Tes Alergi: Jenis, Persiapan, dan Efek Samping

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 November 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat asing dari lingkungan. Ada banyak sekali jenis alergi dengan pemicu yang berbeda-beda. Jadi, jika Anda khawatir memiliki alergi terhadap sesuatu, cara terbaik untuk memastikannya adalah dengan tes alergi.

Tes alergi merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis untuk mendiagnosis alergi. Tes ini bertujuan untuk melihat apakah tubuh Anda memiliki reaksi alergi terhadap zat tertentu. Pengujian bisa dilakukan dengan cara tes darah, tes kulit, atau eliminasi makanan.

Tes alergi pada kulit

tes uji tusuk kulit skin prick test

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosis alergi hirup atau paparan kulit, seperti alergi bulu hewan, debu dan tungau, atau serbuk sari tanaman. Lewat tes kulit, dokter juga dapat sekaligus menguji beberapa alergen (pemicu alergi) lain dalam sekali waktu.

Proses pemeriksaan tergolong mudah, cepat, dan minim rasa sakit. Berikut beberapa jenis tes kulit yang umum dilakukan dokter.

1. Tes tusuk kulit (skin prick test)

Uji tusuk kulit atau skin prick test adalah pemeriksaan untuk mendeteksi alergi terhadap beberapa alergen sekaligus. Zat alergen yang dapat diuji dengan tes ini di antaranya serbuk sari, jamur, bulu hewan, tungau, atau makanan tertentu.

Alergen yang digunakan terbuat dari bahan alami dengan konsentrasi yang amat kecil. Bahan-bahan yang dipilih adalah yang paling umum memicu reaksi alergi. Dalam sekali uji, biasanya ada lebih dari satu zat pemicu alergi yang diberikan dan maksimum 25 alergen.

Berikut ini tahapan bagaimana tes alergi ini dilakukan.

  1. Perawat akan membersihkan bagian lengan dengan pembersih mengandung alkohol dan air.
  2. Kulit lengan diberi kode dengan spidol kulit yang sesuai dengan jumlah alergen yang diuji. Setiap masing-masing tanda, jaraknya harus minimum sejauh 2 cm.
  3. Dokter akan meneteskan larutan alergen di sebelah tanda yang tertera di kulit lengan.
  4. Dokter akan menusukkan jarum steril ke kulit yang telah dituang alergen. Jarum yang digunakan setiap uji tes tusuk kulit harus baru.
  5. Larutan alergen yang berlebih akan diseka dengan tisu.
  6. Sekitar 20 sampai 30 menit kemudian, dokter akan mengamati reaksi yang timbul di kulit.

Selain menggunakan alergen, dokter juga akan menguji dua zat lain pada skin prick test sebagai berikut.

  • Histamin. Jika Anda tidak bereaksi terhadap histamin, pengujian pada kulit mungkin tidak bisa menjadi penentu apakah Anda memiliki alergi.
  • Gliserin atau saline. Jika ada reaksi terhadap gliserin atau salin, Anda mungkin berkulit sensitif. Hasil tes perlu didiagnosis secara hati-hati agar tidak keliru.

2. Tes tempel kulit (skin patch test)

Tes Tempel ( Skin Patch Test)

Tes patch adalah metode pengujian alergi dengan menempelkan ekstrak alergen pada kulit Anda menggunakan penampang seperti koyo. Kulit Anda mungkin akan ditempeli 20-30 ekstrak alergen berbeda, termasuk zat lateks, obat-obatan, wewangian, pengawet, pewarna rambut, logam, dan resin.

Sebelum ditempel koyo, punggung Anda akan dibersihkan dulu menggunakan sabun dan air oleh perawat. Berikut adalah langkah demi langkah prosedur skin patch test.

  1. Setelah punggung dibersihkan, dokter akan menandakan beberapa titik di punggung dengan angka. 
  2. Setiap angka di punggung menandakan area untuk alergen yang berbeda.
  3. Masing-masing area tersebut kemudian akan ditempeli koyo dengan kandungan alergen yang berbeda.
  4. Anda bisa pulang ke rumah dan mungkin akan merasakan gatal dan kemerahan di kulit. Ini adalah reaksi normal.
  5. Meskipun terasa gatal, jangan melepas koyo tanpa seizin dokter. Koyo harus dibiarkan tetap menempel di kulit selama 48 jam. Anda akan diminta kembali ke dokter untuk melepasnya.
  6. Pada kunjungan kedua, dokter akan menyinari punggung Anda dengan sinar ultraviolet. Ini dilakukan apabila Anda dicurigai mengalami alergi kontak yang disebabkan karena induksi cahaya (disebut sebagai pengujian Photopatch). 

Umumnya Anda butuh waktu kurang lebih seminggu untuk menyelesaikan rangkaian tes tempel ini. Berikut contoh jadwal tes alergi yang akan dilakukan pada setiap hari kedatangan.

  • Kunjungan pertama (Senin), membersihkan punggung dan menempelkan patch untuk dibiarkan selama 48 jam.
  • Kunjungan kedua (Rabu), patch akan dilepas. Dokter kemudian mendiagnosis kondisi Anda sesuai dengan reaksi yang muncul di kulit punggung.
  • Kunjungan ketiga (Jumat), pembacaan kedua dilakukan dan hasil serta laporan reaksi akan didiskusikan dengan dokter kulit.

3. Tes suntik

Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan dosis kecil zat alergen ke dalam kulit di lengan Anda. Setelah 15 menit, dokter akan mengamati reaksi alergi. Tes alergi ini umumnya dilakukan bagi Anda yang dicurigai punya alergi serangga dan alergi antibiotik penisilin.

