Eksisi rektum adalah prosedur bedah untuk memperbaiki kerusakan pada rektum akibat penyakit saluran pencernaan bawah, penyumbatan, cedera, atau iskemia usus. Rektum merupakan bagian akhir usus besar yang berbatasan dengan anus.
Penyakit peradangan usus besar (IBD) atau divertikulitis dapat menyebabkan perforasi (pembentukan lubang) pada rektum. Pembentukan jaringan parut dan tumor juga bisa terjadi di dalam rektum sehingga mengganggu proses pembuangan feses.

Pada kondisi seperti inilah pasien membutuhkan operasi. Operasi akan membersihkan bagian usus yang bermasalah atau berlubang. Prosedur ini dapat memperbaiki struktur rektum sehingga fungsinya pun kembali normal.
Seperti prosedur bedah umumnya, ada sejumlah persiapan yang perlu Anda lakukan sebelum menjalani eksisi rektum. Persiapan ini akan membantu mengoptimalkan hasil pembedahan dan mengurangi risiko efek samping.
Eksisi rektum bertujuan untuk memperbaiki kerusakan pada rektum serta memulihkan fungsinya seperti semula.
Melansir Mayo Clinic, prosedur ini biasanya dilakukan pada pasien yang mengalami gangguan pencernaan sebagai berikut.
Dokter akan menentukan apakah Anda perlu menjalani pembedahan melalui beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan ini mungkin mencakup rontgen saluran pencernaan bawah, kolonoskopi, dan pemeriksaan MRI.
Sebelum menjalani prosedur, Anda akan diminta mengikuti pola makan khusus selama beberapa hari agar organ usus besar bersih dari kotoran. Anda boleh minum cairan pada satu hari sebelum prosedur, lalu harus berpuasa penuh mulai tengah malam.
Dokter mungkin melakukan prosedur tambahan untuk mengosongkan usus. Selain itu, dokter mungkin juga memberikan antibiotik untuk mengurangi populasi bakteri dalam usus dan mencegah infeksi setelah operasi.
Begitu semua persiapan telah selesai, dokter anestesi akan membius Anda. Kemudian, dokter bedah membersihkan area sayatan dengan cairan antiseptik.
Dokter bedah dapat melakukan eksisi rektum dengan dua cara, yakni melalui bedah terbuka pada perut (laparotomi) atau dengan laparoskopi. Pada laparoskopi, dokter menggunakan alat operasi khusus dan membuat sayatan yang lebih kecil.
Sementara itu, bedah terbuka melibatkan sayatan yang lebih besar. Prosedur ini dipilih untuk pasien tumor rektum berukuran besar atau telah menyebar ke anus. Dokter kemungkinan juga mengangkat jaringan di sekitar tumor.
Setelah prosedur eksisi rektum selesai, Anda akan menjalani masa pemantauan di rumah sakit. Perawat akan mengawasi tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh Anda dalam jangka waktu tertentu.
Perawat juga memantau asupan cairan dan perubahan warna pada luka bekas operasi untuk melihat apakah ada infeksi. Mereka juga akan mengajarkan Anda cara mengelola nyeri dengan teknik pernapasan dan konsumsi obat-obatan pereda nyeri.
Anda akan mendapatkan asupan cairan dan elektrolit melalui infus sebelum bisa makan kembali, dimulai dari makanan cair dengan menambahkan makanan padat sedikit demi sedikit. Pasien bisanya diperbolehkan pulang setelah 2 – 4 hari.
Eksisi rektum merupakan prosedur pembedahan untuk memperbaiki kerusakan dan mengembalikan fungsi rektum. Jika Anda akan menjalani prosedur ini, berkonsultasilah kepada dokter guna membantu pemulihan dan mengurangi risiko efek samping.
Risiko efek samping dan komplikasi setelah operasi bergantung pada banyak faktor, di antaranya kesehatan pasien secara umum dan seberapa sulit operasi tersebut.
Selama Anda dirawat, dokter dan perawat akan mengawasi efek samping seperti:
Ada pula beberapa komplikasi yang lebih parah, tapi risikonya sangat kecil. Anda pun bisa mencegahnya dengan persiapan yang matang sebelum operasi. Contoh komplikasi yang dimaksud antara lain:
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Stewart, D., & Dietz, D. (2007). Total Mesorectal Excision: What Are We Doing?. Clinics In Colon And Rectal Surgery, 20(3), 190-202. doi: 10.1055/s-2007-984863
Versi Terbaru
06/09/2021
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Nanda Saputri
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)