home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi Sebagai Masalah pada Kulit

Mengenal Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi Sebagai Masalah pada Kulit

Setelah jerawat sembuh, biasanya hiperpigmentasi pasca inflamasi timbul dan menyisakan bekas berwarna. Secara umum, hampir semua orang yang memiliki bekas jerawat memiliki kondisi serupa. Kenali alasan hiperpigmentasi ini terjadi dan cara menanganinya.

Mengetahui timbulnya hiperpigmentasi pasca inflamasi

penyebab bekas jerawat

Jerawat termasuk masalah umum yang dialami para remaja dan sebagian orang dewasa. Menyadur studi dari Dermatology Research And Practice, sekitar 90% jerawat terjadi pada remaja dan sekitar 12 – 14% menjadi masalah yang tetap pada orang dewasa.

Timbulnya jerawat memberikan implikasi pada kehidupan psikologis dan sosial penderitanya. Bekas jerawat yang berjejak menimbulkan rasa tidak percaya diri. Belum lagi hiperpigmentasi pasca inflamasi yang muncul menimbulkan warna kulit yang tidak rata.

Hiperpigmentasi pasca inflamasi (post-inflammatory hyperpigmentation) adalah kondisi ketika kulit pada area tertentu memiliki warna yang berbeda dari warna kulit sekitarnya.

Hiperpigmentasi kulit yang terjadi setelah jerawat menimbulkan efek warna lebih gelap pada wajah. Kondisi ini bisa terjadi pada berbagai jenis kulit individu di berbagai belahan dunia.

Berkembangnya hiperpigmentasi pasca inflamasi disebabkan oleh iritasi jerawat. Iritasi yang timbul menyebabkan peradangan (iritasi jerawat). Seiring bekas jerawat pulih, kulit akan memproduksi melanin dalam jumlah berlebih.

Melanin merupakan protein yang bertugas memberi warna pada kulit. Melanin yang berlebihan menyebabkan pewarnaan kulit yang tidak merata. Sayangnya, hiperpigmentasi pasca inflamasi ini tidak memudar meskipun bekas luka sembuh.

Walaupun bisa tampak pada semua tipe kulit, hiperpigmentasi setelah inflamasi sangat mungkin timbul pada orang yang memiliki tone kulit sedang ke gelap.

Kebiasaan memencet jerawat bisa memicu hiperpigmentasi

Selalu menjadi godaan semua orang, ketika jerawat muncul, hal yang paling ingin dilakukan yaitu buru-buru mengentaskannya. Mengentaskan jerawat dengan memencetnya justru menimbulkan iritasi hingga peradangan.

Ketika jerawat sembuh, sangat mungkin bekas jerawat menampakkan tanda hiperpigmentasi pasca inflamasi. Bila sudah terjadi, bukan berarti jerawat sudah sembuh total. Justru inilah pemicu timbulnya jerawat kecil dan jerawat papula.

Kebiasaan memencet jerawat dapat menimbulkan terjadinya inflamasi dan meninggalkan spot yang lebih gelap pada kulit. Maka dari itu, hindari kebiasaan ini agar Anda terhindar dari hiperpigmentasi pasca inflamasi.

Menyembuhkan hiperpigmentasi pasca inflamasi

cara mengatasi bekas jerawat

Timbulnya warna kulit yang tidak merata akibat bekas jerawat memberikan tampilan fisik yang kurang optimal. Wajah menjadi bagian utama yang menunjang performa, terutama saat Anda bertemu banyak orang.

Mungkin tak sedikit orang mengira memencet jerawat menjadi langkah terbaik untuk menghilangkannya. Padahal, cara ini hanya memicu timbulnya hiperpigmentasi pasca inflamasi setelah jerawat.

Jika Anda menemui hiperpigmentasi pada bekas jerawat, ada baiknya segera diobati. Cukup dengan menggunakan obat penghilang bekas jerawat dengan kandungan yang ampuh untuk mengatasi hiperpigmentasi pada kulit.

Pilih obat penghilang bekas jerawat dengan bentuk gel, sehingga mudah diserap kulit secara optimal. Saat membeli obat pastikan ada tiga kandungan yang ampuh untuk menghilangkan bekas jerawat seperti Pionin, MPS, Allium Cepa.

Ketiga komponen ini bekerja sama dalam mengobati bekas jerawat, mencegah timbulnya jerawat, sekaligus meratakan warna kulit akibat hiperpigmentasi pasca inflamasi. Terapkan gel tersebut hingga kulit bekas jerawat sembuh total.

Selain mengoleskan obat gel penghilang bekas jerawat, jangan lupa untuk mengaplikasikan tabir surya pada wajah termasuk area yang mengalami hiperpigmentasi pasca inflamasi.

Sinar matahari dapat menggelapkan area tersebut. Maka itu, Anda butuh perlindungan tambahan agar kulit yang terpapar tidak kembali menimbulkan jerawat.

Jadi, bila muncul jerawat, alangkah baiknya tidak memencet untuk menghindari bekas yang menetap. Tak lupa untuk menerapkan hal-hal di atas ketika hiperpigmentasi setelah inflamasi melanda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sofen, B., Prado, G., & Emer, J. (2016). Melasma and Post Inflammatory Hyperpigmentation: Management Update and Expert Opinion. Skin therapy letter, 21(1), 1–7.

Hyperpigmentation – American Osteopathic College of Dermatology. Aocd.org. (2021). Retrieved 12 March 2021, from https://www.aocd.org/page/Hyperpigmentation

Davis, E.C., & Callender, V.D. (2010). Postinflammatory hyperpigmentation: a review of the epidemiology, clinical features, and treatment options in skin of color. The Journal of clinical and aesthetic dermatology, 3 7, 20-31.

Fabbrocini, G., Annunziata, M., D’Arco, V., De Vita, V., Lodi, G., & Mauriello, M. et al. (2010). Acne Scars: Pathogenesis, Classification and Treatment. Dermatology Research And Practice2010, 1-13. doi: 10.1155/2010/893080.

Wanitphakdeedecha, R., Eimpunth, S., & Manuskiatti, W. (2011). The Effects of Mucopolysaccharide Polysulphate on Hydration and Elasticity of Human Skin. Dermatology Research And Practice, 2011, 1-5. doi: 10.1155/2011/807906

Campanati, A., Savelli, A., Sandroni, L., Marconi, B., Giuliano, A., Giuliodori, K., Ganzetti, G., & Offidani, A. (2010). Effect of allium cepa-allantoin-pentaglycan gel on skin hypertrophic scars: clinical and video-capillaroscopic results of an open-label, controlled, nonrandomized clinical trial. Dermatologic surgery : official publication for American Society for Dermatologic Surgery [et al.], 36(9), 1439–1444. https://doi.org/10.1111/j.1524-4725.2010.01654.x

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Maria Amanda Diperbarui 12/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x