Tes alergi dengan uji darah

komponen darah tes darah

Tes pada permukaan kulit mungkin tidak begitu ampuh untuk diagnosis bila reaksi alergi Anda tergolong parah. Pada kasus seperti ini, dokter perlu mengambil sampel darah Anda untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk melihat ada-tidaknya antibodi imunoglobulin E di dalam tubuh. Antibodi IgE merupakan protein khusus yang berfungsi melindungi tubuh saat dimasuki oleh bibit penyakit, zat asing, atau alergen.

Jika jumlah IgE lebih tinggi dari angka normal, Anda kemungkinan besar memiliki alergi. Namun, tes ini tidak dapat menunjukkan apa jenis alergi Anda. Anda perlu menjalani tes IgE khusus terhadap masing-masing pemicu alergi.

Tes alergi dengan eliminasi makanan

kesalahan diet rendah karbohidrat

Eliminasi makanan adalah tes yang digunakan dokter untuk mendiagnosis alergi makanan. Diet ini memiliki dua fase, yaitu fase eliminasi dan fase reintroduksi. Sebelum memulai fase eliminasi, Anda harus merencanakan pola makan yang akan dijalani dan makanan yang perlu dihindari.

Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi tentang makanan yang perlu dihindari. Selain itu, Anda juga bisa mengetahuinya sendiri dengan mengingat makanan apa saja yang membuat tubuh Anda terasa tidak nyaman.

Setelah memilih mana yang akan dieliminasi, Anda harus menyingkirkan bahan-bahan tersebut dari menu makan Anda selama beberapa minggu. Umumnya, fase ini dilakukan selama enam minggu, tapi ada juga yang melakukannya selama dua sampai empat minggu.

Bila fase ini berjalan lancar dan tidak menghasilkan reaksi alergi, Anda dapat melanjutkan ke fase reintroduksi. Pada fase ini, Anda akan kembali mengonsumsi makanan yang sebelumnya sudah dieliminasi secara bertahap. Kebanyakan makanan pertama yang dipilih adalah makanan yang memiliki risiko terendah untuk menimbulkan gejala.

Bila yang dieliminasi lebih dari satu jenis kelompok makanan, Anda bisa menambahkannya sekitar tiga sampai lima hari setelah Anda kembali mengonsumsi kelompok makanan berisiko yang pertama. Mulailah konsumsi makanan dengan porsi yang sedikit.

Misalnya, makanan pertama yang dikonsumsi setelah fase diet eliminasi adalah telur. Jika selama tiga hari tersebut tak ada gejala yang muncul, Anda bisa meneruskan dengan mulai konsumsi produk susu setelahnya.

Sementara Anda mengubah pola makan, dokter akan memantau gejala alergi yang muncul. Apabila Anda memang alergi terhadap makanan yang sedang dihindari, kemungkinan gejala akan berkurang.

Adakah risiko dari tes alergi?

dermatitis kontak

Tes alergi berisiko menyebabkan gatal-gatal ringan, kemerahan, atau bengkak pada kulit. Gejala-gejala ini dapat hilang sendiri dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Krim kortikosteroid ringan dapat meringankan gejala-gejala tersebut.

Pada kasus langka, tes alergi mungkin saja memicu reaksi yang perlu ditangani secara medis. Ini sebabnya setiap tes harus dilakukan di klinik dengan obat-obatan dan peralatan yang memadai, termasuk suntikan epinefrin untuk kondisi darurat.

Salah satu kondisi darurat yang dimaksud adalah syok anafilaksis, yakni reaksi alergi parah yang dapat membahayakan jiwa. Tanda-tandanya antara lain kesulitan bernapas, pembengkakan tenggorokan, dan penurunan tekanan darah secara mendadak.

Kendati demikian, tes alergi merupakan prosedur yang aman selama dilakukan dalam pengawasan dokter. Manfaatnya pun lebih besar dibandingkan risikonya, sebab tes ini membantu Anda mengenali apa saja pemicu alergi di lingkungan yang perlu dihindari.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Banyak hal yang menyebabkan kulit bayi sensitif. Ketahui bagaimana cara penanganan agar kulit bayi Anda terjaga. Seperti apa tips perawatan yang tepat?

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

5 Fakta tentang Alergi yang Perlu Anda Ketahui

Ada lima fakta alergi yang tak boleh diabaikan. Simak juga pembahasan cara pencegahan dan mengurangi reaksi alergi apabila terjadi, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
fakta alergi flu batuk
Alergi 1 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Mengenal Alergi Obat Pereda Nyeri: Ibuprofen dan Asam Mefenamat

Pada beberapa orang, alergi ibuprofen dan asam mefenamat bisa saja terjadi. Apa penyebabnya? Simak penjelasannya di artikel berikut.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Alergi, Alergi Lainnya 24 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Selain makanan dan debu, alergi obat antibiotik juga perlu diperhatikan. Apa itu alergi antibiotik? Cari tahu penjelasan lengkapnya di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ctm sebagai obat tidur

Bolehkah Menggunakan CTM Sebagai Obat Tidur?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 3 menit
pengawet sulfit

Mengenal Alergi Sulfit yang Berasal dari Pengawet Makanan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 4 November 2020 . Waktu baca 5 menit
obat alergi alami

Obat Alergi dari Bahan Alami yang Bisa Ditemukan di Rumah

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 November 2020 . Waktu baca 5 menit
alergi binatang kucing dan anjing

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit