Apa itu polip kolorektal?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu polip kolorektal?

Polip kolorektal adalah pertumbuhan jaringan yang bertangkai dari dinding usus yang menonjol ke arah usus besar atau rektum. Ukuran polip dapat bervariasi dan semakin besar polip maka semakin besar risiko berkembang menjadi kanker atau pra-kanker.

Polip dapat tumbuh dengan atau tanpa batang polip. Polip yang tumbuh tanpa batang lebih memungkinkan untuk berkembang menjadi kanker dibandingkan yang memiliki batang. Polip adenomatosa yang terdiri dari sel-sel kelenjar yang melapisi bagian dalam usus besar cenderung tumbuh menjadi kanker (calon kanker). Adenoma bergerigi adalah bentuk agresif dari adenoma.

Seberapa umumkah polip kolorektal?

Polip kolorektal adalah penyakit umum yang dapat terjadi pada usia berapa pun. Namun dalam banyak kasus, umumnya dialami orang dengan usia lebih dari 50 tahun serta memiliki obesitas jangka panjang. Anda dapat menurunkan peluang terkena penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko Anda. Silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala polip kolorektal?

Pada banyak kasus, polip kolorektal tidak menunjukkan gejala apa pun. Gejala yang paling umum dari polip kolorektal adalah perdarahan pada area rektum.

Polip kolorektal dengan ukuran besar dapat menyebabkan kram, nyeri perut, atau sembelit. Polip besar dengan tonjolan kecil yang menyerupai jari (adenoma vili) bisa menghasilkan air dan garam yang menyebabkan diare encer sehingga mengakibatkan turunnya kadar kalium dalam darah (hipokalemia). Kadang, polip di sekitar area rektum dengan batang yang cukup panjang akan turun ke bawah dan menggantung mendekati anus.

Dalam keluarga adenomatous polyposis, ada sekitar 100 atau lebih polip prakanker yang dapat berkembang di usus besar dan rektum selama masa kanak-kanak atau remaja. Jika tidak segera ditangani, polip akan berkembang menjadi kanker usus besar atau kanker rektum (kanker kolorektal) sebelum mencapai usia 40 tahun. Orang yang memiliki keluarga yang mengidap adenomatosa poliposis lebih memungkinkan untuk terkena komplikasi lain (sebelumnya disebut sindrom Gardner), khususnya berbagai jenis tumor non-kanker.

Beberapa tumor non-kanker berkembang di area lain dalam tubuh (misalnya, pada kulit, tengkorak, atau rahang). Dalam sindrom Peutz-Jeghers, seseorang memiliki banyak polip kecil di dalam perut, usus kecil, usus besar, dan rektum. Muncul bintik-bintik hitam kebiruan di wajah penderita, di dalam mulut, juga pada tangan dan kaki. Bintik-bintik cenderung memudar saat memasuki masa pubertas kecuali yang ada di dalam mulut. Orang dengan sindrom Peutz-Jeghers lebih berisiko mengembangkan kanker di organ lainnya, terutama pankreas, usus kecil, usus besar, payudara, paru-paru, ovarium, serta rahim.

Kemungkinan terdapat tanda-tanda atau gejala yang tidak tercantum di atas. Jika Anda mempunyai kekhawatiran tertentu mengenai gejala, silakan konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Kebanyakan polip kolorektal tidak menimbulkan gejala. Anda harus menghubungi dokter jika Anda mengalami perdarahan yang berasal dari rektum atau merasakan gerakan yang tidak biasa di dalam usus. Anda harus mengunjungi dokter sesegera mungkin ketika polip sudah berkembang menjadi kanker.

Penyebab

Apa penyebab polip kolorektal?

Mutasi genetik dapat menyebabkan sel-sel dalam tubuh untuk terus memperbaharui diri bahkan ketika tubuh tidak membutuhkan sel-sel baru. Untuk kasus kolorektal, mutasi ini dapat berkembang menjadi polip.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk polip kolorektal?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena polip kolorektal adalah:

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk polip kolorektal?

Beberapa pilihan pengobatan untuk polip kolorektal adalah:

  • Pengangkatan polip kolorektal dilakukan dengan prosedur kolonoskopi menggunakan alat pemotong atau loop kawat listrik.
  • Jika polip tidak memiliki batang atau tidak dapat diangkat selama kolonoskopi, kemungkinan akan dilakukan operasi perut.
  • Jika polip kolorektal sudah berkembang menjadi kanker, pengobatan tergantung pada apakah kanker telah menyebar atau belum. Risiko penyebaran ditentukan oleh pemeriksaan mikroskopis terhadap polip. Jika risikonya rendah, penderita tidak memerlukan pengobatan tahap lanjutan. Jika risikonya tinggi, terutama apabila kanker telah menyerang batang polip, maka segmen usus besar yang mengandung polip akan diangkat dengan cara pembedahan dan ujung potongan usus akan disambung kembali.
  • Jika rektum dipotong, pembedahan dilakukan melalui dinding perut usus kecil (ileostomy). Jalur pembuangan kotoran akan disalurkan melalui ileostomy ke dalam kantong disposable.
  • Beberapa obat anti-inflamasi (NSAIDs) masih diteliti mengenai efektivitasnya dalam menghambat pertumbuhan polip pada orang yang memiliki anggota keluarga yang menderita adenomatosa poliposis. 

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk polip kolorektal?

Seorang dokter dapat merasakan adanya polip kolorektal dengan memasukkan jari ke dalam rektum, tetapi biasanya polip ditemukan selama proses sigmoidoskopi fleksibel (pemeriksaan bagian bawah usus besar dengan viewing tube).

Jika selama proses sigmoidoskopi fleksibel ditemukan adanya polip, kolonoskopi dilakukan untuk memeriksa seluruh usus besar. Pemeriksaan yang lebih lengkap perlu dilakukan karena biasanya terdapat lebih dari satu polip.

Kolonoskopi juga memungkinkan dokter untuk melakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa dengan mikroskop) dari setiap area yang terdapat kanker

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi polip kolorektal?

Beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang mungkin dapat membantu Anda mengatasi polip kolorektal adalah:menjaga pola makan yang sehat dengan mengonsumsi sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian

  • Mengurangi asupan lemak
  • Berhenti merokok atau minum alkohol
  • Olahraga secara teratur dan menjaga berat badan yang sehat.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Maret 21, 2018

Sumber
Yang juga perlu Anda baca