostomi
  • Bronkoskopi
  • Muntah yang berkepanjangan

Selain itu, faktor risiko umum lainnya yang jadi penyebab pneumonia aspirasi adalah perubahan status mental, gangguan sistem saraf dan otak, gangguan motilitas kerongkongan (tabung yang membawa makanan), dan penyumbatan saluran keluar lambung. 

Pasien yang dirawat di rumah sakit karena community-acquired pneumonia atau pneumonia yang didapat dari masyarakat juga berpotensi mengalami pneumonia aspirasi. 

Pengobatan

Bagaimana mendiagnosis kondisi ini?

Dokter akan memulai pemeriksaan dengan bertanya soal riwayat kesehatan Anda dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan itu termasuk mendengarkan suara paru-paru Anda dengan stetoskop untuk memeriksa apakah ada suara yang menandakan pneumonia. 

Diagnosis pneumonia aspirasi patut diduga terutama pada pasien yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis. Untuk memastikan diagnosis tersebut, tes pencitraan berupa rontgen dada perlu dilakukan. 

Pada rontgen dada kondisi pneumonia aspirasi, zat yang dihirup paru-paru terlihat dalam volume yang kecil. Selain itu, dokter mungkin akan meminta Anda melakukan pemeriksaan di bawah ini:

  • Tes darah. Tes darah dilakukan untuk memastikan adanya infeksi dan menggambarkan jenis kuman apa yang menyebabkan infeksi.
  • Oksimetri nadi. Tes ini dapat mengukur tingkat oksigen dalam darah Anda. 
  • Tes dahak. Sampel cairan dari paru-paru Anda (dahak) diambil setelah batu yang dalam dan dipelajari untuk menentukan penyebab infeksi. 

Jika Anda berusia lebih dari 65 tahun dan memiliki kondisi kesehatan yang lain, dokter mungkin akan meminta Anda melakukan pemeriksaan di bawah ini:

  • CT scan. Dokter dapat merekomendasikan CT scan dada untuk mendapatkan gambar paru-paru Anda yang lebih detail.
  • Kultur cairan pleura. Sampel cairan diambil dengan meletakkan jarum di antara tulang rusuk Anda dari daerah pleura dan dipelajari untuk membantu menentukan jenis infeksi. 

Bagaimana cara mengobati pneumonia aspirasi?

Pengobatan pneumonia aspirasi dilakukan untuk mengobati infeksi, mencegah paru-paru menghirup zat lebih banyak lagi, hingga menurunkan risiko komplikasi akibat radang paru-paru. Perawatan untuk mengatasi kondisi ini tergantung dengan usia dan kondisi kesehatan Anda secara keseluruhan. Pilihan pengobatan untuk pneumonia jenis ini adalah:

  • Antibiotik
    Antibiotik biasanya diberikan untuk mengatasi pneumonia secara umum, meski tidak dibutuhkan dalam pneumonia aspirasi. Pemberian antibiotik, seperti ampisilin-sulbaktam atau kombinasi metronidazol dan amoksilin, berguna untuk mencegah perkembangan penyakit.
  • Obat batuk
    Obat ini digunakan untuk mengatasi batuk, supaya Anda bisa beristirahat. Batuk dapat melonggarkan dan mengeluarkan cairan dari paru-paru. 
  • Obat pereda nyeri
    Anda dapat mengonsumsi obat pereda nyeri jika memang diperlukan. Obat-obatan ini termasuk aspirin, ibuprofen (Advil, Motrin IB, dan lain-lain), dan acetaminophen (Tylenol). 

Anda mungkin membutuhkan pasokan oksigen tambahan melalui perawatan intensif di rumah sakit. Dalam beberapa kondisi, terlebih jika gejala yang dirasakan tergolong parah, Anda bisa menggunakan mesin pernapasan atau ventilator. 

Setelah melalui pengobatan, Anda juga dianjurkan melakukan beberapa hal untuk mencegah pneumonia terjadi kembali. Anda disarankan tidur dengan posisi kepala yang lebih tinggi. Jika Anda mengalami kesulitan menelan, makanlah makanan yang berukuran kecil.

Pengobatan di rumah

Apa saja gaya hidup dan pengobatan rumahan yang bisa saya lakukan untuk mengatasi pneumonia aspirasi?

Pengobatan rumahan untuk pneumonia dan perubahan gaya hidup di bawah ini untuk membantu Anda pulih lebih cepat dan mengurangi risiko terkena komplikasi:

  • Beristirahat. Jangan dulu melakukan rutinitas jika suhu tubuh Anda belum kembali normal, atau jika batuk yang Anda alami belum mereda.
  • Minum air. Minumlah banyak air untuk membantu melonggarkan lendir di paru-paru Anda. 
  • Konsumsi obat sesuai resep dokter. Minumlah seluruh obat yang diresepkan dokter untuk Anda. Jika Anda berhenti minum obat sebelum waktunya, paru-paru Anda dapat terus menampung bakteri yang dapat berkembang biak dan menyebabkan kekambuhan. 

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik bagi Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, ataupun perawatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pneumonia Pada Anak

Pneumonia pada anak diklaim sebagai penyebab kematian anak tiap 20 detik. Berikut beberapa gejala pneumonia pada anak yang sebaiknya Anda ketahui.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Gangguan Pernapasan pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Vaksin PCV : Ketahui Manfaat, Jadwal, dan Efek Sampingnya

Vaksin PCV atau pneumokokus adalah salah satu dari rangkaian imunisasi yang perlu diberikan pada anak. Ini penjelasan seputar vaksin PCV.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit

Beda Jenisnya Beda Pula Obatnya, Kenali Macam-Macam Pneumonia Berikut Ini

Pneumonia memiliki banyak jenis yang dibedakan berdasarkan penyebab, tempat tertular, ataupun bagian paru yang terinfeksi. Simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pernapasan, Pneumonia 8 Juni 2020 . Waktu baca 7 menit

Berbagai Vaksin yang Bisa Mencegah Pneumonia

Langkah penting dalam mencegah penyakit pneumonia adalah dengan mendapatkan vaksin. Terdapat 6 jenis vaksin yang mampu mencegah penyakit ini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pernapasan, Pneumonia 4 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
akibat bau mulut

Kenali Beberapa Penyakit yang Ditandai oleh Bau Mulut

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
penyebab dada terasa sesak

10 Penyebab Dada Terasa Sesak Meskipun Tidak Sedang Berolahraga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
obat sesak napas

Obat Sesak Napas yang Mudah Ditemukan di Apotek

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 11 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Emboli paru (pulmonary embolism) adalah penyumbatan yang terjadi di salah satu arteri paru Anda. Pada banyak kasus, emboli paru disebabkan oleh gumpalan darah beku yang mengalir ke paru-paru dari kaki, atau yang lebih jarang dari bagian tubuh lain (trombosis vena dalam).

Emboli Paru

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 2 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit