Dermatitis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu penyakit kulit dermatitis?

Penyakit kulit dermatitis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh peradangan akibat kontak langsung dengan zat iritan (mudah mengiritasi kulit) atau alergen (pemicu alergi) di lingkungan sekitar. Masalah kulit ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Gejala utamanya adalah ruam bengkak kemerahan yang tampak sangat kering dan terasa gatal. Kulit yang terdampak biasanya terasa nyeri ketika disentuh serta dipenuhi lepuhan kecil yang dapat mengelupas mengeluarkan cairan.

Dermatitis bukan penyakit kulit menular. Meski begitu, gejalanya perlu dikenali sejak dini. Penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik melalui kombinasi pengobatan dan pencegahan kontak terhadap hal-hal yang memicu peradangan kulit.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Dermatitis merupakan penyakit peradangan kulit yang sangat umum. Penyakit ini biasanya menyerang 15 – 20% anak-anak dan 1 – 3% dari orang dewasa di seluruh dunia. Orang dengan riwayat alergi dan asma lebih rentan mengalaminya.

Penyakit kulit ini dapat dihindari dan ditangani dengan mengurangi faktor-faktor yang meningkatkan risikonya. Diskusikan dengan dokter untuk mengetahui informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda dan gejala dermatitis?

Penyakit kulit ini terdiri dari beberapa jenis. Tanda-tanda dan gejalanya sangat tergantung pada jenis yang Anda miliki. Dari sekian banyak yang ada, tiga macam dermatitis yang paling umum dan perlu dikenali adalah:

  • dermatitis atopik (eksim),
  • dermatitis kontak (kontak iritan atau kontak alergi), serta
  • dermatitis seboroik.

Setiap jenis dermatitis memiliki gejala dan penyebab yang berbeda. Ada yang muncul dalam waktu lama dan ada yang hanya muncul sementara jika terpapar zat tertentu.

1. Dermatitis atopik (eksim)

Penyakit dermatitis atopik (eksim) muncul pertama kali saat bayi dan dapat berlanjut hingga dewasa. Peradangan kulit biasanya muncul pada bagian tubuh seperti siku bagian dalam, belakang lutut, dan bagian depan leher.

Berbagai tanda dan gejala umum yang dialami penderita yakni sebagai berikut.

  • Rasa gatal yang parah terutama di kulit yang tertekuk seperti dalam siku, depan leher, dan belakang lutut.
  • Ruam yang berkerak dan berair jika tergores.
  • Bercak merah, kasar, pecah, atau kulit bersisik.

Berbagai gejalanya bisa timbul tenggelam. Biasanya gejala muncul saat kulit terpapar oleh zat tertentu yang meningkatkan risikonya.

2. Dermatitis kontak

Dermatitis kontak adalah peradangan kulit yang muncul akibat kontak langsung antara kulit dengan zat yang menyebabkan reaksi alergi atau iritasi. Gejala penyakit ini biasanya hanya muncul pada area kulit yang terkena saja zat alergen saja.

Gejalanya antara lain:

  • ruam merah atau benjolan,
  • lepuhan berisi air,
  • sensasi terbakar dan panas pada ruam,
  • kulit terasa gatal, serta
  • kulit membengkak.

3. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik ditandai dengan kulit seperti bercak bersisik yang memerah dan menyerupai ketombe. Kondisi ini biasanya menyerang bagian tubuh yang berminyak, seperti wajah, kulit kepala, dada bagian atas, dan punggung.

Adapun berbagai gejala dermatitis seboroik yaitu:

  • sisik putih seperti ketombe,
  • sisik kekuningan atau kerak pada kulit kepala, telinga, wajah, dan bagian tubuh lainnya, serta
  • kulit merah.

Masalah kulit yang satu ini biasanya muncul dalam periode waktu yang cukup lama dan kerap timbul tenggelam. Pada bayi, penyakit kulit yang satu ini disebut dengan cradle cap.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Apabila Anda atau keluarga Anda terkena penyakit kulit ini, segeralah berkonsultasi ke dokter saat:

  • Merasa sangat tidak nyaman sehingga sulit tidur dan aktivitas lain menjadi terhambat.
  • Kulit terasa sangat sakit.
  • Curiga kulit mengalami infeksi misalnya keluarnya nanah dari luka di kulit.
  • Telah mencoba melakukan berbagai perawatan rumahan tetapi tak kunjung membaik.

Diagnosis dan perawatan dini dapat mencegah penyakit bertambah parah serta mengurangi risiko munculnya kondisi medis darurat lain. Ini sebabnya Anda dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter saat berbagai gejalanya telah muncul.

Kemungkinan ada gejala lain yang belum disebutkan di atas. Jika Anda memiliki pertanyaan lainnya, jangan sungkan untuk bertanya ke dokter. Diskusikan dengan dokter mengenai perawatan dan pengobatan apa yang paling tepat untuk Anda.

Penyebab

Apa penyebab dermatitis?

Berikut berbagai penyebab dermatitis sesuai dengan jenisnya.

1. Dermatitis atopik (eksim)

Jenis penyakit kulit ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:

  • kulit kering,
  • perbedaan kondisi genetik,
  • kesalahan pada sistem imun,
  • bakteri pada kulit,
  • faktor lingkungan,
  • adanya riwayat eksim dalam keluarga, serta
  • adanya riwayat alergi atau asma.

2. Dermatitis kontak

Penyakit ini terbagi menjadi dermatitis alergi kontak dan dermatitis iritan kontak. Dermatitis kontak alergi disebabkan karena sentuhan langsung dengan pemicu alergi, sedangkan dermatitis kontak iritan terjadi akibat kontak dengan zat penyebab iritasi.

Beberapa alergen dan iritan yang sering menjadi penyebabnya yakni:

  • tanaman poison ivy atau tanaman beracun yang berasal dari tanaman obat, bunga, buah-buahan, dan sayuran,
  • perhiasan dengan nikel,
  • zat kimia dalam produk pembersih,
  • parfum,
  • kosmetik, serta
  • zat pengawet pada krim dan losion.

3. Dermatitis seboroik

Peradangan kronis pada kulit kepala umumnya disebabkan oleh pertumbuhan jamur Malassezia pada kelenjar minyak yang tersebar di kulit. Sistem imun kemungkinan bereaksi secara tidak wajar terhadap jamur tersebut sehingga jamur dan minyak berkembang tanpa terkendali.

Faktor-faktor risiko

Siapa yang lebih berisiko terkena dermatitis?

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena peradangan kulit, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Usia

Penyakit kulit ini dapat muncul pada usia berapa pun, tapi dermatitis atopik (eksim) lebih banyak dijumpai pada bayi. Oleh sebab itu, bayi dan anak-anak lebih berisiko terkena eksim.

2. Menderita alergi dan asma

Orang yang menderita asma dan alergi lebih berisiko terkena dermatitis atopik. Namun, tidak diketahui hubungan pasti antara alergi dan asma dengan dermatitis atopik.

3. Sering terkena alergen di tempat kerja

Pekerjaan yang membuat Anda terpapar langsung dengan logam, pelarut, atau produk pembersih tertentu meningkatkan risiko dermatitis kontak. Orang yang bekerja dalam bidang kesehatan juga rentan terkena eksim, terutama pada tangan.

4. Menderita penyakit tertentu

Anda berisiko lebih tinggi terkena peradangan kronis pada kulit kepala bila menderita penyakit gagal jantung kongestif, penyakit Parkinson, dan HIV.

5. Riwayat keluarga

Dermatitis adalah salah satu penyakit kulit yang diturunkan dari orangtua ke anak. Maka dari itu, seseorang yang lahir dari keluarga dengan riwayat penyakit ini biasanya lebih rentan terkena penyakit yang sama.

6. Terlalu sering mencuci tangan

Kebiasaan tertentu ternyata bisa meningkatkan risiko seseorang terkena peradangan kronis, contohnya terlalu sering mencuci dan mengeringkan tangan. Pasalnya, kebiasaan ini bisa menghilangkan minyak alami kulit dan mengubah keseimbangan pH-nya.

Diagnosis

Jika dokter menduga adanya dermatitis, Anda mungkin akan menjalani pemeriksaan fisik dan beberapa tes sebagai berikut.

1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik adalah hal pertama yang biasanya dilakukan dokter untuk melihat kemungkinan penyakit. Dokter akan melihatnya dari tanda dan gejala yang muncul pada kulit.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan riwayat medis Anda dan keluarga. Dari situ, dokter mulai bisa menarik simpulan awal mengenai kondisi kulit Anda.

2. Uji tempel (patch testing)

Dokter akan melakukan uji tempel pada kulit bila ada dugaan bahwa Anda terkena dermatitis kontak. Dalam tes ini, kulit Anda akan diolesi sejumlah kecil alergen atau zat iritan, kemudian ditutup dengan plester khusus.

Uji tempel kulit dilakukan dalam beberapa kunjungan. Saat kunjungan lanjutan dalam beberapa hari kemudian, dokter akan memeriksa kulit untuk melihat apakah Anda mengalami reaksi terhadap zat-zat ini.

Uji tempel kulit paling baik dilakukan setidaknya 2 minggu setelah gejala dermatitis mulai menghilang. Biasanya prosedur ini sangat berguna untuk melihat apakah Anda memiliki alergi kontak terhadap zat tertentu.

3. Biopsi kulit

Biopsi kulit untuk dermatitis merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mencari tahu penyebab masalah kulit Anda. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sampel kecil kulit untuk dilihat di bawah mikroskop.

Pengobatan

Apa saja pilihan obat alami untuk mengatasi gejala dermatitis?

Sebelum menggunakan obat-obatan, dokter mungkin akan menyarankan pengobatan alami atau rumahan sebagai berikut.

1. Mengompres dingin

Kompres dingin bertujuan untuk meredakan gatal tanpa menggaruknya. Bungkuslah beberapa buah es dengan handuk, lalu tempelkan ke kulit selama 20 menit sebanyak 3-4 kali sehari.

2. Mandi air hangat

Mandi air hangat juga membantu meredakan gatal-gatal yang mengganggu. Namun, jangan mandi terlalu lama atau dengan air yang terlalu panas karena hal ini justru membuat kulit makin kering sehingga memperparah gejala.

3. Jangan menggaruk kulit

Agar kondisi kulit tidak bertambah parah, jangan menggaruk terlalu keras bagian kulit Anda yang terkena dermatitis. Sebagai gantinya, cobalah menepuk-nepuk, mencubit lembut, atau menggunakan kompres untuk meredakan gatal.

4. Gunakan pakaian berbahan katun

Pakaian berbahan katun membantu mencegah iritasi akibat eksim. Selain menyerap keringat, bahan ini juga aman dan lembut di kulit sehingga tidak akan melukai area yang terkena dermatitis.

5. Lakukan kegiatan menyenangkan

Stres adalah salah satu hal yang memperparah gejala dermatitis. Anda bisa mencoba menghalaunya dengan kegiatan menyenangkan seperti yoga, melakukan hobi baru, mendengarkan musik, atau sekadar menarik napas dalam-dalam agar tubuh rileks.

6. Mengoleskan tea tree oil

Tea tree oil mengandung zat antijamur, dan antiradang sehingga membantu mengatasi dermatitis seboroik. Cukup campurkan beberapa tetes tea tree oil dengan minyak kelapa atau zaitun, lalu oleskan ke kulit kepala Anda secara rutin.

7. Menggunakan aloe vera

Lidah buaya termasuk tanaman dengan kandungan antiradang yang tinggi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Indian Journal of Dermatology bahkan menyebutkan bahwa ekstrak tanaman ini bisa meringankan gejala dermatitis seboroik.

8. Minum suplemen minyak ikan

Suplemen minyak ikan membantu menekan gejala dermatitis yang dipicu oleh alergi. Selain itu, suplemen yang satu ini juga membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan karena mengandung asam lemak omega 3.

Apa saja pilihan pengobatan medis untuk dermatitis?

Pengobatan untuk dermatitis bisa berbeda-beda pada tiap orang, tergantung jenis dan tingkat keparahannya. Selain rekomendasi gaya hidup dan pengobatan rumahan, berikut pengobatan yang umum diberikan dokter.

  • Mengoleskan salep kortikosteroid untuk menghilangkan gatal dan peradangan.
  • Mengoleskan krim atau losion tertentu yang memengaruhi sistem imun (calcineurin inhibitors).
  • Minum antihistamin (diphenhydramine) untuk mengurangi reaksi alergi dan gatal.
  • Minum antibiotik atau antijamur jika eksim sudah terinfeksi.
  • Melakukan fototerapi atau terapi cahaya.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah dermatitis kambuh?

Anda bisa mencegah kambuhnya penyakit ini dengan menjaga kulit tetap lembap dan terawat. Berikut kiat-kiatnya.

  • Membatasi waktu mandi hanya selama 5-10 menit.
  • Menggunakan sabun yang tidak menghasilkan banyak busa.
  • Mengeringkan tubuh dengan handuk yang halus.
  • Menggunakan minyak atau krim pelembap kulit.
  • Menghindari zat penyebab alergi atau iritasi.
  • Memakai sarung tangan bila hendak menggunakan produk pembersih.

Dermatitis merupakan penyakit peradangan pada kulit dengan pemicu yang beragam. Beberapa di antaranya disebabkan oleh alergi, dan ada pula yang terjadi karena kontak langsung dengan zat pemicu iritasi.

Kenali apa pemicu kondisi Anda dan diskusikan bersama dokter untuk mendapatkan perawatan yang sesuai. Perawatan dini amat membantu dalam mengatasi gejala dan mencegah penyakit bertambah parah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Eksim numular, dikenal juga sebagai dermatitis numularis atau eksim discoid, adalah kondisi kronis yang menyebabkan bercak berbentuk koin pada kulit.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Kulit, Dermatitis 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Bagaimana Cara Menghilangkan Bekas Eksim yang Menghitam?

Eksim tidak hanya menyebabkan gatal hebat, tapi juga bisa menimbulkan bekas di kulit. Cari tahu cara menghilangkan bekas eksim di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Kulit, Dermatitis 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Pilihan Obat dan Terapi untuk Mengatasi Eksim yang Kambuh

Peradangan oleh eksim bisa menyebabkan kulit menjadi kering atau luka terbuka yang basah. Apa saja jenis obat eksim yang yang tepat untuk mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 11 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Pilihan Obat Dermatitis Seboroik Secara Medis dan Alami

Ada berbagai jenis obat dermatitis seboroik yang bisa Anda gunakan, mulai dari krim hingga sampo. Apa yang paling tepat untuk Anda?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 11 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

intertrigo dermatitis intertriginosa

Dermatitis Intertriginosa (Intertrigo)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
dermatitis venenata

Dermatitis Venenata, Penyakit Kulit Akibat Gigitan Tomcat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Dermatitis herpetiformis

Dermatitis Herpetiformis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
komplikasi dermatitis

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit